Bea Cukai Amankan Ribuan Botol Miras Oplosan

106

Kantor wilayah Dirjen Bea dan Cukai Jawa barat mengamankan ribuan botol miras oplosan, dengan pita cukai bekas pakai, yang diproduksi di Bojongsoang kabupaten Bandung. Selain itu, diamankan pula ribuan batang cerutu impor dan rokok yang tidak dilekati pita cukai, yang beredar di Jawa Barat. Pengamanan dilakukan, karena barang-barang tersebut dapat mengganggu kesehatan masyarakat, dan mengakibatkan kerugian negara hingga ratusan juta rupiah.

Ribuan botol miras berbotol produksi pabrik resmi yang dioplos dan dilekati pita cukai bekas pakai atau palsu, diamankan kantor wilayah Direktorat Jendral Bea dan Cukai Jawa Barat di akhir 2017 dan awal tahun 2018.

Pada 3 Februari lalu, petugas menindak produksi ilegal barang kena cukai berupa minuman mengandung etil alkohol di sebuah rumah di kecamatan Bojongsoang kabupaten Bandung.

Diamankan 3 ribu 7 ratus 5 puluh dua minuman beretil alkohol golongan B produksi dalam negeri merk Kuda Mas, Orang Tua, dan Intisari, dua ribu delapan puluh lima keping pita cukai diduga bekas pakai, alat produksi untuk mengoplos, dan bahan baku pengoplosan. Seorang tersangka perempuan berinisial TR pun diamankan.

Sebelumnya, pada 10 Desember 2017, petugas mengamankan 3 ribu seratus lima puluh enam minuman mengandung alkohol golongan a, b, dan C produksi dalam dan luar negeri berbagai merek, yang tidak dilekati pita cukai, di kecamatan Cimahi tengah kota Cimahi.

Selama awal 2018, petugas pun mengamankan sepuluh ribu lebih cerutu impor, 15 ribu lebih batang rokok produksi dalam negeri, seratus lima puluh gram tembakau iris impor, dan dua rtaus dua puluh satu gram lebih tembakau iris produksi dalam negeri, yang tidak dilekati pita cukai.

Menurut Kepala Kantor wilayah DJBC Jabar, akibat kegiatan produksi dan penjualan barang ilegal tersebut, negara berpotensi menderita kerugian milyaran rupiah, dan kesehatan masyarakat yang mengonsumsinya pun dapat terganggu.Para pelaku pun terancam hukuman pidana satu hingga delapan tahun penjara, dan denda milyaran rupiah.

Budi Hartati, Bandung TV