Situs Megalitik Hunyur Kedoya Peninggalan Kerajaan Sunda di Lereng Gunung Salak

261

Batu-batu besar yang letaknya beraturan lagi , namun bila diamati dengan seksama, masih terlihat ada pola keteraturan. Batu – batu besar ini terletak di tengah pesawahan, sekitar 200 meter di sisi selatan Punden berundak Saunggalah. Semula kawasan ini merupakan bukit kecil yang tertutup tanah, sewaktu tanahnya dibersihkan, mencuat batu-batu besar tersebut. A.M.Sumawijaya menamakan Megalitik Kadoya dengan situs Jagaraksa.

 Fenomena arkeologisnya,  antara lain ditemukan bentuk susunan batu temu gelang yang posisinya sudah  terganggu, juga beberapa menhir besar dari batu pipih yang telah miring, bahkan rebah. Salah satu menhir besar , berukuran tertinggi 1,96 meter,  lebar 1,55 meter.

Pada bagian barat situs  terdapat dua batu berdiri sejajar seakan-akan menjadi “pintu masuk” ke bagian dalam yang dipenuhi berbagai ukuran batu besar.

Peninggalan megalitik lainnya di wilayah Sindangbarang dan sekitarnya, yakni Punden Rucita, Punden Pasir Ater, Punden Pasir Karamat I, Punden Pasir Karamat II, Punden Batu Karut, Punden Batu kursi, Batu datar Patilasan Surya Kancana, diperkirakan ada 63 situs.

Situs-situs megalitik itu saat ini ada yang terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk, di tengah pesawahan, atau lahan yang dikeramatkan karena dianggap angker.

Kronologinya kepurbakalaan Sindangbarang secara relatif, berdasar kehadiran Taman Sri Bagenda, dapat dihubungkan dengan istana kerajaan Sunda yang mempunyai 5 bangunan keratonnya (Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati).

Bagian yang tersisa dari Taman Sri Bagenda keraton Sunda Kuna saat ini hanya mata air  (sumur Jalatunda) dan kolam yang sangat mungkin dahulu dilengkapi pula dengan bangunan bale kambangnya (terdapat dua batu besar di tengah kolam sebagai alas tiang bangunan).

Taman Sri Bagenda dahulu tentunya indah dan asri, di lereng Gunung Salak, lahan taman dibuat bertingkat-tingkat (dinding teras-terasnya masih tersisa hingga sekarang).

Mungkin dahulu terdapat jalan yang menghubungkan istana Pakuan Pajajaran yang terletak di sisi timur Sungai Ciomas dan kompleks Taman Sri Bagenda yang terletak di daerah barat sungai.

Di taman itulah raja Sunda Kuna dan kerabatnya dahulu pergi menentramkan diri dan juga bermeditasi menghadap Hyang yang bersemayam di puncak Gunung Salak. Apabila naskah-naskah Jawa-Bali bertutur tentang Taman Bagenda sekitar abad ke-15-16, maka pada waktu itulah Taman Bagenda dikenal, tentunya dikenal juga di lingkungan budaya Sunda Kuna.

Dapat diperkirakan bahwa Taman Sri Bagenda dahulu berfungsi dan berperanan pada sekitar era terakhir kerajaan Sunda (abad ke-15 hingga awal abad ke-16 M).

Punden berundak dan monumen batu-batu besar lainnya merupakan peralatan ritus yang dibangun sekitar masa yang sama, tujuannya untuk memuliakan Hyang. Mungkin sekali berbagai megalitik tersebut dibangun oleh masyarakat kerajaan Sunda Kuna yang bermukim di sekitar pusat kerajaan Sunda, jika Pakuwan Pajajaran terletak di Bogor,  logis  apabila lereng utara Gunung Salak dipenuhi oleh berbagai bentuk megalitik sebagai sarana pemujaan kepada Hyang.

Ketika tentara Islam Banten menyerbu dan merebut pusat kerajaan Sunda (Pakuwan Pajajaran), dengan sendirinya Taman Sri Bagenda dan bermacam media pemujaan kepada Hyang di lereng utara Gunung Salak tersebut diabaikan , sekarang yang tertinggal hanya sisa-sisanya.

Tafsiran sementara yang dapat dikemukakan sangat mungkin kepurbakalaan yang berbentuk megalitik di wilayah Sindangbarang tersebut berasal dari fase terakhir kerajaan Sunda kuna, berarti berada dalam zaman sejarah, bukan dari periode prasejarah.

Maka dari itu dapat pula dinyatakan bahwa pada masa akhir kerajaan Sunda Kuna masih dikenal bentuk-bentuk tradisi megalitik, suatu ritus pemujaan kepada Hyang dan Karuhun yang medianya menggunakan monumen atau struktur batu yang dikerjakan secara sederhana.

Adanya upacara serentaun yang senantiasa diadakan setiap tahun di wilayah Sindangbarang dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap peninggalan kuno tersebut. Lokasi yang berdekatan dengan Kota Bogor, akan dapat membawa dampak positif bagi pemanfaatannya, misalnya untuk pariwisata.

Adanya dilema yang selalu dihadapi oleh situs yang baru ditemukan, perlu dipublikasikan tetapi ada kekahwatiran jika masyarakat luas mengetahui akan datang berbondong-bondong dan berupaya memiliki artefak-artefak tertentu dari situs secara ilegal.( E-001/BBS) ***