Kalender Dagang 2017 Kurang Menggembirakan

157

BISNIS BANDUNG – Akhir tahun 2017 yang menjadi momentum penting untuk mengejar ketertinggalan penjualan sepanjang kalender dagang 2017 yang kurang menggembirakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (DPD Aprindo) Jawa Barat, H. Hendarta, SH.MM mengatakan, even dan hari besar keagamaan untuk para riteler sudah menjadi agenda, bahkan ada dalam ”kalender dagang” sebagai momentum untuk ”mendongkrak penjualan” , namun pada akhir tahun 2017 , ternyata kurang menggembirakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. ”Pertumbuhan penjualan di bawah 2 digit,” ungkap Hendarta , baru-baru ini kepada BB di Bandung.

Soal ketersediaan dan pasokan kebutuhan pokok/pangan pada tahun 2017 ini, lanjut Hendarta , sangat memadai bahkan dengan harga yang terkontrol, harga jual stabil sehingga inflasi tercatat di bawah angka 10%.

Di akhir tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya kebutuhan produk makanan menjadi kebutuhan yang menonjol. Produk pakaian/fashion diharapkan bisa menyumbang angka penjualan yang meningkat dibandingkan hari-hari biasa.

”Promo khusus pada saat Natal dan Tahun Baru, seperti di tahun-tahun sebelumnya, dimanfaatkan oleh para riteler untuk mengejar ketertinggalan penjualan pada bulan-bulan sebelumnya,” tutur Hendarta. Khusus tahun 2017 ini oleh sebagian besar anggota Aprindo dijadikan tahun konsolidasi sekaligus evaluasi terhadap perubahan perilaku belanja konsumen.

Dikemukakan Hendarta, promo yang dilakukan oleh para peritel begitu beragam. Departemen store atau toko yang menjual produk pakaian terkesan lebih “jor-joran” dengan discount/potongan harga mulai dari 20% sampai 50% untuk menarik konsumen datang dan berbelanja. Kegiatan promo dan discount digelar dan dilakukan oleh toko-toko/riteler sejak awal bulan Desember hingga awal tahun 2018 nanti.

Target penjualan pada tahun 2017 menurut Hendrta , mestinya lebih realistis. Para pedagang memang selalu optimis bahwa penjualan akan membaik sejalan dengan pulihnya kondisi ekonomi global. Jumlah kunjungan atau orang toko bilang number of customer tergantung luas toko/selling area, jadi beragam, berbeda antara satu toko dengan toko lainnya. Kalau minimarket berharap minimal ada 300-350 orang berkunjung dan berbelanja ketokonya .

Disebutkan Hendarta, puncak penjualan diprediksi terjadi pada minggu ke 3 dan ke 4 Desember 2017 ini, seiring dengan mulainya anak sekolah liburan. Program promosi di akhir tahun banyak dimanfaatkan oleh toko-toko yang ada di daerah, mereka tidak ingin kehilangan momentum (lose sale).

Tahun 2017 tidak terlalu banyak toko baru, apalagi di beberapa daerah masih memberlakukan moratorium. Toko-toko yang mengalami kerugian berkepanjangan, mereka melakukan clearance sale, barang-barang didiscount atau dialihkan ke toko lain yang masih eksis.

Mengenai menurunnya angka penjualan ditoko-toko,diakui Hendarta, bukan baru kali ini saja. Bisnis-bisnis lain sudah lebih dulu mengalami penurunan, bahkan merosot kinerjanya, sektor ritel belakangan kena imbasnya juga sebagai dampak perlambatan ekonomi global.”Ya tahun depan sebagai tahun politik, diharapkan para pemilik toko agar tetap memperoleh rasa aman sebab apabila terjadi gonjang –ganjing bagaimana konsumen mau berbelanja, keluar rumah saja punya kecemasan tersendiri.

Mengenai paket kebijakan pemerintah belum dirasakan secara signifikan, tapi kita harus menghargai upaya pemerintah untuk menggairahkan perekonomian, jangan sampai stagnan efek dominonya yang akan mengganggu semua lini.

Pemerintah sangat paham bagaimana agar masyarakat punya daya beli, Kalau banyak penutupan usaha dan pemutusan hubungan kerja akan berdampak terhadap stabilitas sosial. (E-018)***