Dari ”Petik-Jual” ke Manufaktur

164

TAHUN 2016 Indonesia menempati peringkat 4 dari 15 negara di dunia dalam hal sumbangan industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Divisi Statistik PBB menentukan standar sumbangan industri terhadap PDB di atas 10 persen.. Peringkat pertama dunia ditempati Korea Selatan 29%, Tiongkok 27%, Jerman 23%, dan Indonesia 22%.

Selain itu, menurut laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), seperti dimuat PR (29/1), Indonesia berada pada urutan ke-9 dalam kategori manufacturing value added (MVA), naik satu tingkat dari ke-10 pada tahun sebelumnya. Posisi itu sejajar dengan Brasil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara-negara ASEAN lainnya.

Posisi itu sangat membanggakan rakyat Indonesia. Sumbangan industri manufaktur terhadap PDB dan  MVA Indonesia di tingkat dunia dapat melampaui negara lain yang sudah terlebih dahulu beralih dari komoditas ke industri manufaktur. Wajar apabila pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis manufaktur. Selama ini ekspor Indonesia masih mengandalkan komoditas dan energi khususnya migas. Hal itu, baik secara kuantitas maupun kualitas, tidak terlalu menguntunglkan. Ekspor barang mentah, tidak dapat mendongkrak pertumbuhan eknomi. Nilai tambah hanya akan didapat dari hasil industri manufaktur. Sistem perdagangan ”petik- jual” sudah sangat tertinggal.

Harga komoditas di pasar global sangat rendah dibanding barang jadi hasil industri manufaktur. Sedangkan industri pengolahan, selain harga jual hasilnya jauh lebih tinggi, ”gengsi” sebagai bangsa yang kreatif dan inovatif akan cepat meningkat. Industri manufaktur mempunya daya tarik sangat tinggi bagi kaum investor. Bahan baku yang melimpah di tanah air juga akan punya nilai lebih. Begitu pula sumbangannya terhadap SDM lokal cukup tinggi. Tenaga kerja akan terserap jauh lebih banyak di sektor industri daripada di sektor ”petik-jual”.

Pemerintah, pebisnis, dan sebagian besar rakyat, berharap, para petani, penambang, menghasilkan bahan baku industri bukan menjual langsung hasil pertanian dan penambanmgannya. Kaum industri yang ditopang para investor, mampu menerapkan teknologi tinggi agar semua bahan baku  tersebut diolah menjadi hasil industri manufaktur. Kita tidak mengekspor batubara, bijih besi, buah-buahan, hasil hutan, dan komoditas lainnya. Semuanya diserap oleh industri manufaktur yang mampu mengubah bahan baku itu menjadi beragam hasil industri dengan nilai jual sangat tinggi.

Namun tentu saja, sebagai bangsa yang tahu akan nilai gizi dan kesehatan, tidak boleh menghabiskan hasil pertanian untuk industri. Masyarakat membutuhkan buah-buahan dan sayuran bagi pemenuhan kebutuhan badaniahnya. Komoditas atau ”petik-jual” memiliki nilai gizi dan kegunaan yang lebih baik dari makanan kemasan. Industri pengolahan harus dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Komoditas atau ”petik-jual” hasil pertanian harus tetap dapat memenuhi pasar domestik.

Pertumbuhan industri manufaktur benar, amat menguntungkan dan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, namun kita harus mampu mengantisipasi dampaknya. Pertumbuhan industri manufaktur hampir selalu berdampak negatif terhadap lingkungan hidup, perilaku manusia di sekitarnya, dan budaya serta nilai-nilai kearifan lokal. Industri manufaktur hampir selalu menimbulkan pencemaran udara dan air, ingar-bingar kaum buruh, urbnanisasi, dan persaingan tidak sehat.

Nilai tambah rupiah dari hasil industrki manufaktur jangan sampai mengorbankan lingkungan hidup, kehidupan beragama,  budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal. Kita butuh pertumbuhan industri manufaktur bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Kita juga butuh keamanan, ketentraman, lingkungan hidup yang bersih dan sehat untuk meningkatkan kesjahteraan lahir batin. ***