Tantangan Wanita Pengusaha Oleh YAYAT HENDAYANA

91

WANITA yang menjadi pengusaha mempunyai tantangan yang lebih berat dari kaum lelaki pengusaha. Selain tantangan eksternal, wanita pengusaha pun dihadapkan pada tantangan internal. Itulah sebabnya, Jumlah wanita pengusaha lebih rendah dari lelaki pengusaha. Seorang pengusaha tentu harus berhubungan dengan banyak pihak dalam upayanya memperluas klien. Hubungan dengan banyak pihak inilah yang seringkali menimbulkan masalah.

Wanita pengusaha yang telah berkeluarga, seringkali tidak leluasa dalam melebarkan sayap usahanya. Terlebih apabila wanita pengusaha itu mempunyai suami yang pencemburu.

Beruntung sekali seorang wanita pengusaha bila suaminya penuh pengertian bagaimana pentingnya menjalin kemitraan bagi seorang pengusaha.Padahal, seorang wanita pengusaha mempunyai banyak keunggulan dibanding lelaki pengusaha.

Kelebihan wanita pengusaha dikemukakan langsung oleh Gubernur Jawa Barat pada pembukaan Rakerda DPD Iwapi Jawa Barat, Kamis (8/2) lalu. Gubernur Jawa Barat mengatakan bahwa wanita pengusaha mempunyai karakter yang ulet dan sangat taat pada aturan yang ditentukan.

Tetapi kontribusinya terhadap perkembangan perekonomian belumlah sebesar yang diharapkan. Kontribusi itu masih bisa ditingkatkan. Peningkatan itu dimungkinkan apabila wanita pengusaha berupaya memadukan karakteristik yang ulet dan taat aturan itu dengan keberanian mengambil risiko.

Wanita pengusaha, menurut Ahmad Heryawan, tidak berani “melompat”. Wanita pengusaha perlu membuka mindsetnya, serta meningkatkan semangatnya agar bisnis yang dikelolanya bisa berkembang lebih baik, sehingga kontribusinya terhadap perekonomian, baik daerah maupun nasional, akan  lebih besar lagi.

Peluang bisnis di Jabar, dari hulu hingga ke hilir, sedemikian rupa besarnya. Banyak kegiatan bisnis dari peluang yang besar itu yang dapat digarap oleh wanita pengusaha. Kuncinya itu tadi, mengkombinasikan keuletan dan ketaatan pada aturan dengan keberanian mengambil resiko.

Resiko paling besar yang dihadapi wanita pengusaha adalah resiko internal sebagaimana dikemukakan di atas. Perlu pengertian dan kesabaran yang tinggi dari para suami yang mempunyai istri sebagai wanita pengusaha. Para suami dari wanita pengusaha itu mesti menyadari bahwa menjalin kemitraan yang luas merupakan salah saatu hal yang penting.

Para pengusaha wanita pada umumnya, bukan karena “tidak berani melompat” sebagaimana dikemukakan Gubernur Jabar, bukan pula kurang semanagat, melainkan karena dihadapkan pada tantangan internal tersebut. Keutuhan keluarga, tampaknya menjadi perhatian utama para wanita pengusaha.

Itulah yang menyebabkan kegiatan bisnis yang dilakukan oleh wanita pengusaha tidak berkembang sebagaimana diharapkan.Sesunggunya, di zaman teknologi industri tingkat empat (4.0) sekarang ini, berbisnis sambil tetap memperhatikan keutuhan keluarga bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dilakukan.

Kegiatan tatap muka dalam menjalin kemitraan bisa diatasi dengan media sosial. Dengan menggunakan komunikasi digital, kemitraaan tatap muka bisa ditekan serendah mungkin. Namun komunikasi digital itu tidak lantas mampu mengatasi tantangan internal para wanita pengusaha.

Kita seringkali mendengar dan membaca bagaimana perselingkuhan kerap terjadi dengan memanfaatkan komunikasi digital.Tantangan yang dihadapi wanita pengusaha, baik internal maupun eksternal, terpulang kepada pribadi wanita pengusaha sendiri.

Ada wanita pengusaha  yang  sukses dengan kegiatan bisnisnya, sekaligus juga sukses membangun keutuhan keluarganya, ada pula sebaliknya.  Usahanya tidak berkembang, dan keluarganya berantakan.

Tentu karena wanita pengusaha itu tidak mampu memanfaatkan kepercayaan yang telah diterimanya, baik dari suami maupun mitra bisnisnya. Padahal, kepercayaan (trust) itu adalah modal sosial yang paling penting, yang lebih besar manfaatnya dari modal kapital.***

Yayat Hendayana, dosen

Program sarjana dan pascasarjana Unpas.