Dr. Oktri Mohammad Firdaus, ST., MT., IPM., Ada Dikotomi Ilmu Teknik Industri Identik dengan Pabrik

213

Oktri Mohammad Firdaus kelahiran Bandung 15 Oktober 1981. Akademisi ini, selain sebagai Dosen Teknik Industri Universitas Widyatama Bandung, juga sebagai Chairman and Founder Healthcare System Institute Indonesia, Ketua Yayasan Mulus Rahayu Bandung, Ketua Yayasan Pendidikan Cicalengka (YADIKA) Kabupaten Bandung,

serta Wakil Ketua Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN) Kota Bandung. Suami dari dr. Eki Rakhmah Zakiyyah, Sp.A.,M.Kes. (36) ini menuturkan bahwa, kiprahnya sebagai akademisi dimulai sejak tahun 2003, ketika ia mendapat kesempatan dan kepercayaan dari Almarhum Prof.Dr.Ir. H. Adang Kadarusman, MSc. (Guru Besar Teknik Industri Universitas Pasundan), untuk menjabat sebagai Dosen Luar Biasa mata kuliah Analisis dan Pengukuran Kerja.

Oktri berasal dari keluarga pendidik, ayahnya berprofesi sebagai guru SMA. Sebelum terjun menjadi akademisi, dirinya sempat menekuni bidang usaha cetak kartu undangan selama kurang lebih 6 tahun (2005-2011). Tahun 2010, Oktri melanjutkan pendidikan S3 di Teknik Industri ITB, dirinya harus berkonsentrasi penuh untuk bisa menyelesaikan pendidikannya, sehingga usaha percetakannya terpaksa harus ditinggalkan. ”Walaupun profesi ini bisa mendatangkan banyak relasi, teman serta pengalaman,” cerita Oktri kepada BB, di Bandung.

Oktri Mohammad Firdaus hingga saat ini telah 14 tahun mengabdi sebagai seorang dosen. Spesialisasi bidangnya adalah Knowledge Management dan Healthcare System. Kedua bidang ini merupakan sub-bidang ilmu Teknik Industri.

”Khusus untuk bidang Healthcare System, saya jadikan sebagai spesialisasi dan fokus pengembangan ilmu pengetahuan, melalui bidang pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, karena bidang ini masih sangat jarang ditekuni oleh seorang insinyur,” ujar Oktri. Sebagian besar pihak masih beranggapan bahwa, bidang ini hanyalah milik orang kedokteran atau bidang kesehatan lainnya. Padahal dengan bekal ilmu Teknik Industri yang komprehensif, kajian-kajian riset bidang Healthcare System akan lebih sistemik dan tepat sasaran dari sudut pandang disiplin ilmu Teknik Industri.

Selama mengabdi sebagai akademisi, hasil karya publikasi yang telah dihasilkan oleh Dr. Oktri di antaranya adalah, Book Chapter Editorial Internasional sebanyak 1 buah, artikel yang terindeks SCOPUS sebanyak 5 buah, Jurnal Nasional Terakreditasi DIKTI 1 buah, Proceeding Internasional 11 buah, Proceeding Nasional 22 buah, Jurnal Nasional 1 buah. Selain itu, Oktri juga mendapat beberapa tanda penghargaan atas dedikasi dan loyalitasnya pada profesinya selama ini.

Ada pengalaman menarik yang didapat oleh Dr. Oktri dalam menggeluti profesinya sebagai akademisi, di antaranya adalah, ketika pada tahun 2003 ia harus mengajar teman-teman seangkatannya di Teknik Industri Unpas untuk mata kuliah semester pendek, dan pada tahun 2009 Oktri ditugasi memberi pelatihan di PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) Rumbai, Riau. ”Peserta mengira, saya adalah staf dari perusahaan konsultan penyelenggara pelatihan, karena dianggap terlalu muda untuk menjadi seorang narasumber, khususnya bidang Supply Chain Management,” tuturnya.

Penganut moto hidup “Start Small and Think Simple” ini mengaku bahwa, ia telah selesai melaksanakan tugas awal, yakni meraih gelar Doktor bidang Teknik Industri dari ITB pada tahun 2015 dengan predikat “cumlaude”. Untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, langkah berikutnya adalah, ketika pada tahun 2017 Oktri memperoleh IPM (Insinyur Profesional Madya) dari Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI-PII).

Saat ini, ia juga sedang mempersiapkan 2 sertifikasi profesional pendukung kompetensi sebagai dosen dan juga konsultan, yaitu PMP (Project Management Professional) dari PMI (Project Management Institute), serta CSCP (Certified Supply Chain Professional) dari AP”CS (the association for supply chain management). “Selain itu, insya Allah, saat ini saya juga sedang menyempurnakan roadmap penelitian untuk mengejar target optimistis tahun 2022 dan target realistis tahun 2026 untuk menjadi seorang Guru Besar di bidang Teknik Industri. Artinya, saya berharap bahwa, sebelum usia 45 tahun saya telah menjadi profesor,” harapnya.

Penggemar warna hitam, merah dan biru ini menilai bahwa, perkembangan ilmu yang ditekuninya saat ini sudah sangat pesat. Secara internasional, ilmu Teknik Industri sudah bergeser menjadi Industrial and System Engineering. Artinya, bidang ilmu ini semakin menunjukkan perannya yang sangat komprehensif. Perubahan ini juga sebagai bentuk kesiapan disiplin ilmu Teknik Industri, khususnya sub-bidang Healthcare System, dalam menghadapi penerapan Universal Health Coverage di Indonesia, yaitu JKN-KIS (BPJS) serta Industry 4.0.

Di Indonesia, masih ada dikotomi bahwa, ilmu Teknik Industri itu hanya identik dengan pabrik atau bidang manufaktur saja. Teknik Industri sebenarnya memiliki peran penting di bidang manufaktur, sistem layanan kesehatan, perbankan, politik, logistik dan rantai pasok, serta ekonomi mikro dan makro, sistem informasi terintegrasi, sistem jasa maupun bidang lainnya, yang di dalamnya terdapat elemen manusia, uang, informasi, mesin, material serta metode.

Faktor yang menyebabkan Indonesia mengalami kondisi seperti sekarang ini adalah, anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN yang belum tepat sasaran, serta tata kelola bidang kesehatan yang belum merata. Termasuk juga otonomi daerah yang belum sesuai dengan definisi sesungguhnya dalam hal distribusi pembangunan serta pemerataan ekonomi, dan ego-sentris pada masing-masing profesi.

Juga mulai hilangnya penerapan 3 kata ajaib di kalangan masyarakat Indonesia, yakni ’maaf’,’tolong’, dan ’terima kasih’, serta kondisi stabilitas politik yang masih lemah. Untuk membenahi kondisi Indonesia saat ini, dibutuhkan sedikitnya waktu 30 tahun untuk bisa membawa Indonesia menjadi sebuah negara maju yang benar-benar berdaulat, baik secara politik, ekonomi maupun bidang lainnya. (E-018)***