Menghilangkan Budaya Nyampah

97

SENIN, ketika fajar pertama tahun 2018 menyingsing, wajah kota harus sudah bersih dari segala macam sampah. Ada 1.200 orang petugas pembersih Kota Bandung bekerja menyapu, mengumpulkan, dan mengangkut sampah dari berbagai tempat keramaian. Bagai Sangkuriang, mereka harus merampungkan pekerjaan, membersihkan kota hanya dalam waktu semalam bahkan pelaksaaannya kurang dari setengah malam. Sampai pukul 02.00 jalan umum, alun-alun, lapang, halaman gedung, dan sebagainya masih banyak orang berlalu-lalang .. Di mana-mana sampah berserakan, dari kertas tisu, koran, dus, botol/gelas air mineral, kemasan makanan dan minuman, hingga berbagai jenis plastik, memenuhi wajah kota.

Di Bandung ada beberapa titik yang digunakan sebagai tempat warga berkumpul menyambut datangnya Tahun Baru 2018. Pemkot senagaja menyebar pusat-pusat keramaian agar tidak tumpah ruah di Jl. Asia Afrika dan Alun-alun. Selain Jl. Dago, Jl. Diponegoro, Surapati, dan Buahbatu, tahun ini ditambah dengan Alun-alun Ujungberung dan Alun-alun Cicendo. Di tempat-tempat itu diselenggarakan berbagai kegiatan berupa panggung hiburan. Diharapkan, warga di sekitar titik itu tidak usah berkeliling kota mereka tetap berada di tempat terdekat. Namun pada kenyataannnya, semua tempat itu penuh sesak, Asia-Afrika dan Alun-alun tetap punya daya tarik luar biasa. Warga dari berbagai penjuru kota bahkan dari luar kota, berbondong-bondong masuk ke pusat kota. Anehnya, ttitik-titik keramaian yang ditentukan Pemkot Bandung, juga penuh sesak. Warga tumpah ruah di Jl. Pajajaran, menuju Alun-alun Cicendo, berdesakan di seputar Gasibu, dan di Alun-alun Ujungberung.

Tentu, orang bisa berkumpul di mana saja, bersama-sama menyambut datangnya tahun baru. Menikmati hiburan setahun sekali, melepaskan semua beban kehidupan yang makin menghimpit. Secara psikologis, kegiatan seperti itu, membuat orang berkatarsis. Berteriak, bertepuk tangan, berjingkrak-jingkrak, sampai semua masalah yang memenuhi hatinya, terbebaskan. Secara ekonomi, kegiatan itu mampu mendongkrak pendapatan para pedagang. Omset PKL, baik makanan minuman, perajin terompet, kembang api, dan sebagainya benar-benar marema. Namun seringkali katarsis itu berlebihan. Banyak orang tidak peduli lagi akan norma, sopan santun, dan lepas dari barikade moral, baik moral masyarakat maupun moral agama.