Hurianti Vidyaningtyas, ST. MT., Tidak Ada Pesaing Rejeki Ada yang Mengatur

136

Hurianti Vidyaningtyas, ST.MT., lahir di Pontianak 1 Mei 1986. Anak dari pasangan Prof. Dr. H. Bambang Hudiono dan Dra. Hj. Rosmiyanti ini, selain berprofesi sebagai akademisi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di kota Bandung, ia juga berprofesi sebagai pengusaha hijab.

Istri dari Okwan Syabli, ST., ini kepada BB mengungkapkan bahwa, kiprah usahanya di bidang fashion dimulai pada tahun 2011. Ketika itu, Hurianti Vidyaningtyas memulai usahanya sebagai reseller dan agen kecil untuk baju remaja. Baju-baju yang dijualnya berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tahun 2015, dirinya memutuskan hijrah dan berhenti berjualan baju remaja.

“Saya yang bertubuh mungil, cukup kesulitan saat mencari pakaian syar’i, sehingga terlintas untuk membuat brand sendiri dengan ciri khas kain daerah yang bisa mengakomodir pelanggan untuk memesan baju sesuai ukurannya,” tuturnya.

Ide usaha Hurianti ini berasal dari kecintaannya pada kain khas daerah. Setiap berkunjung ke suatu kota atau daerah, ia selalu mencari toko oleh-oleh yang menjual kain khas daerah yang dikunjungi. Dari situlah muncul pikiran serius untuk mendesain baju modern kombinasi khas kain daerah, yang bisa digunakan untuk momen apa saja, dan tidak terbatas untuk menghadiri undangan saja, tetapi juga bisa dipakai untuk jalan-jalan bersama keluarga ke kantor, atau acara lain. Pada tahun 2017 ini, tema kain yang diambil adalah Batik Garutan.

Hurianti mengaku, ia sangat menyukai kain tersebut, karena warnanya yang ceria dan colourfull. Produk yang dijualnya antara lain dress, khimar, koko, dan baju anak. Dijual pada kisaran harga Rp 150.000 – Rp 900.000, dengan segmen pasarnya mulai dari ibu-ibu muda hingga remaja (usia 25-45 tahun) yang fashionable, dan tentu saja berhijab. Omset perbulannya mencapai Rp 6 – Rp 10jt / bulan.

Produknya juga pernah dipamerkan di Thailand, sebagai perwakilan dari Indonesia. Karya dari Hurianti ini dipasarkan secara online, ig:idohijab dan fb:i do hijab.  Di tingkat Jawa Barat, produk bajunya dipamerkan dan menjadi salah satu produk unggulan pada event besar wirausaha baru. Salah satu produk Hurianti diminta untuk disertakan pada segmen fashionshow.

“Pada akhir acara, seorang bapak menghampiri stand kami dan mengajukan keinginannya untuk membeli baju yang dipakai model saat fashionshow berlangsung. Karena tidak membawa stok, maka saya menawarkan akan mengirim baju yang dimaksud ke alamatnya. Bapak tersebut menolak, karena ternyata beliau berasal dari Papua yang sedang menghadiri pelatihan di Bandung. Beliau tetap memaksa untuk membeli produk baju yang dipakai saat fashionshow, karena istrinya pasti sangat menyukainya. Mendengar hal itu, saya menjadi sangat terharu, karena betapa bahagianya ketika baju yang saya jual bisa membahagiakan dan bermanfaat bagi orang lain. Namun di sisi lain, ada pengalaman kurang menyenangkan yang pernah saya alami, yakni ketika hasil karya saya dijiplak oleh orang lain dalam waktu tidak lebih dari sebulan setelah dilaunching. Produk itu diperjualbelikan di pertokoan sandang terbesar di Jakarta,” tutur Hurianti kepada BB.

Ibu dari Ashafwa Arrisa Violla ini juga mengatakan bahwa, kendala terbesar yang dihadapi di dalam bisnis fashion adalah, sulitnya mencari tukang jahit yang menjadi ujung tombak dalam bisnis yang digeluti. Namun demikian, Hurianti tidak berniat untuk berganti usaha, walau saat ini ia juga bekerja sebagai dosen Teknik Telekomunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung.

“Merancang baju adalah hobi saya dari kecil dan memang saya sukai. Sedangkan mengajar adalah passion dalam hidup saya,” aku Hurianti, seraya menyebut orang yang paling berjasa dalam karier dan kehidupannya adalah kedua orangtuanya beserta suami. “Karena mereka mendukung apa yang saya lakukan, dan seringkali ibu atau suami saya menemani berbelanja kebutuhan kain untuk produksi. Ibu saya juga merupakan teman diskusi saat saya mendesain baju,” ungkap Hurianti

Minimalisir produk impor
Dalam hal persaingan usaha, Hurianti melihatnya dari sisi yang berbeda, karena baginya tidak ada istilah pesaing, dan rejeki tidak akan pernah tertukar. “Saya tergabung dalam sebuah komunitas yang di dalamnya terdapat beberapa pengusaha hijab fashion dan kami saling berbagi ilmu. Untuk pendatang baru seperti saya, sangatlah membutuhkan banyak ilmu dari mereka. Selama sebuah produk memiliki ciri khas, maka pelanggan akan datang dengan sendirinya,” ungkap Hurianti.

Pengusaha sekaligus akademisi ini, juga ikut tergabung dalam Koperasi WJS, yaitu Koperasi Alumni Wirausaha Baru Jabar yang diprogram oleh Gubernur Jawa Barat. Ia mengaku mendapat kemudahan akses pasar dan juga bantuan permodalan, yakni salah satunya, akses PKBL.

Secara umum, dunia fashion tidak akan pernah mati, karena kebutuhan dasar manusia adalah sandang. Tumbuh kembangnya dunia fashion hijab syar’i dipengaruhi oleh semakin banyaknya wanita Indonesia yang memahami kewajiban utamanya sebagai seorang muslimah. Proses hijrah yang bertahap menjadikan dunia fashion hijab syar’i terus berkembang dan bervariasi.

Agar tetap eksis dan bertahan dalam dunia bisnis, Hurianti juga terus melakukan inovasi, mengupgrade ilmu, serta terus mengembangkan koneksi. “Harapan saya pada pemerintah adalah, pajak yang dibebankan tidak besar, dan mempermudah kepengurusan badan usaha, serta meminimalisir masuknya produk impor,” pungkas Hurianti. (E-018) ***