Dra. Herni Sri Sugiani, Paham Agama, agar Usaha tidak Salah Arah

194

Dra. Herni Sri Sugiani, kelahiran Ciamis 8 September 1968. Selain sebagai pengusaha kuliner, ia juga menjabat Ketua Kampung UKM Digital dan Ketua Paguyuban Regional Komunitas BD BEST, di samping kegiatannya sebagai pendakwah.

Istri dari Iman Sakiman Riyadi (53) ini, sebelum membuka usaha sendiri, ia sempat membuka toko dan menjadi reseller produk orang lain. Sekitar bulan Maret 2010, Dra. Herni mulai mencoba memproduksi keripik di daerah Arjasari-Banjaran Kab.Bandung. Karena satu dan lain hal, usaha tersebut dihentikan, dan Herni memutuskan fokus mengajar. ”Sekitar tahun 2015 anak saya mempunyai ide untuk produksi makanan lagi.

Maka mulailah kami membuat produk olahan makanan untuk sarapan pagi, yakni Misagi (mie sarapan pagi) dan pepes nasi, ” tutur Herni. Kemudian Herni juga mencoba bikin olahan makanan setengah jadi, yaitu ayam organik ungkeb. Tetapi usaha inipun lagi-lagi tidak bisa berlanjut, karena pasokan ayam organik sangat susah.

”Masih pada tahun 2015, atas ide anak saya, kami mulai memproduksi kerupuk serundeng dan kacang bumbu rempah (yang biasa kami produksi di saat Lebaran). Hingga kini, kami masih memproduksi kacang bumbu rempah, ” tutur Herni tentang liku-liku perjalanan usahanya kepada BB akhir pekan lalu di Bandung. Modal awal usahanya berasal dari sang suami dan juga dari bantuan saudaranya, yakni sekitar Rp 10 juta.

Produknya kini juga telah mengantongi izin usaha, yakni PIRT 2153204011026-22 serta sertifikat Halal (LPPOM MUI): 01101156782015. Omset usahanya perbulan mencapai Rp 8 juta – 10 juta. Kacang bumbu rempah buatannya, diproduksi di Kelurahan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Mengenai karyawan, Herni mengaku, tidak harus memiliki keahlian khusus, siapa pun bisa, karena kami akan latih dulu. Tapi karyawan yang mengendalikan manajemen hingga kini belum kami miliki.

Semula Herni hanya menargetkan pemasaran sebatas di wilayah Kota Bandung, dengan asumsi, daya beli dan segmentasi pasar untuk konsumen di tingkat middle up, sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Untuk produk kacang bumbu rempah, banyak dipasarkan melalui koperasi, saat ini sudah ada sekitar 65 koperasi karyawan hotel, bank, BUMN dan kantor pemerintahan wilayah Bandung serta Cimahi, yang menjadi tempat pemasarannya.

Bahkan kacang bumbu rempah pemasarannya juga menembus wilayah Tangerang, Bogor, Jakarta, Bali, Bangka Belitung, Medan, Sulawesi, Yogya hingga Kalimantan. Di kota Bandung, kacang bumbu rempah dijual di dua pasar modern, yakni Transmart dan Carefour.
Produknya ini dijual mulai di harga Rp 2000, Rp 15.000, Rp 30.000, Rp45.000 dan Rp 90.000, tergantung pada isi kemasan, serta bisa juga dipesan sesuai keinginan. Ibu dari Alifa Adnidannisa Insani (22) dan Aufa Annadhifa Insani (18) ini mengklaim bahwa, produk kuliner buatannya bisa bertahan sampai 5 bulan.

Pengalaman awal dalam memasarkan produknya ini, dimulai dari pintu ke pintu koperasi, dari satu koperasi ke koperasi lain, dari satu penolakan ke penolakan lain. Berdua dengan Abah (suaminya), Herni memasarkan produk buatannya. Hingga akhirnya, ia mulai memahami tentang ritme pemasaran, dan mampu menjalankan usahanya sampai sekarang.

Meracik bumbu, menjadi suatu pengalaman tersendiri bagi Herni. Bumbu racikan yang gagal akhirnya harus dibuang, sampai akhirnya Herni menemukan standar ukuran khusus untuk resepnya. ”Insya Allah kami akan fokus usaha dalam bidang ini, sambil terus mencari ilmu dan peluang usaha. Tidak sekedar bisnis dunia, tetapi menjadi hamba Allah yang taat, paham ilmu agama, agar bisnis tidak salah arah,” ujar Herni.

Herni juga mengakui bahwa, dunia kuliner, khususnya di Bandung, semakin berkembang, terlihat dari segala jenis kuliner ada di Bandung. Oleh karena itulah, Herni semakin termotivasi, untuk menciptakan produk yang berkualitas, dan memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan produk sejenis pada umumnya.

”Mengenai dukungan pemerintah dan swasta, sejauh ini baru sebatas pada pelatihan-pelatihan, dan belum dalam bentuk bantuan peralatan maupun permodalan yang murni tanpa riba,” tutur Herni, seraya menambahkan bahwa, bantuan permodalan sangatlah dibutuhkan, di samping memberi ruang pemasaran yang strategis di tempat-tempat bisnis. Hal ini untuk membantu UKM, agar dengan mudah bisa turut berjualan di pasar modern. (E-018)***