Pilkada Serentak, Uang Banyak Beredar

81

BISNIS BANDUNG- Masyarakat  yang bekerja di sektor bisnis dan perdagangan tidak perlu khawatir dengan ajang politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 16 kabupaten/kota, termasuk Pilgub. Bahkah, Pilkada bakal mendorong kenaikan perdagangan dan perekonomian.

Melalui momen Pilkada  yang pucaknya  berlangsung 27 Juni 2018 dipastikan  banyak pasangan calon gubernur/wagub, bupati/walikota serta wakilnya yang memesan asesoris kampanye dan keperluan logistik lainnya.

“Ini tahun politik kang, sehingga uang beredar banyak. Baik  cetak kaos, sablon maupun  orang ngumpul pasti sediakan makanan. Jadi peergerakan ekonomi di daerah pasti meningkat,” ungkap Wili (56) pengusaha garmen di bilangan Terusan Kopo Bandung, pekan ini.

Dia mengingatkan lantaran  ada kenaikan, maka perlu diawasi  perdagangan saat Pilkada. Sebab bisa saja banyaknya uang beredar sangat rentan terjadi inflasi. Oleh karena itu, diperlukan  strategi untuk menekan inflasi tersebut. Salah satunya, dengan menekan harga bahan pokok.

Deden (43) pedagang beras di Pasar Sayati Kab.Bandung, ia merasa lega pemerintah telah menerapkan  harga eceran tertinggi (HET) pada empat bahan pokok yakni, beras, gula, minyak, dan daging sapi. Walau realitasnya belum sepenuhnya dijalankan, tapi sudah ada cuannya yang lambat laun bisa dilaksanakan.

Kepada pers, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) Eddy Ganefo mengatakan, memasuki tahun politik dunia usaha butuh suasana da­mai yang mendukung keberlang­sungan usahanya. “Maka, semua pihak hendaknya menghindari terciptanya kegaduhan pada tahun politik ini,” kata Eddy, di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan, kegaduhan politik sangat berdampak pada keberlangsungan dunia usaha karena investor akan menunda investasinya sampai kegaduhan ini berlalu. “Masyarakat pun akan menunda dan menahan diri untuk melakukan aktivitas ekonominya hingga kegaduhan itu berakhir,” ungkapnya.

Eddy menyarankan, pemerin­tah dan aparat keamanan menja­min rasa aman dalam memasuki tahun politik. Selama ini, inves­tor selalu cenderung menahan ekspansi di tahun-tahun politik jika situasi tidak kondusif atau terjadi kegaduhan.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat menilai Pilkada di daerah Pulau Jawa akan menjadi kontestasi politik yang sengit. Meski indus­tri tahun ini menuai berkah dari konsumsi penggunaan atribut partai, tapi pihaknya berharap Pilkada tak menggangu investasi di Tanah Air.

“Indonesia harus lebih baik da­lam berpolitik yang beradab, per­tarungan boleh keras tapi penuh etika agar perekonomian bisa berjalan dengan baik,” ujar dia.

Sebagaimana diketahui Pilgub Jabar telah melahirkan empat pasangan bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur. Secara matematis, pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang memiliki dukungan paling banyak. Meski hanya diusung oleh dua partai yakni Demokrat (12) dan Golkar (17), tapi total jumlah kursi di DPRD Jabar dalam poros ini mencapai 29 kursi.

Terbesar kedua yakni pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Kubu ini diusung oleh PKS (12), Gerindra (11) dan PAN (4). Tiga partai itu menyumbang 27 kursi DPRD Jawa Barat.

Sementara Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum memiliki 24 kursi DPRD Jabar. Pasangan ini diusung oleh PPP (9), PKB (7), NasDem (5) dan Hanura (3). Terakhir, pasangan TB Hasanuddin dan Anton Charliyan yang hanya diusung oleh PDIP dengan jumlah 20 kursi DPRD Jabar.

Namun banyaknya kursi di legislatif, hampir dipastikan tak berpengaruh besar dengan kemenangan di eksekutif. Terlebih, karakter calon gubernur dan calon wakil gubernur menjadi pengaruh paling besar untuk dipilih oleh warga Jabar sang pemilik suara.(B-002)***