Adat Suku Sasak, Lombok Mirah Sasak Adhi Kejujuran Permata Kenyataan yang Baik

65

Suku Sasak merupakan salah satu suku bangsa yang mendiami Pulau Lombok. Menggunakan bahasa Sasak, sebagian besar suku Sasak beragama Islam. Nama Sasak pertama kali disebutkan dalam Prasasti Pujungan, sebuah prasasti yang ditemukan di Kabupaten Tabanan Bali yang diperkirakan berasal dari abad ke-11.

Asal nama Sasak kemungkinan berasal dari kata Sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok , yakni Lombok Sasak Mirah Adhi.

Dalam tradisi lisan warga setempat , kata Sasak dipercaya berasal dari kata “sa’-saq” , artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Jika digabung kata Sa’ Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Banyak juga yang menerjemahkan sebagai jalan yang lurus.

Lombo Mirah Sasak Adhi merupakan salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama ( Desawarnana ), sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan kepemerintahaan kerajaan Majapahit, gubanan Mpu Prapanca.

Kata “lombok” dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, “Mirah” berarti permata, “Sasak” berarti kenyataan dan “adhi” artinya yang baik atau yang utama. Lombok Mirah Sasak Adhi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik. Berlibur ke Pulau Lombok, tidak selalu bercerita tentang keindahan pantai dan pemandangan bawah lautnya yang memanjakan mata.

Para pelancong juga bisa menyaksikan secara langsung bagaimana kehidupan sebenarnya suku Sasak yang berada di Desa Rambitan, Sade ini. Pelancong bisa menempuh jarak sekitar 25 menit dari Bandara untuk sampai ke lokasi ini.

Disana, pra pengunjung akan disuguhi dengan keunikan rumah adat Sasak yang unik. Rumah terbuat dari bahan (utama) bambu yang mereka ambil dari hutan atau kebun sekitar mereka.

Untuk dindingnya, warga setempat membuat anyaman bambu agar bisa digunakan sebagai pembatas setiap ruangan atau dinding. Sedangkan bambu yang masih berbentuk batangan, digunakan untuk tiang penyangga rumah.

Uniknya, rumah adat sasak ini memiliki atap dengan bentuk layaknya gunungan yang menukik ke bawah jika dilihat dari kejauhan. Atap rumah tradisional suku sasak ini terbuat dari jerami atau akar alang-alang. Sedangkan untuk bagian lantainya, rumah adat sasak Sade ini menggunakan tanah dengan campuran batu bata, abu jerami dan getah pohon.

Ada satu kebiasaan suku Sasak yang mungkin terdengar di luar nalar, yakni melumuri lantai rumah dengan kotoran ternak. Biasanya kotoran yang digunakan dari ternak mereka, baik kerbau maupun sapi yang sudah dibakar dan dihaluskan.

Mereka melakukan kebiasaan ini karena ingin menjaga permukaan lantai supaya tidak mudah retak dan lembab. Bahkan dipercaya, melumuri lantai dengan kotoran ternak dapat mengusir nyamuk paling alami. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu (bedek), hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya.

Ruangannya dibagi menjadi ruang induk meliputi bale luar ruang tidur dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem juga dilengkapi amben, dapur dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tanggan lainnya) tersebut dari bambuukuran 2 x 2 meter persegi. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga).

Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah Bale Tani, Bale Jajar, Berugag/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bele Taj uk. Dan nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsidari masing-masing tempat.

1. Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani.

2. Bale Jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah keatas. Bentuk Bale Jajar hampir sama dengan Bale Tani, yang membedakan adalah jumlah dalem balenya.

3. Berugaq / Sekepat berfungsi sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq / sekupat juga digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar).

4. Sekenam digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

5. Bale bonter Dipergunakan sebagai ternopat pesangkepan / persidangan adat, seperti tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat dan sebagainya. (E-001)***