Perkebunan Teh Panyairan, Jadi Lokasi Agrowisata di Cianjur Selatan

1030

Menilik berbagai literatur sejarah tanaman teh di Indonesia . Tanaman ini dibawa oleh orang Eropa dan dikembangkan sebagai tanaman komoditas pada masa penjajahan kolonial Belanda. Waktu itu , perkebunan teh di Indonesia banyak dibuka pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, zaman Gubernur Jenderal Van De Bosch (1830-1870) sebagai bagian dari politik tanam paksa.

Keberadaan perkebunan teh di Indonesia sejak masa kolonial hingga saat ini memiliki kontribusi begitu besar bagi devisa negara. Saat ini Indonesia menjadi produsen teh ke-6 di dunia dan menghasilkan produk teh sekira 143.000 ton/tahun. Dari jumlah tersebut 65 % teh Indonesia diekspor ke wilayah Asia , Eropa, Amerika dan Afrika.

Dalam perkembangan zaman, perkebunan teh dikembangkan menjadi salah satu obyek wisata. Selain fungsi utamanya sebagai komoditas perdagangan, dikembangkan pula konsep menjual nilai tambah dari agrowisata. Agrowisata (agrotourism) berwisata ke daerah pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat, perkebunan, peternakan dan perikanan .
Agrowisata merupakan rangkaian kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai obyek wisata, baik potensi pemandangan alam, kawasan pertanian dan keanekaragaman aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya masyarakat petani. Agrowisata kini menjadi salah satu bentuk ekonomi kreatif di sektor pertanian yang dapat memberikan nilai tambah bagi usaha agribisnis.

Salah satu agrowisata kebun teh di Jawa Barat dikembangkan di kawasan perkebunan teh Panyairan,kebun teh ini terletak di dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Campaka dan Sukanagara Kabupaten Cianjur. Dari pusat kota Cianjur, berjarak sejauh 40 kilometer ke arah selatan dengan aksebilitas jalan cukup baik.

Kebun Panyairan awalnya merupakan perluasan kebun teh Pasir Nangka yang tanggal 1 Januari 1978 diresmikan oleh Menteri Pertanian RI dengan merek dagang “Leuwi Manggu” disingkat menjadi “LEM” yang mengolah teh jenis Ortodok.

Kemudian pada Tahun 1987 proses pengolahan teh berubah dari jenis teh ortodok menjadi teh jenis CTC dengan berganti nama menjadi “Kondang” , disingkat “DAN” sampai sekarang. Areal tanaman teh Kebun Panyairan terdiri atas empat afdeling, yakni Afdeling Panyairan I seluas 313.00 ha dan Panyairan II seluas 278,23 ha terletak di Kecamatan Campaka , sedangkan dua Afdeling lainnya , Panyairan III seluas 205,06 ha dan Panyairan IV seluas 246,80 ha terletak di Kecamatan Sukanagara yang berjarak 12 km dari lokasi pabrik.

Para pelancong yang datang ke kawasan ini akan disuguhi panorama alam hamparan teh menghijau sejauh mata memandang. Selain itu bentang alam berupa perbukitan sangat cocok untuk para pelancong yang senang dengan olahraga berjalan jalan di antara tanaman teh serta merasakan kesegaran udaranya.

Fasilitas pendukung wisata cukup lengkap,sarana parkir,sarana ibadah hingga penjual makanan dan minuman bisa ditemukan de­ngan mudah.Para pengunjung biasa ramai pada akhir pekan. (E-001)***