Arry Hutomo Mustika Djaya Krishna Seno Putranto, Mencintai Apa yang Kamu Kerjakan dan Mengerjakan Hal yang Kamu Cintai

76

Arry Hutomo Mustika Djaya Krishna Seno Putranto, lahir diSukabumi pada tanggal 01 Agustus 1978 silam. Anak dari pasangan Noor Soeseno Chandra (65) dan Nina Yuminar Yoesoef (63) ini, merupakan salah satu akademisi muda berprestasi. Sejumlah penghargaan / prestasi tingkat Nasional dan Internasional pernah diraihnya.

Suami dari Eva Pusparani (36) ini, me­nempuh jenjang pendidikan S-1 Fisika di ITB, S-2 Manajemen Teknik Industri di ITB dan S-3 Ph.D Management di International University Malaya Wales, dan Ph.D Summer Course di MIT Sloan Management, USA. July 2017.
Kiprah profesionalnya dimulai setelah Arry menyelesaikan kuliah S-1. Sebelum menjadi akademisi, ia bekerja di Schlumberger Technologies (Project Officer Internship) pada tahun 2002-2004. Kemudian ia bekerja di PT Indovickers Furnitama (HR and Operation Manager) pada tahun 2004-2008, dan dari tahun 2008-2012 ia bekerja di PT Bumi Mulia Indah Lestari (HR and Operation Manager). Kini Arry Hutomo menjadi akademisi di Widyatama University, Widyatama Foundation, serta Vice Director UMS sejak tahun 2015-sekarang.

Setelah 9 tahun berkiprah di dunia industri dan manufaktur, serta bidang operasional dan trainer di perusahaan multinasional maupun nasional, Arry terdorong untuk mencoba masuk di bidang akademis pada tahun 2012. “Almarhumah kembaran saya pernah mengutarakan bahwa, jika kamu mengajarkan yang baik kepada orang, maka pahala yang langsung kamu terima dari Allah adalah, kamu tidak akan lupa ilmu tersebut. Alhamdulillah, semua itu terbukti, selama saya menekuni ilmu dan sharing apa yang saya miliki kepada orang lain.

Ini alasan saya me­ngapa selama ini saya menjadi trainer di perusahaan. Semua ini juga diperkuat oleh pengalaman saya, serta ditopang oleh teori dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Hampir semua bidang yang saya geluti, sesuai dengan minat dan ilmu yang saya pelajari. Orang tua saya mendidik saya agar bisa menjadi manusia dengan perumpamaan ”kopasus” yang artinya, saya harus bisa beradaptasi di manapun saya ditempatkan. Kebetulan bapak saya termasuk orang yang sangat concern terhadap bidang keilmuan dan perubahan iklim ekonomi,” demikian Arry menjelaskan.

Disiplin ilmu yang ditekuni oleh Arry Hutomo Mustika Djaya Krishna Seno Putranto adalah Supply Chain Management, Green Sustainability dan Economy Engineering. Ia tertarik dengan spesialisasi keilmuan ini, karena Sustainability, Green Environment dan Supply Chain menjadi isu yang menarik dan tidak habis dibahas, serta termasuk sebagai permasalahan yang juga dialami di Indonesia. Hal ini bisa menjadi keniscayaan dalam dunia korporasi, dan dianggap sebagai dasar bagi korporasi yang bersangkutan untuk maju dan berkembang, dengan berpegang pada tiga pilar dasar (triple bottom line), yaitu, keberlanjutan dalam aspek lingkungan (Planet), keberlanjutan dalam aspek sosial (People), dan keberlanjutan dalam aspek keuangan (Profit).

Dikatakan pula oleh Arry, meskipun ia baru 5 tahun menggeluti profesi akademis, tetapi mengajar baginya tidak hanya untuk mendapat keuntungan materi, melainkan juga kepuasan. Kepuasan akan dirasakan ketika orang lain berhasil menerima kebaikan yang diberikan, dan melihat mahasiswa yang dibimbingnya bisa berkembang kemampuannya ke arah yang lebih positif.

“Saat ini, yang saya pikirkan adalah bersyukur kepada Allah, bahwa saya telah menemukan passion. ‘Love what you do, do what you love ‘, kalimat itu tepat menggambarkan apa yang dirasakan ketika mengajar. Mencintai apa yang kamu kerjakan dan mengerjakan hal yang kamu cintai, dua kalimat ini erat hubungannya satu sama lain. Tak semua orang bisa mencintai pekerjaannya,” tutur Arry.

Dampak positif yang dialami selama menjadi akademisi adalah, membuat hidup kita harus semakin menjaga etika, tata krama dan kedisiplinan. Dampak positif kedua adalah, kualitas keilmuan kita semakin meningkat, dan semua ini sangat menunjang bagi karir seorang trainner atau konsultan dalam dunia perusahaan.

“Dalam menggapai mimpi atau meraih kesukesan pun banyak pengorbanan yang harus saya lakukan. Kesuksesan ternyata bukan hal yang gratis, ada hal yang harus dilakukan untuk mendapatkannya, yaitu pengorbanan. Bukan hal yang sulit sebenarnya, tetapi membutuhkan komitmen serta disiplin yang tinggi untuk melaksanakannya. Kesuksesan adalah sebuah proses. Sayangnya, banyak orang yang ingin menggapai kesuksesan, namun tidak mau menjalani proses yang ada. Kehidupan modern yang serba instan, terkadang membuat kita lupa bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Mana mungkin saya dapat menikmati hasil panen, bila kita tidak berkorban untuk menanam bijinya, kemudian memupuk, menyiram serta merawatnya, supaya biji tersebut dapat tumbuh menjadi pohon dan berbuah lebat.

Proses untuk menjadi sukses adalah pengorbanan yang harus kita lakukan. Bagi saya, pengalaman negatif adalah hanya berupa pengorbanan, untuk kita bisa menjadi lebih baik di setiap waktunya,” ungkap pe­nganut moto hidup ‘Jangan pernah meremehkan hal yang kecil, sebab hal yang kecil membuahkan kesempurnaan, dan kesempurnaan bukan hal yang kecil’ itu kepada BB.

Ayah dari Alishadena Chandrani Noor Riva Hutomo (11) dan Alzaheera Chairunissa Noor Rahim Hutomo (5) ini, meskipun baru seumur jagung menggeluti profesi sebagai akademisi, namun ia telah meraih beragam penghargaan dan prestasi. Untuk publikasi, ia telah meraih 2 kali ”Best Paper Awards” di acara Conference international yaitu ICBM 2016 (National Taipei University) dan EMS 2015 (Malaysia).

Kemudian, Arry Hutomo juga mendapatkan Hibah PP-PTS DIKTI 2015 dan pendanaan Hibah Bantuan Persiapan Akreditasi (Belmawa Dikti 2015) karena partisipasinya dalam pengembangan institusi di Universitas Widyatama. 2 Jurnal telah dipublikasikan (OAJ)-EMS, dan menyusul akan dipublikasikan juga 2 Jurnal Scopus dengan index Q1. Salah satunya adalah yang telah dipaparkan di MIT Sloan Management, ketika ia sedang mengikuti kegiatan Summer Course di Massachussets Institute of Technology USA pada bulan July 2017. Satu bukunya saat ini sedang dalam tahap review oleh Nova Science Publishing, terkait bidang keilmuannya dalam hal pengemba­ngan model Green Supply Chain Management Practices.

Target jangka pendeknya saat ini adalah, lulus Ph.D di akhir tahun 2018. Sedangkan target jangka menengah, Arry akan membangun kolaborasi riset minimal 3 tahun dengan Universitas di Luar Negeri. Target jangka panjangnya, secara pribadi, Arry ingin membantu institusi dalam mencapai World Class University.

“Secara terukur, suatu saat nanti saya ingin memiliki Foundation yang bisa membantu pendanaan bagi para peneliti dalam mengembangan penelitian di tanah air. Selain itu, saya bersama rekan Forum Supply Chain Indonesia, akan membantu proses mata rantai pasok dingin untuk model logistik transportasi perikanan di Jawa Barat, termasuk dalam merancang efektivitas penggunaan Dryport Cikarang,” ungkapnya.

Saat ini, Arry Hutomo aktif di organisasi World Bank-Sasana Kijang Malaysia, sebagai Research Coordinator-Indonesian Chapter. Kemudian, ia juga aktif di System Dinamics, USA, sebagai Anggota Peneliti Riset Sistem Dinamik, dan berkiprah di Forum Supply Chain Indonesia sebagai Koordinator Tim Riset.

“Kata kunci dalam membagi waktu adalah, prioritaskan hal yang dianggap Important, tapi bukan Urgent. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas diri dalam menghadapi persaingan dengan sesama akademisi, saya senantiasa berusaha bersikap positif, dengan meningkatkan keterampilan, juga meningkatkan kapabilitas dan kapasitas, agar saya selalu bisa bekerja di atas deskripsi dan bersinergi,” pungkas penggemar warna orange itu kepada BB. (E-018)***