ITB Kampus Jatinangor Memberi Sarana Berekpresi bagi Seniman Sumedang

38

BISNIS BANDUNG – Sebanyak 28 perwakilan dari lima kecamatan wilayah Sumedang , Selasa (26/12/2017) berkumpul di Taman Loji, Kampus ITB, Jatinangor. Ketua Paguyuban Seni Budaya Sukma Sajati, Joko Loyor mengatakan, dalam pertemuan tersebut selain membahas susunan kepengurusan Paguyuban Seni Budaya Sukma Sajati.

Para seniman dan budayawan asal Kecamatan Jatinangor, Cimanggung, Tanjungsari, Sukasari dan Pamulihan ini juga berkumpul untuk membahas persiapan pentas setiap akhir pekan (Minggu) di Taman Loji.

“Selain dua rencana itu, bersatunya seniman budayawan di wilayah Sumedang Barat juga untuk persiapan kirab budaya dalam terkait kunjungan kerja anggota DPR RI Maruarar Sirait dalam waktu dekat ini,” ujar Joko kepada wartawan, di Jatinangor Selasa siang. Dengan adanya sarana dan tempat yang difasilitasi ITB melalui Direktur Eksekutif ITB Doktor Wediyanto, Ir. M. Sc., menurut Joko Loyor (biasa disapa Jlo) pelaku seni budaya merasa dihargai dan diapresiasi eksistensinya.

“Tak hanya Taman Loji, ITB juga memberikan fasilitas gedung serbaguna dan prasarana alat musik untuk digunakan seniman budayawan bilamana diperlukan. Ini tentunya bentuk kepercayaan dan pengakuan yang tidak boleh kami sia-siakan,” tuturnya. Untuk itu, kata JLo, seniman budayawan akan membayar kepercayaan tersebut dengan konsisten menggelar pentas seni budaya di Taman Loji setiap akhir pekan.

“Dengan adanya sarana tempat yang disediakan kami tidak lagi kebingungan mencari tempat untuk berekspresi. Sehingga , pelaku seni budaya khususnya di wilayah Sumedang barat akan konsisten menggelar pentas seni budaya di Taman Loji ini,” ujar Joko. Saat ini, lanjut JLo, kelompok seni yang tergabung dalam paguyuban, terdiri dari seni Singa Barong, Reak, Pencak Silat, Reog Dogdog, Oray Liong dan Badawang.

“Selain jadi sarana edukasi bagi pelaku seni kalangan masyarakat dan mahasiswa ITB khususnya. Diharapkan pula, pentas rutin ini, minimal para pelaku seni merasa diwadahi dan kedepan seni budaya Sunda buhun ini bisa lebih dikenal masyarakat,” Joko menambahkan. (E010) ***