Pergelaran ”Ada Nur di Bumi Latemmamala”, Ilustrasi Membangun Kembali Kejayaan Kain Sutera di Kabupaten Soppeng

242

Bertempat di Aula STIE Ekuitas Bandung, Sabtu 14 Oktober 2017 digelar pementasan Ada Nur Di Latemmamala karya Mutti. Pentas teater ini merupakan visualisasi teatrikal dari novel karya Mutti.

Keunikan dari pentas teater ini adalah adanya dua perpaduan budaya Sunda dan Bugis. Dari sisi topografi, Sunda dan Bugis terutama wilayah Sopeng sebagai latar no­vel ada kemiripan, berada di wilayah pe­dalaman dan pegunungan dengan kekentalan budaya agraris.

Pementasan dibuka dengan prosesi seremonial berupa pemberian sambutan dari pihak yang turut membantu terlaksananya pementasan ini.

Pentas visualisasi teatrikal Ada Nur Di Latemmamala berlangsung selama 1 jam 30 menit . Sebelum pementasan diawali oleh tarian Pattenung dari sanggar We Atti Maruddani persembahan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng.

Benang merah dari cerita novel ini adalah keteguhan seorang perempuan dalam mengangkat kembali kearifan lokal daerahnya dalam hal keuletannya membangun kembali kejayaan kain sutera sebagai ciri khas Kabupaten Soppeng yang sejak lama terkenal sebagai penghasil kain sutera.

Novel ini berusaha mengangkat sisi lain dari kebangkitan Soppeng sebagai penghasil kain sutera, melalui tokoh utamanya yaitu seorang perempuan tangguh.

Dengan segala cara dia berhasil meyakinkan berbagai pihak bahwa kejayaan kain sutera bukan hanya retorika masa lalu saja. Namun lebih jauh kejayaan kain sutera ini bisa diraih kembali oleh Soppeng,asalkan semua pihak bersungguh sungguh mewujudkannya. Pementasan teater ini diharapkan menjadi penyemangat untuk bangkitnya kembali industri tenun di daerah ini.

Antusias penonton dalam menyaksikan pementasan teater sangat terasa, Aula STIE Ekuitas sejak sore sudah penuh sesak oleh penonton.Ketika pementasan dimulai selepas isya penonton tidak beranjak dari tempat duduknya,mereka berdecak kagum melihat adegan demi adegan yang dipentaskan.

Visualisasi teatrikal merupakan bentuk lain dari komunikasi antara seorang penulis novel dengan kalangan pembacanya.

Interaksi secara langsung ini bisa dikatakan lebih mengena dari sisi tema yang ingin disampaikan oleh penulis kepada khalayak.

Melalui pementasan di Kota Bandung sebagai kota seni budaya, membuktikan bahwa kreativitas tidak akan mati,selama orang – orang kreatif diberi ruang untuk berkarya. (E-001) ***