Wisatawan tak Suka Kegaduhan Politik

81

Oleh  Hj.Netty Sumiati Hasandinata

KALANGAN kepariwisataan optimistis, tahun 2020 Jawa Barat akan menjadi destinasi wisata  regional di ASEAN. ”Diharapkan dalam dua tahun ke depan, Jabar akan menjadi destinasi unggulan,” kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jabar, Cecep Rukmana di Bandung kemarin. Hal itu didukung dengan pernyataan beberapa pihak, antara lain, Kepala Disparbud Jabar, Ida Hernida. Ia menatakan, kepariwataan Jabar akan semakin cerah ketika Bandara Internasional Jabar (BIJB) dioperasikan. ”Kunjungan wisata terutama ke pantura akan semakin meningkat,” katanya.  Pantura, meliputi Insdramayu, Cirebon,Majalengka, Kuningan, menurut Ida sedang dikembankan ke arah wisata budaya.

Ketua BPPD Jabar mengemukakan, dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jabar, kini BPPD Jabar tengah mempersiapkan kajian pengembangan lima kawasan wisata konvensional. Kelima wilayah itu ialah Bogor, Palabuanratu, Bandung, Ciayumajakuning, Pangandaran dan sekitarnya. Agar akses wisatawan menjadi semakin mudah, kini tengah dipersiapkan jalur wisata.

Dalam acara media gathering dan seminar bertema ”Tahun Politik dan Pengaruhnya terhadap Wisata di Jabar Tahun 2018” itu, selain optimisme berkaitan dengan prospek cerah pariwisata Jabar, juga mengemuka kekhawatiran. Kalangan pariwasata Jabar merasa khawatir, tensi politik yang terus menaik hingga tahun 2019 nanti, akan berpengaruh buruk terhadap kunjungan wisata. ”Ada sedikit kekhawatiran, utamanya untuk wisatawan asing yang akan terpengaruh. Sedangkan wisatawan nusantara rasanya tidak akan terpengaruh,” kata Cecep Rukmana. Menurut Cecep, kunjungan wisatawan mengalami penurunan, rata-rata 10 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara pada saat-saat penyelenggaraan tahun politik.

Para wisatawan berkunjung ke suatu tempat dengan harapan terbebas dari hangar-bingar, baik politik maupun sosial dan industri. Mereka justru sangat mendambakan kenyamanan dan keamanan. Para wisatawan, khusunya wisatawan mancanegara,  merasa terancam keselamatannya ketika memasuki sebuah negeri yang tengah mengalami gejolak politik. Tensi politik yang memanas selalu membuat nyali para wisatawan turun drastis, apalagi wisatawan yang datang dari negara yang amat sering mengalami gejolak politik. Mereka berwisata agar pikiran dan hati mereka beristirahat dari kegaduhan politik itu.

Di mana pun, tahun politik atau masa-masa menjelang dan pelaksanaan pemilihan umum, merupakan momentum luarbiasa (extraordinary time) terutama bagi para politisi. Bagi mereka tahun politik merupakan saat-saat paling menentukan, harap-harap cemas. Tahun politik menjadi titik paling penting dalam perjalanan hidupnya, apakah akan terjadi perubahan yang menguntungkan atau justru sebaliknya, rugi dan bangkrut. Wajar apabila tahun politik bagi kalangan itu sangat dinantikan. Bukan hanya politisi, para usahawan khususnya pelakuusaha kecil menengah, nenganggap pemilu meruipakan tahun marema. Karena itu, tahun politik atau pelaksanaan pemilu suka disebut sebagai ”pesta demokrasi”.