Uha Juhari Pelopor Reklamasi Bekas Galian Berharap Penambangan Pasir Dihentikan

264

Menghijaukan kembali lahan yang rusak akibat penambangan pasir di daerah Cimalaka Sumedang ,bukanlah perkara mudah . Selain berbahaya dengan kondisi lahan bekas galian, juga memunculkan kekhawatiran terjadi longsor pada tebing bekas galian.

Namun tidak demikian bagi Uha, pria kelahiran Dusun Golempang, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, 20 Maret 1946 . Pada usianya yang sudah tidak muda lagi , ia melakukan penghijauan pada bekas penambangan pasir.

Berkat keuletannya, pemilik nama lengkap Uha Juhari, petani sekaligus peternak kambing etawa di kawasan kaki Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang ini mampu menyulap puluhan hektare lahan kritis yang rusak kembali menghijau dan menjadi lahan yang produktif.
Selain itu, berkat perjuangan dan kerja kerasnya mereklamasi lahan bekas galian pasir di kaki Gunung Tampomas Uha menjadi dikenal sebagai tokoh lingkungan hidup. Berbagai prestasi pernah diterimanya, mulai penghargaan dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.
Sekarang, di usianya yang ke 70 ini, Wa Uha (panggilan akrabnya), tetap semangat berkebun dan mengurus kambing etawa miliknya di kaki Gunung Tampomas, tepatnya di Blok Ciseureuh Cimalaka Sumedang .

Ketika wartawan BB serta rekan media lainnya berkunjung ke kediamannya, di Dusun Cibeureum RT 02/02, Desa Cibeureum, Kecamatan Cimalaka, istri Wa Uha, Aah ( 60) me­ngatakan suaminya sudah berangkat ke kebun sejak pagi hari.

” Nuju di saung, di kebon caket galian. Mangga wae kaditu, taroskeun we da warga di ditu oge, pasti tarerangeun,” ujar Aah, Selasa pagi (05/12/17) dalam bahasa Sunda.
Saat ditemui di kebunnya, Wa Uha tampak sedang memberikan pakan untuk puluhan kambing etawa di kandangnya yang dibangun di sekitar lahan perkebunan buah naga miliknya.

”Hayu urang ka saung, ngobrolna urang di saung, meh raos tiis,” ucap Wa Uha. Tak lama, Wa Uha pun mulai bercerita se­putar aktivitasnya mereklamasi lahan bekas galian di kaki Gunung Tampomas . Mereklamasi lahan kritis bekas galian pasir dimulainya sejak tahun 1985. Pada saat itu, lahan bekas galian pasir belum seluas seperti saat ini karena penambangan pasir masih dilakukan secara manual,belum menggunakan alat berat mo­dern.

Dampaknya, kata Wa Uha, bekas galian pasir ini menyebabkan lahan yang tadinya areal perkebunan dan pertanian yang subur, seketika berubah menjadi lahan kritis yang gersang dan hanya menyisakan bebatuan,din­ding tanah terjal dan menjadi kolam dadakan jika pada musim penghujan . Otomatis dengan kondisi seperti itu, para petani kehilangan lahan garapannya.

“Waktu itu, para petani di sini banyak yang ngeluh karena kehilangan lahan garapan. Yang berkebun tomat hilang ladang tomatnya. Termasuk yang berkebun cabai dan menanam padi ,” tutur Wa Uha.

Dibekali keprihatinan dan tekad yang kuat serta berbekal ilmu praktis dan pengalaman bertani, bercocok tanam dan beternak kambing etawa, Wa Uha berpikir bagaimana caranya agar lahan kritis bekas galian bisa kembali produktif,meski kondisinya bekas galian tidak seperti dulu.

”Sekitar tahun 1985, saya punya modal buat beli lahan bekas galian pasir. Saya membeli seluas 100 tumbak. Pada saat itu, awalnya hanya 100 tumbak saja lahan yang saya reklamasi. Setelah lahan kritis yang berupa bebatuan diratakan, berbagai bibit tanaman dan tumbuhan saya tanam. Tanaman itu banyak yang mati, hingga banyak petani ngak mau lagi menggarapnya,” ujarnya.

Wa Uha, meski hanya seorang diri, ia tetap bertahan dengan tujuan ingin lahannya kembali hijau dan produktif.Wa Uha berpikir keras agar lahan kritis tersebut bisa kembali hijau, hingga akhirnya ia teringat akan pesan guru­nya sewaktu Sekolah Rakyat (sekarang SD, ) pada tahun 60-an.

”Di sekolah dulu, saya banyak diajari guru soal bertani dan bercocok tanam . Saya ingat akan pesan guru, yakni tanaman akan tumbuh subur bila ditanam di lahan subur. Pesan itu, telah menggugah saya , lahan 100 tumbak yang telah diratakan , saya beri pupuk kandang. Selama satu tahun setelah pemberian pupuk kandang, tumbuh dan bisa bertahan hidup adalah pohon cebreng yang bisa dimanfaatkan untuk makanan ternaknya yang bertambah ,”ucapnya.

Sekitar tahun 2004, menghijaukan lahan kritis mulai membuahkan hasil setelah dirinya bercocok tanam buah naga merah bekerjasama dengan pemodal asal Bandung. Buah naga , ternyata mampu bertahan hidup dan menghasilkan produksi yang melimpah. Keuntungan dari hasil bercocok tanam buah naga cukup lumayan berlipat. Petani lain mulai melirik untuk berkebun buah naga . ”Lahan seluas satu hektar bisa ditanami 1.000 pohon buah naga dan menghasilkan buah naga 5-7 ton sekali panen, minimal menghasilkan Rp140 juta dengan hitungan 1 kg buah naga dijual Rp20.000,” kata ayah delapan orang anak ini.

Dari tahun ke tahun, hingga tahun 2009 lahan bekas galian pasir yang berhasil direklamasi lebih dari 40 hektar. Setelah berkembang menjadi daerah penghasil buah naga, atas usulan para petani , Wa Uha didaulat menjadi Ketua Kelompok Tani dan Ternak, Simpay Tampomas.
”Sejak saat itu , pemerintah mulai melirik, hampir tiap tahun bapak mendapat banyak penghargaan. Baik dari pemerintah, swasta hingga dari partai politik . Tapi bapak mah, nonpartai, hanya petani biasa yang ingin melihat lahan kembali hijau dan subur,” ucapnya.

Di antaranya penghargaan Perintis Lingkungan dari Gubernur Jawa Barat, hingga penghargaan tingkat nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono . Selain meraih berbagai penghargaan, lokasi perkebunan buah naga sekaligus ternak kam­bing etawa yang dikelolanya kerap dijadikan tempat studi banding. Baik oleh kalangan mahasiswa hingga pemerintahan dari berbagai penjuru tanah air.

”Dari Aceh sampai Papua datang ke sini. Bagi bapak, senang saja bisa berbagi ilmu beternak dan bercocok tanam. Bahkan yang dari Belitung pernah datang ke sini guguru soal mereklamasi lahan kritis bekas aktivitas tambang. Lucunya, Pemkab Sumedang tahun 2013 malah berkunjung ke Belitung untuk studi banding reklamasi bekas gailan tambang,” aku Wa Uha.Karena , Belitung berhasil mereklamasi lahan bekas aktivitas penam- bangan. Ngadangu eta, bapak mah hanya bisa ketawa. Pejabat Sumedang teh geuning teu apal kana dirina.

Aktivitas penambangan galian pasir di kawasan kaki Gunung Tampomas telah dihentikan oleh Pemkab Sumedang pada tahun 2006. Namun pada tahun 2009, izin penambangan kembali dibuka Pemkab Sumedang . Dampaknya, sekitar 1/3 lahan di kaki Gunung Tampomas rusak oleh aktivitas penambangan pasir. Bekas penambangan pasir saat ini sulit direklamasi oleh kelompok tani . Alat berat mengeruk habis pasir di kaki Tampomas, bahkan menggali hingga pada kedalaman 20 meter, ratusan truk setiap harinya hilir mudik mengangkut pasir .

Kerusakan semakin parah. Lahan lahan yang ditambang terus meluas, tak sebanding dengan upaya reklamasi yang dilakukan pemerintah. ”Bahkan, lahan yang sudah direklamasi pun kembali dikeruk hingga hanya menyisakan sekitar 12 hektare ,” tutur Wa Uha menjelaskan parahnya kerusahan lahan.

Dia berharap, pemerintah tingkat kabupaten, provinsi hingga pusat, menghentikan aktivitas penambang pasir di kaki Gunung Tampomas. ”Yang bisa menghentikannya ya pemerintah. Kalau alam tidak ingin rusak, pemerintah harus mulai menghentikan aktivitas tambang pasir di sini. Saat ini saja, warga sudah kesulitan mendapatkan air karena hulu/sumber mata airnya telah rusak, apalagi nanti, kasihan anak cucu kita nantinya. Tolong sampaikan ke Pak Gubernur Heryawan untuk menghentikan aktivitas galian pasir di sini, itu saja keinginan bapak mah,” Wa Uha berharap. (E010)***