Terbentur Masalah Internal dan Pasar Tahun 2017, Koperasi Relatif Stagnan

142

BISNIS BANDUNG — Pakar Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Prof. Dr. H Rully Indrawan mengemukakan, pertumbuhan koperasi dan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) di Indonesia termasuk di Jawa Barat pada tahun 2017 relatif stagnan. Penyebabnya , selain masalah internal, juga kondisi pasar yang membuat koperasi dan UMKM tidak ada perubahan.

”Koperasi dan UMKM yang tumbuh positif, yakni yang berge­rak pada sektor perdagangan dan jasa yang berbasis digital. Ada kemajuan sebagai dampak shifting, yakni beralihnya pola berbelanja konsumen”, ungkap Rully , Sabtu (26/12) kepada BB di Bandung.

Indikator koperasi/UMKM relatif stagnan dapat dilihat dari pertumbuhan lapangan kerja di level bawah pada tingkatan yang wajar, belum ada lonjakan. Walau ada kenaikan, di sisi lain ada pengura­ngan akibat penggunaan teknologi infromasi pada berbagai jenis usaha.

Harus diakui lanjut Rully, faktor eksternal berupa kondisi pasar global yang belum stabil juga sangat berpengaruh. Sedangkan faktor dalam negeri, walau pertumbuhan ekonomi masih pada angka di atas 5% belum bisa mendongkrak pelaku usaha yang lebih bergairah. Karena masih sulitnya bagi sebagian besar UMKM mengkases pendanaan perbankan. ”Pertumbuhan usaha UMKM yang positif akan melahirkan dua hal, yakni perluasan kesempatan kerja dan mengurangi ketimpangan pendapatan di masyarakat,” ujar Rully.

Mantan Ketua Dewan Koperasi Pimpinan Jawa Barat ini menyebutkan, usaha koperasi yang menujukkan gejala naik adalah koperasi yang berorentasi pada ekspor, dan koperasi simpan pinjam, karena bagi sebagian besar UMKM bisa menjadi jalan keluar di tengah masih sulitnya mereka berhadapan dengan perbankan.

Prospek koperasi/UMKM pada tahun politik (2018) mendatang tampaknya akan bagus, di tengah kesadaran di kalangan pelaku koperasi dan UMKM untuk beradaftasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat. Misalnya, banyak yang sudah memanfaatkan teknologi informasi dalam pelaksanaan usahanya.

Juga banyak kebijakan pemerintah yang mulai berpihak pada usaha rakyat. Misalnya pembangunan infrastruktur, penurunan suku bunga KUR di bawah 10%, dan penyederhanaan perizinan usaha. Masyarakat semakin sadar bahwa tanta­ngan ekonomi ke depan tidak bisa diselesaikan tanpa kerjasama. Dengan demikian prinsip koperasi semakin diakui kebenarannya.

Agar koperasi dan UMKM tumbuh positif, yang harus dibenahi oleh pihak terkait , yakni pendidikan bagi anggotanya. Tujuannya agar mereka memahami bagaimana sistem koperasi berjalan dengan benar, serta bagaimana digital menjadi bagian dari kehidupan usahanya.

Pembekuan koperasi yang digadang-gadang oleh pemerintah menumbuhkan kepercayaan pada koperasi. ”Biarlah kope- rasi jumlahnya sedikit tapi efektif. Banyak koperasi berkembang dengan baik di banyak negara termasuki Amerika, Cina, negara Eropa, Malaysia dan Singapur . Potensi koperasi di Indonesia kian hari semakin baik,” pungkas Rully. (E-018)***