13 BUMN Merugi Diminta Atur Strategi 2018

121

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memperkirakan sebanyak 13 perusahaan pelat merah masih merugi sepanjang tahun ini.

Dikutip dari berbagai sumber, Selasa (26/12), saat menghadiri Rapat Koordinasi CEO BUMN, Kamis (21/12) lalu, Menteri BUMN Rini Soemarno memprediksi 13 BUMN masih merugi tahun ini. Jumlah itu menurun dibandingkan posisi pada pertengahan tahun ini yang sebanyak 24 BUMN. Total kerugian diramal sekitar Rp4 triliun, lebih rendah dari tahun lalu yang ada di kisaran Rp5 triliun.

Beberapa BUMN yang masih merugi di antaranya, PT Garuda Indonesia Tbk, PT Krakatau Steel Tbk, PT Kertas Leces, PT Dirgantara Indonesia Tbk, dan PT Merpati Nusantara Airlines.

Garuda Indonesia dan Krakatau Steel menanggung kerugian terbesar dengan masing-masing tercatat lebih dari Rp1 triliun.

Sekretaris Kementerian BUMN Imam Aprianto Putro mengungkapkan penyebab kerugian perusahaan pelat merah itu. Mulai dari produk yang dihasilkan kalah bersaing, struktur biaya yang tidak kompetitif, hingga banyaknya aset yang tidak atau kurang produktif.

“Hasil akhirnya masih menunggu hasil audit. Semoga, kami berharap kurang dari 10 BUMN yang masih merugi (tahun ini),” ujar Imam.

Ke depan, menurut Imam, BUMN yang merugi dapat mengambil beberapa langkah untuk menekan kerugiannya. Pertama, memperbaiki struktur dana dan permodalan. Kemudian, perusahaan juga perlu meningkatkan kinerja manajemen pendapatan dan beban biaya, serta meningkatkan budaya kerja berbasis kinerja dan fokus pada nilai.

Tak hanya itu, iniasi berbagai sinergi antar perusahaan pelat merah juga diperlukan. Misalnya, dengan cara meningkatkan pendapatan melalui optimalisasi pasar terikat (captive market), berbagi sumber daya yang dimliki untuk mengurangi biaya dan optimalisasi aset, divestasi aset bukan inti atau aliansi dengan mitra strategis, dan efisiensi.

Sinergi BUMN, lanjut Imam, juga bisa dilakukan dengan evaluasi produk atau jasa melalui inovasi sehingga diterima pasar, model bisnis berkelanjutan dengan kerja sama antar BUMN, mengkaji uag strategi pemasaran, dan perbaikan sistem pengadaan melalu pengadaan elektronik.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian BUMN, negara menguasai kepemilikan saham mayoritas di 118 BUMN, terdiri dari 84 perseroan, 20 perseroan terbuka, dan 14 perusahaan umum per akhir 2016. Selain itu, negara juga memiliki kepemilikan saham minoritas di 24 entitas. (C-003/lav/asa)***