Eris Munandar, Ilmu Penyiaran Diperolehnya Secara Otodidak

153

Selain sebagai Ketua Umum ATSDI (Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia), Eris Munandar juga menjabat sebagai Komisaris Inspira TV Group, Founder Kreavisi Group, Komisaris PT. Kelas Visi Indonesia, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Sangga Buana YPKP Bandung, serta menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Kelas Cerdas Indonesia.Suami dari Fatimah ini, mulai menggeluti profesi di bidang informasi/tekhnologi/televisi, karena ia senang dan menyukai dunia entertainment. Dimulai ketika Eris berprofesi sebagai penyiar radio di Daarut Tauhid, kemudian ia berkiprah di dunia Event Management, dan pada tahun 1995 Eris Munandar mendirikan stasiun TV lokal. Dari sinilah kecintaannya terhadap dunia informasi semakin besar, walaupun tidak berkaitan dengan background pendidikannya.

“Dulu, saat kuliah saya mengambil jurusan manajemen, dan ilmu yang didapatkan selama kuliah, bisa bermanfaat ketika harus me-manage sebuah perusahaan. Profesi yang digeluti saat ini, sama sekali tidak ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan saya maupun keluarga. Setelah lulus kuliah, saya mencoba berbagai usaha, sampai akhirnya menemukan passion-nya di dunia media,” cerita Eris mengenai awal kariernya. Kemampuan/pengetahuan tentang profesi yang digeluti Eris saat ini, diperolehnya secara otodidak, yakni dengan belajar langsung dari para praktisi dan pengusaha media, serta mengikuti berbagai seminar tentang media.

Ayah dari Zahra Fauziyah Rahmah dan Rijalulhaq Chairul Rahman ini, menggeluti profesi/usaha di bidang informasi dan teknologi pertelevisian sejak tahun 2000. Hingga sekarang, kurang lebih sudah 17 tahun Eris menjalani profesinya. Saat ini, jumlah tenaga kerja di perusahaannya mencapai lebih dari 100 orang. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua ATSDI, Eris Munandar terus mendorong percepatan revisi UU Penyiaran yang harus selesai pada tahun ini .

Negara-negara seperti USA, Eropa Barat, Jepang dan Korea, sudah berimplementasi pada TV Digital sejak tahun 2009/2010, dengan men-switch off TV Analog. Sedangkan di Indonesia, rencananya, TV analog akan ”switch off” baru pada tahun 2020. Dasar pertimbangan dan dasar hukum bahwa TV Analog harus beralih ke TV Digital adalah, dari kesepakatan Internasional Telecommunication Union (ITU). Sedangkan keuntungan dari diterapkannya TV Digital ini tentunya adalah, kualitas penyiaran dan penerimaan yang jauh lebih baik dari tv analog.

”Pemerintah menargetkan peralihan TV Analog ke TV Digital baru pada tahun 2020. Penyebab dari terus mundurnya revisi UU Penyiaran adalah, karena hampir 10 tahun lebih, draft revisi UU Penyiaran ini masih diproses dan berada di DPR RI,” ungkap Eris baru-baru ini di Bandung.
Di Indonesia saat ini, lebih dari 20 LPS sudah mengantongi IPP TV Digital. Bahkan di kota Bandung, sebagian besar sudah mengikuti proses uji coba siaran sejak 1,5 tahun ini.

Dikemukakan pula oleh Eris Munandar, digitalisasi ini adalah sebuah keniscayaan, sehingga industri media TV harus mempersiapkannya. Frekuensi yang saat ini digunakan oleh TV Analog akan dialihkan dan dimanfaatkan untuk penguatan jaringan internet serta pendidikan .
Eris juga mengatakan, pemerintah juga berkewajiban untuk terus melakukan upaya percepatan proses peralihan ini. Proses penyiaran TV Digital, akan menciptakan lebih banyak pilihan program siaran, de­ngan biaya promosi yang terjangkau, misalnya oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Jumlah UMKM dan UKM saat ini, mencapai sekitar 98% dari jumlah seluruh pengusaha Indonesia, dan dengan kehadiran TV Digital, akan lebih banyak kesempatan untuk mempro-mosikan sumber daya serta produk-produknya, yang tidak diperoleh sebelumnya. Implementasi TV Digital dapat mempercepat penyebaran informasi teknologi, pendanaan, skill tenaga kerja, pemasaran, dan hal lainnya secara dua arah, baik kepada masyarakat, maupun dari masyarakat, untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dari daerah maupun desa. (E-018)***