Ekspor Kayu Gelondongan Kemunduran Hilirisasi

158

KAYU dari Indonesia memiliki kualitas dan jenis yang sangat baik. Karena itu sangat banyak industri pengolahan kayu di luar negeri yang bersedia membeli  kayu Indonesia dengan harga cukup tinggi. Berkaitan dengan pasar yang menggiurkan itu, timbul wacana, Indonesia akan kembali mengekspor kayu bulat atau gelondongan seperti yang pernah dilakukan masa lalu. Diprediksi, Indonesia akan menjadi pengekspor kayu bulat utama di dunia. Negara-negara penghasil kayu dipastikan akan kalah bersaing dengan Indonesia. Soalnya, Indonesia memiliki berbagai jenis kayu berkualitis tinggi,baik sebagai bahan baku industri mebel maupun industri perkayuan lainnya.

Nilai ekspor Inonesia akan bergerak sangat cepat karena harga kayu akan terus naik. Makin sempitnya lahan hutan produksi, terdesak tanaman sawit dan holtikultura bernilai ekonomi tinggi, ketersediaan kayu bulat semakin berkurang. Kayu jati yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun di daerah Jatim dan Jateng, sudah hampir habis ditebang. Jenis kayu lainnya dari hutan Kalimantan dan Sumatera, kini semakin berkurang. Pembangunan rumah, mebel, dan produk lain yang berbahan baku kayu, semakin menurun. Karena kayu msemakin langka, para pembuat rumah sudah lebih banyak yang menggunakan baja ringan atau alumunium. Industri mebel sudah lama mengurangi produk berbahan kayu jati. Jenis kayu yang dulu lebih banyak dignakan sebagai kayubakar, seperti randu, albiso, karet, waru, jengkol, dan sejenisnya, kini sudah biasa digunakan sebagai bahan pembuatan mebel, tiang, kusen, dan sebagainya.

Beberapa dekade lalu, bahkan secara tradisional, Indonesia permah menjadi pengekspor kayu gelondongan (log). Kayu dari Kalimantan seperti ulin, borneo, mkeranti, dan lain-lain, berkapal-kapal dikirim ke luar negeri. Berbagai jenis kayu  yang laku keras di pasar global, menjadi incaran para eksportir. Saat itu, permukaan Sungai Barito dan Kapuas penuh kayu gelondongan yang sedang antre masuk  kapal pengakut di pelabuhan-pelabuhan ekspor. Akibatnya, semua jenis kayu di semua hutan di Indonesia nyaris habis, dibabat orang, baik legal maupun ilegal. Pembabatan hutan illegal yang dikenal dengan istilah illegal loging menjadi isu  nasional.

Pemerintah baru engeuh ketika lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan badan dunia melihat, hutan di sepanjang garis katulistiwa benar-benar gundul. Kita tahu, hutan tropis itu merupakan paru-paru dunia. Karena penggundulan hutan itulah, banyak barang berbahan kayu dari Indonesia ”diboikot” tidak boleh masuk pasar global. Pemerintah segera membatasi ekspor kayu bulat, termasuk bahan baku lain seperti rotan. Namun Indonesia mengalami kesulitan luar biasa ketika punya niat menghutankan kembali daerah-daerah yang tadinya berupa hutan konservasi.Penanaman kelapa sawit jauh lebih menguntungkan dari segi waktu tanam dan manfaat langsungnya.