Ayuningtyas Yuli Hapsari, S.IP.,MM., Ikuti Kata Hati dan Lakukan yang Terbaik

287

Ayuningtyas Yuli Hapsari, S.IP.,MM., kelahiran Bandung 2 Juli 1982, dan anak dari pasangan Syam Susilo (64) serta Utari (60) ini, selain menggeluti profesi sebagai akademisi, ia juga menekuni usaha di bidang wedding organizer. Ayu tercatat sebagai anggota ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), dan Widyatama Student Ambassador (WSA).

Istri dari Dr. Tezza Adriansyah Anwar, MM. (37) ini, mulai tertarik menggeluti usaha sebagai penyelanggara pesta pernikahan dari pengalamannya sendiri, yakni ketika pesta pernikahannya yang diadakan pada tahun 2007. Ketika itu tercetus keinginannya untuk membantu menciptakan mimpi dari calon pengantin, dan konsep pernikahan yang diinginkan oleh calon pengantin. Projek pertamanya, adalah ketika membantu pernikahan temannya pada tahun 2010, yang pada akhirnya, temannya ini menjadi partner kerjanya di Artez Wedding Planner.

“Sebetulnya Artez Wedding Planner itu adalah usaha saya, suami dan partner saya. Kami bertiga berprofesi sebagai dosen. Namun karena suami memiliki kesibukan di kampus sebagai Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen, maka akhirnya hanya saya dan partner yang mengelola Artez. Tugas saya lebih ke bagian operasionalnya,” cerita Ayu, mengenai awal ketertarikannya pada usaha wedding organizer ”Saya biasanya menyeleksi sendiri kru yang akan bergabung dengan Artez. Sedangkan untuk vendor, kami tidak ada mitra khusus (kontrak eksklusif), karena biasanya semua itu tergantung permintaan klien.

Walau ada pula vendor yang kami bisa rekomendasikan, terutama vendor yang sudah berpengalaman, jujur dan memiliki track record yang baik. Karena taruhannya adalah nama baik Artez Wedding Planner,“ tutur Ayu kepada BB, Minggu (05/11/17) di Bandung. Artez Wedding Planner dipercaya menghandle pernikahan klien dari berbagai kalangan, mulai dari selebritis, pengusaha, hingga kalangan profesional. Bekerja sama dengan berbagai karakter dan sifat orang, diakui Ayu, berdampak pada kita untuk bisa lebih mengenal karakter orang lain, dan ini adalah pengalaman yang tidak bisa kita dapatkan dari sekolah .Mengenai omset per-bulan, menurut Ayu, tidak dapat diprediksi, karena ada kalanya dalam beberapa bulan tertentu kebanjiran order, yang omsetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Artez Wedding Planner ditujukan bagi segmen menengah ke atas. Harga jasa yang ditawarkan, sedikit lebih mahal dibandingkan dengan beberapa WO lain di Bandung, namun hal ini sesuai dengan kualitas Ayuningtyas Yuli Hapsari, S.IP.,MM., kelahiran Bandung 2 Juli 1982, dan anak dari pasa­ngan Syam Susilo (64) serta Utari (60) ini, selain menggeluti profesi sebagai akademisi, ia juga menekuni usaha di bidang wedding organizer. Ayu tercatat sebagai anggota ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), dan Widyatama Student Ambassador (WSA).pelayanan yang diberikan kepada klien. ”Intinya, ‘ada harga ada kualitas’. Artez juga menawarkan second line, yaitu ‘Fannasya by Artez’, yang ditawarkan bagi kalangan menengah ke bawah,” ucap Ayu.

Ayuningtyas Yuli Hapsari juga mengemukakan bahwa, saat ini masyarakat Indonesia, khususnya Kota Bandung, sudah mulai mengenal dan mempercayakan sepenuhnya pesta pernikahannya kepada Wedding Organizer. Hal ini biasanya disebabkan oleh kesibukan, hubungan jarak jauh (LDR), dan keluarga/saudara yang tinggalnya saling berjauhan. Dikatakan juga oleh Ayu, di sisi lain, dengan banyaknya WO yang bermunculan dan mematok harga jauh di bawah harga pasaran, mengakibatkan jasa yang dihasilkan mempunyai kualitas yang kurang bagus.

Hal ini akan berdampak lewat menurunnya image WO di mata masyarakat. Ibu dari Yuzza Pramudya Anwar (10) dan Annasya Azkadina Tezza (5) ini, menargetkan sejumlah program, terkait bidang usahanya dan sebagai akademisi. Ia ingin memiliki cabang di luar kota Bandung beserta vendor-vendornya, bahkan bisa mencapai ‘go internasional’. Ayuningtyas Yuli Hapsari juga berprofesi sebagai akademisi di Universitas Widyatama Bandung untuk bidang pemasaran.

“Sebetulnya, sebelum menjadi dosen, saya sudah menekuni bidang usaha WO. Ketika saya menjadi praktisi dengan jam kerja yang padat, saya menga- lami kesulitan dalam membagi waktu dengan keluarga, walaupun di sisi lain, saya menda­patkan keuntungan secara materi. Saya merasa passion saya bukan di situ. Akan tetapi semua itu saya lakukan, hanya untuk membuktikan kepada orang tua yang telah menyekolahkan saya, karena kedua orang tua saya bukanlah orang bisnis. Pilihan menjadi karyawati ketika itu memang merupakan pilihan kerja yang paling aman. Kemudian suami menyarankan agar saya melamar kerja ke Universitas Widyatama.

Ayah saya adalah juga seorang akademisi, sehingga saya banyak mendapatkan masukan dari beliau. Akhirnya saya memilih pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, dan mempunyai jam kerja yang fleksibel. Di luar itu jam kerja, saya diperbolehkan untuk memiliki kegiatan lain, namun harus tetap bisa membagi waktu untuk keluarga,” demikian cerita Ayu kepada BB. Ditambahkannya pula, antara profesi sebagai akademisi dan pengusaha, dua-duanya tetap menjadi prioritas. Ayuningtyas Yuli Hapsari mengaku, ia selalu berusaha keduanya bisa berjalan seimbang, dan semua itu sangat bergantung kepada time management.

“Semua pengalaman hidup yang didapat adalah positif, walaupun sering ditempa oleh permasalahan, namun semua itu justru membuat kita semakin banyak belajar. Pengalaman negatif justru akan membuat kita semakin positif dalam bertindak dan positif dalam mengambil keputusan. Intinya, ikuti kata hati dan lakukan yang terbaik. Kalau boleh memilih, saya tetap ingin memilih keduanya, karena dua bidang tersebut sangat berkaitan. Ilmu yang didapat dari sekolah/universitas tidak akan jadi apa-apa, bila tidak diaplikasikan di dunia nyata (praktisi). Begitu juga sebaliknya, semua pekerjaan yang kita lakukan, dalam prakteknya akan kembali pada dasar teorinya, karena semua itu ada ilmunya, ada fondasinya, yang memang hanya ada di sekolah / universitas.

Sehebat apapun bisnis yang kita jalani, bila kita tidak pandai mengelolanya, maka bisnis tersebut lama kelamaan akan redup. Dengan mengajar, saya bisa sharing kepada mahasiswa, tentang bagaimana dunia bisnis di luar sana, dan bagaimana mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia bisnis setelah mereka lulus nanti. Target saya di bidang akademis adalah menjadi Guru Besar, sehingga ilmu yang didapat sebagai praktisi maupun akademisi, dapat bermanfaat untuk jangka panjang,” pungkas Ayuningtyas Yuli Hapsari kepada BB.(E-018)***