Assoc. Prof. Erie Febrian, SE.,M.Comm.,PhD., “Iman, Ilmu, Amal”

68

Assoc. Prof. Erie Febrian, SE.,M.Comm.,PhD., lahir di Makassar pada tanggal 18 Februari 1972 silam. Suami dari Mirinda Ayu Puspita (42) ini merupakan akademisi Universitas Padjadjaran yang berprestasi di kancah internasional. Erie Febrian pun tercatat sebagai Wakil Ketua ISEI Jabar bidang publikasi nasional dan internasional, serta Komite Audit Bank BJB.

Assoc. Prof. Erie Febrian, SE.,M.Comm.,PhD., bergabung di Unpad sejak bulan Desember tahun 2002. Kurang lebih sudah 15 tahun. Sebelumnya Erie Febrian bekerja di bidang industri keuangan atau dunia praktis sejak lulus dari UNPAD tahun 1996. Minatnya untuk menjadi akademisi sudah ada sejak tamat S1, namun ia berkeinginan untuk memperkuat basis keilmuan dan pengalaman praktis dulu sebelum menjadi dosen, sesuai saran senior-seniornya.

”Jadi, setelah merasa cukup mendapat pengalaman di industri keuangan, saya pun beralih menjadi dosen, yang sudah merupakan cita-cita saya sejak lama. Orangtua saya bukan guru atau dosen. Namun, ayah saya memang seorang birokrat, yang gemar menjadi narasumber pelatihan di lingkungan Kemendagri. Menjadi dosen merupakan kombinasi dari 3 hal yakni, visi amal jariah lewat sharing ilmu, mengartikulasikan gagasan secara efektif, dan minat berukhuwah lewat ilmu,” ungkap Prof. Erie.

Setelah pulang dari studinya di University of New South Wales Sydney tahun 1999, dan beberapa tahun mencari pe­ngalaman di industri keuangan, Erie Febrian pun memenuhi permintaan Dekan FEB Unpad (Prof. Suripto Samid) untuk menjadi pejuang ilmu di Unpad. Pada awal menjadi akademisi, ia berkecimpung di bidang Manajemen Keua­ngan (Pasar Modal dan Engineering Finance). Namun, sebelum melanjutkan studi doktoralnya, Erie merasa bahwa, jika ia menekuni bidang Keuangan dan Perbankan Syariah, maka hal ini dapat mengintegrasikan ibadah dan profesinya secara lebih kuat.

Erie Febrian mengaku bahwa, ia lebih suka menulis artikel jurnal internasional daripada buku, karena lebih dinamis. Kebetulan juga ia merupakan instruktur penulisan artikel jurnal internasional binaan (lisensi) AUSAID (via Prof. Belcher). Minimal 40 artikel yang telah ditulisnya bersama kolega dan mahasiswa (S1, S2, dan S3). Untuk buku, baru 3 buah. Ada yang tentang bidang Keuangan Mikro Kelautan, buku terbitan BRI, dan terakhir ia menulis buku tentang Manajemen Pembelanjaan Perusahaan (tahap editing).

”Pada tahun 2009, saya menulis sebuah artikel bersama Aldrin Herwany, PhD. (Ketua ISEI Jabar). Artikel ini kemudian kami presentasikan di acara ilmiah internasional di New Jersey, USA, dan berhasil mendapat penghargaan sebagai Outstanding Research. Kemudian pada tahun 2010 dan 2012, ada 2 lagi artikel kami yang mendapat award serupa. Award tahun 2010 (di San Jose, Costa Rica) diberikan untuk artikel dari disertasi saya tentang bank Islam, dan tahun 2012 (di Hawaii, USA) untuk artikel kami tentang Indeks Saham Islam (Syariah). Karena 3 award inilah, Unpad diberi penghargaan Leadership Award atas kesuksesannya membangun budaya riset ilmiah bidang Ekonomi oleh The Institute for Business and Finance Research (IBFR) USA,” klaim penganut moto hidup ”iman, ilmu, amal” itu kepada Bisnis Bandung.

Ayah dari Chikara Nurilmi Syam (17), dan Chantika Nurilmi Syam (11) ini, pernah dianugerahi beragam penghargaan di dunia internasional, di antaranya adalah, The Outstanding Research Award 2012, The Institute for Business and Finance Research (IBFR) in The 2012 Global Conference in Business & Finance, Ala Moana Hotel, Honolulu, Hawaii, USA on 3-7January 2012, dan masih banyak lagi penghargaan lainnya. Dari dalam negeri pun Prof. Erie Febrian banyak memperoleh penghargaan, di antaranya adalah, Top 20 Academia Under 45 in Indonesia (Dosen Berprestasi Indonesia di bawah 45 tahun) Majalah Campuss Indonesia Vol. 1, No. 5, August 2011, peringkat 2 Dosen Berprestasi Universitas Padjadjaran, peringkat 1 Dosen Berprestasi FE Unpad, serta Penghargaan Rektor Unpad atas prestasi luar biasa bidang akademik.

Penggemar warna hijau dan hitam ini mengaku, selama menjadi akademisi, ia mendapat beragam pengalaman. Pe­ngalaman paling menarik adalah, ketika bertemu dengan para ilmuwan populer dunia dalam konferensi internasional, yangsebelumnya para ilmuwan dunia itu mengenal namanya hanya dari tulisan-tulisan ilmiahnya saja. Selain itu, Prof. Erie juga terlibat langsung dalam proses pengambilan kebijakan berbasis keilmuan yang berdampak pada kemaslahatan umat.

“Menjadi akademisi adalah amal baik yang bernilai jariah. Saya tidak akan berhenti, sampai saya dianggap tidak mampu lagi oleh Allah Ta’ala. Ada banyak manfaat yang saya dapatkan dengan menjadi seorang akademisi, di antaranya adalah, mendapat rahmat ilmu yang semakin dalam dan luas, mendapat kesempatan untuk memperoleh pahala jariah, berkesempatan menjalin ukuwah Islamiyah yang lebih luas, membangun networking profesi di tingkat nasional maupun internasional, serta mendapat kesempatan untuk ikut memperbaiki kebijakan publik pada bidang tertentu” klaimnya.

Tidak tertarik ”p” kecil, tertarik ”P” besar.
Akademisi Unpad berprestasi ini mengaku bahwa, ia tidak tertarik ke politik kekuasaan, yakni politik dengan ”p” kecil. Namun Prof. Erie lebih tertarik pada politik dengan ”P” besar. Artinya, ia tidak tertarik pada kekuasaan, namun ia justru lebih tertarik pada pemberdayaan umat, untuk me­ngubah persepsi dan perilaku, khususnya pada ekonomi Islam.

Bidang Ilmu Keuangan dan Perbankan Islam semakin berkembang di Indonesia. Jumlah program studi Keuangan dan Perbankan Islam terus bertambah di PTN/PTS. Namun, kontribusinya lemah. Kelemahan mendasar adalah, bidang industri terkait belum terhubung secara efektif dengan program-program studi itu. Jadi masih jalan sendiri-sendiri. Kolaborasinya masih lemah. Kontribusi bagi perkemba­ngan bidang Ekonomi dan Keuangan Islam di Indonesia juga terbatas. Tidak seperti di Malaysia yang sangat terpadu, sehingga bisa mengalami perkembangan yang signifikan.

Pengembangan bidang kajian Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah (Islam) belum bergerak ke arah yang sepenuhnya tepat. Kontribusi lembaga riset kampus-kampus masih sangat minim, dibandingkan dengan usia industri yang sudah 25 tahun. Seharusnya, kajian lebih diarahkan ke sisi perilaku masyarakat terhadap bank Islam pada sisi demand, dan respon bank Islam terhadap pasar pada sisi supply. Indikatornya, para akademisi, praktisi perbankan, regulator maupun masyarakat, belum punya jawaban akurat, untuk menjelaskan rendahnya pangsa pasar dan aset bank Islam di Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Kepemimpinan politik di Indonesia sangat dominan mewarnai pembangunan daerah dan nasional. Warna tiap daerah ditentukan oleh resultan tarik menarik antara berbagai kekuatan politik, sehingga fokus ke masalah yang sesungguhnya terpinggirkan. Tidak heran, bila kemudian kekuatan-kekuatan intelektual di luar panggung politik formal akan bergerak. Hasilnya efektif, gerakan-gerakan di Jakarta beberapa bulan terakhir bisa menjadi contohnya. Mereka bisa efektif tanpa kehadiran parpol sama sekali. Arah gerak kekuatan politik formal yang tidak terlalu relevan dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat harus dikoreksi oleh gerakan moral dan budaya di masyarakat.

”Sekarang ini kita butuh gerakan moral dan budaya. Koreksi harus dilakukan secara masif lewat budaya. Pihak stakeholder harus melibatkan media agar efektif dan cepat. Untuk kaum muslim, prosesnya lebih mudah jika memanfaatkan masjid sebagai titik inisiasi dan pusat aktivitas budaya dan ekonomi. Selama ini, masjid tidak dipercaya akan mampu memberi kekuatan, sehingga setiap upaya selalu mencari tempat/basis baru yang belum teruji. Gerakan koperasi 212 yang didirikan oleh para alumni demonstrasi 212, merupakan gerakan awal yang harus didukung, karena ini adalah gerakan ekonomi berbasis kebersamaan, untuk melawan konglomerasi kapitalis yang cenderung dominan,” pungkasnya kepada BB. (E-018)***