Amazon Bayar Denda Rp379 Juta Kelalaian Penyebab Kematian

100
Amazon, the US e-commerce and cloud computing giant is said to hire 1,000 people in Poland. The company already hires almost 5,000 people in Poland and has service centers in Gdansk, Wroclaw and Poznan ON 14 April 2016. (Photo by Jaap Arriens/NurPhoto via Getty Images)

AMAZON harus membayar dana sekira USD28.000 atau Rp379 juta, setelah sebuah inspeksi oleh negara bagian Indiana menemukan pelanggaran keamanan kerja di sebuah gudang.

Diketahui, seorang pekerja berusia 59 tahun terbunuh pada akhir September. Associated Press melaporkan korban, Phillip Terry dari Indianapolis meninggal dengan luka parah saat sebuah lift jatuh menimpanya.

Saat itu, Terry tengah melakukan pekerjaan pembersihan berkala. Ia meninggal pada 24 September, di sebuah fasilitas Amazon di pinggir kota Indianapolis.

Dalam surat sebanyak sembilan halaman ke Amazon, Departemen Tenaga Kerja Indiana menggarisbawahi empat pelanggaran yang dapat membawa denda masing-masing USD7.000 atau sekira Rp94 juta. Termasuk kegagalan untuk memberikan pelatihan yang memadai, dan untuk mengembangkan juga mendokumentasikan prosedur keselamatan tertentu.

Namun, Amazon bisa mengajukan banding atas aduan penalti kasus ini. Juru bicara Amazon mengatakan bahwa perusahaan tersebut tidak mengomentari penyelidikan yang sedang berlangsung, tetapi mengeluarkan sebuah pernyataan.

“Keselamatan adalah prioritas nomor satu kami, dan seperti yang kami lakukan pada kejadian apa pun, kami meninjau praktik dan protokol kami untuk memastikan kesejahteraan karyawan kami.

Setiap insiden keselamatan yang terjadi dalam operasi kami terlalu banyak,” ungkap Amazon dalam sebuah pernyataan resmi.

Juga pada September, seorang pekerja berusia 28 tahun bernama Devan Shoemaker yang meninggal di sebuah gudang Amazon di Carlisle, Pennsylvania. Menurut sebuah laporan berita setempat, Shoemaker ditabrak oleh sebuah truk di dekat dermaga barang.

Sedangkan, seorang pekerja Amazon lainnya tewas dalam sebuah kecelakaan di fasilitas yang sama pada 2014. Sering kali, Amazon mendapat kecaman dalam beberapa tahun terakhir karena memiliki sistem kerja yang buruk.

Meski begitu, seiring bisnis ritel Amazon terus melanjutkan pertumbuhannya yang cepat, perusahaan tersebut dengan gigih membangun gudang-gudang dan menambah fasilitas ini untuk tetap mengikuti permintaan konsumen. Demikian dinukil dari Recode, Minggu (12/11/2017).

(C-003)***