15.056 Pekerja Terkena PHK dan Dirumahkan

21

BISNIS BANDUNG — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia – PHRI Jawa Barat, Herman Muchtar mengemukakan, dampak dari mewabahnya Covid 19 telah mengubah sikap, perilaku, pergeseran dan pola bisnis. Akibat mewabahnya corona tercatat 15.056 tenaga kerja industri perhotelan  terkena PHK dan dirumahkan.

Pemberlakuan “New Normal”, siap tidak siap harus dihadapi. Di Jawa Barat, Gubernur telah menyatakan, Jabar ada 15 daerah yang sudah siap memberlakukan new normal ditengah mewabahnya covid 19.

“Pemberlakuan new normal, mau tidak mau, industri harus siap karena tuntutan. Dampaknya pasti ada, karena merubah dari kebiasaan lama, kemudian melaksanakan aturan-aturan baru yang pasti berdampak kepada sektor usaha,”  di Bandung, Rabu (3/6/2020)

Diperiode awal pemberlakuan “new normal”, pelaku usaha industri kepariwisataan dan perhotelan yang tergabung kedalam PHRI, akan memberlakukan sejumlah aturan, diantaranya yakni pembatasan okupansi atau tingkat hunian.Tingkat hunian atau angka kunjungan maksimal 50 persen, serta mengaplikasikan protokol kesehatan.

“Karena tuntutan dan kepentingan, yakni menjaga dan menjamin kesehatan/tamu. Pembenahan destinasi, akomodasi sesuai dengan tuntutan kondisi new normal yang berlaku di seluruh dunia. Aturan aturan dari pemerintah terkait pemberlakuan new normal, harus segera disosialisasi kepada owner/pemilik/pelaku usaha dan segenap karyawan dan harus diberikan pelatihan-pelatihan, ” ujarnya.

Dikatakan Herman Muchtar, tingkat okupansi/angka kunjungan/tingkat hunian dimasa new normal tidak akan langsung tumbuh pesat, masih membutuh waktu, karena trauma masyarakat terhadap dampak covid.

Pelaku usaha, untuk mendongkrak angka kunjungan/okupansi/tingkat hunian akan menggulirkan program promosi dan bulan discon, terhitung  tanggal 1 Juli sampai dengan 20 Agustus mendatang, pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asita Jabar, Budijanto Ardiansjah mengutarakan,  “new normal” harus segera dilaksanakan, jika kurva covid 19 udah landai. Karena ekonomi juga harus bergerak. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah mempercepat penanganan covid 19, sehingga masyarakat merasa aman untuk melakukan kegiatan.

“Pelaku industri pariwisata baik travel agent, hotel ataupun lainnya sudah melakukan metode dalam menghadapi kondisi new normal dengan memperhatikan protokol vocid 19. Indikator dengan akan dibukanya secara berkala semua industri pariwisata di bulan Juni atau Juli”

Menurut Budijanto Ardiansjah, dengan diberlakukannya “new normal” maka ekonomi bisa berputar kembali. Pelaku industri perhotelan, pariwisata, biro perjalanan/travel wisata di era new normal, menyiapkan skema pelayanan yang sesuai dengan protokol pencegahan covid 19.

“Kami selaku pelaku usaha yang bergerak disektor industri kepariwisataan berharap kepada pemerintah agar memberikan fasilitas dan mengeluarkan kebijakan yang menunjang industri agar cepat pulih kembali,” pungkasnya kepada BB.  (E-018)***