Dubes Singapura Pelajari Kondisi Ekonomi Jabar

188
Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Koordinator Bidang Keamanan Nasional Singapura Teo Chee Hean (kanan) didampingi Dubes Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar (kiri) berjalan menuju Istana Merdeka saat melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Joko Widodo di Jakarta, Selasa (24/11). Kunjungan tersebut dalam rangka meningkatkan hubungan kerja sama Indonesia dan Singapura. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/kye/15.

BISNIS BANDUNG- Duta Besar Si­ngapura, Anil Kumar Nayar, pekan ini kembali berkunjung ke kantor DPRD Jabar di Jalan Diponegoro Kota Bandung. Ia secara resmi diterima wakil ketua Haris Yuliana dan Abdul Harris Bobihoe serta Ketua Komisi I, Syahrier didampingi Sekretaris DPRD, Daud Achmad.

Dubes Anil berkunjung ke DPRD Jabar untuk yang ketiga kalinya banyak menyo- roti kerjasama antara Pemprov Jabar dan Pemerintah Singapura yang menurut pandangannya perlu terus dikembangkan lagi. Dalam pertemuan itu, ia banyak mempelajari mengenai potensi dan kondisi perekonomian yang tersebar di Jawa Barat.

Dia mendapatkan penjelasan mengenai kondisi Jabar terkini termasuk situasi ekonomi. ”Kondisi perekonomian di Jawa Barat relatif baik, bahkan pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata nasional,” jelas Haris Yuliana.

Menganggapi pertanyaan mengenai isu turunnya daya beli masyarakat, Haris me­ngatakan di Jawa Barat tidak begitu signifikan. Diakuinya, ada yang mengalami penurunan daya beli, namun di sisi lain juga ada yang menunjukkan kenaikan.

Soal prioritas pembangunan di Jawa Barat, sebagaimana yang ditanyakan oleh Dubes Singapura, Bobihoe menjelaskan saat ini prioritas pembangunan di Jawa Barat adalah pembangunan infrastruktur selain tentunya masalah ekonomi dan pendidikan. Kini sedang menggarap pembangunan BIJB di Majalengka yang diharapkan tahun 2018 sudah bisa selesai dan difungsikan.

Namun, kata Haris baru-baru ini DPRD Jabar mendapatkan kabar bahwa pemerintah pusat membatalkan bantuan senilai Rp 350 miliar sebagaimana yang telah dijanjikan. ”Tapi kami akan berusaha supaya pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka itu tidak terganggu penyelesaiannya,” tegasnya.

Provinsi Jawa Barat pun membutuhkan penambahan panjang jalan, termasuk jalan tol, pengaktifan jalur kereta api sehingga diharapkan dengan memadainya sarana infrastruktur perhubungan akan memperlancar arus barang.

Dubes Singapura Anil menyatakan persoalan konektivitas atau keterhubungan perlu mendapat perhatian, termasuk pengembangan sektor pariwisata. ”Pariwisata itu sebenarnya tidak rumit yang penting ada connectivity, ” ucapnya.

Terkait kerjasama investasi dari Singapura yang menjadi perhatian adalah soal regulasi upah minimum.” Itu menjadi masalah penting bagi kami,” tuturnya.

Ketua Komisi I, Syahrier mengatakan guna mempererat hubungan Pemprov Jabar dan pemerintah Singapura perlu adanya kerjasama MoU seperti kerjasama ”Sister City” yang sudah dilakukan dengan beberapa negara bagian di Tiongkok dan Rusia, Jepang, Maroko dan negara lainnya.(B-002)***