Tradisi Begalan saat Hajat Pernikahan Berkembang Sejak Bupati Ba­nyumas ke XIV Raden Adipati Tjokronegoro

113

Selain kaya akan destinasi wisata alam,di wilayah Baturaden ada sebuah tradisi yang terus dipelihara oleh masyarakat. Tradisi Begalan merupakan satu dari sekian banyak tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Begalan menjadi bagian dari adat yang dilakukan dalam rangkaian pada resepsi pernikahan. Berbagai  makna dan pesan bagi masyarakat terkandung pada tradisi ini, tradisi Begalan yang biasa dilaksanakan dalam rangkaian resepsi pernikahan.

Jika yang dinikahkan adalah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan.   Pagelaran Begalan pada resepsi pernikahan dipercaya dapat membawa kebaikan bagi pasangan pengantin dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Di daerah Banyumas, tradisi Begalan ini menjadi bagian yang terpenting dalam prosesi pernikahan adat. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat Banyumas terhadap tradisi ini, seringkali pernikahan dinilai belum lengkap jika tradisi Begalan belum terlaksana.

Di dalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung di dalamnya, yaitu wejangan dari sesepuh selain di dalamnya ter­kandung pesan atau wejangan yang ditujukan kepada mempelai pasangan pe­ngantin.

Menurut para pakar budaya di Banyumas, tra­disi begalan muncul sejak Pemerintah Bupati Ba­nyumas ke XIV, yakni Raden Adipati Tjokronegoro (tahun 1850). Pada jaman itu Adipati Wirasaba berhajat mengawinkan putri bung­sunya Dewi Sukesi dengan Pangeran Tirtokencono, putra sulung Adipati Ba­nyumas.

Satu minggu se­telah pernikahannya Sang Adipati Banyumas ber­kenan memboyong kedua mempelai dari Wirasaba ke Kadipaten Banyumas (ngun­duh temanten), berjarak kurang lebih 20 km.

Setelah menyeberangi sungai Serayu dengan me­nggunakan perahu tambang, rombongan yang dikawal sesepuh dan pengawal Kadi­paten Wirasaba dan Ba­nyumas, di tengah per­jalanan yang angker di­hadang oleh seorang begal (perampok) berbadan tinggi besar, hendak merampas semua barang bawaan rombongan pengantin.

Terjadilah peperangan antara para pengawal melawan begal  yang mengaku sebagai penunggu daerah tersebut.Pada saat pertempuran akhirnya begal dapat di­kalahkan. Kemudian lari menghilang masuk ke dalam hutan yang dikenal angker. Perjalanan dilanjut­kan kembali, melewati Desa Sokaweradan Kedunguter.

Sejak itu para leluhur daerah Banyumas berpesan kepada anak cucunya agar mentaati tata cara per­syaratan perkawinan, di­kandung maksud agar kedua mempelai terhindar dari marabahaya.

Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagaimana layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu, diutamakan gerak tarinya selaras dengan irama gending.

Jumlah penari dua orang, seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur) yang bernama Gunareka , dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok yang bernama Rekaguna.

Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya membawa pedang kayu yang bernama wlira. Kostum pemain cukup sederhana, umumnya  mengenakan busana Jawa.

Pelaku begalan dua orang, mereka berdialog saling tegang diiringi oleh irama musik tradisional gamelan sederhana (kenong, kendang dan gong). Memakai busana dengan warna dasar hitam/putih/merah/biru.

Semua dialog mengunakan bahasa Jawa Banyumasan yang dikenal dengan bahasa Ngapak atau Nyablak.Kedua pelaku adalah perwakilan dari kedua mempelai. Pada saat mempelai saling argumentasi dan bertanya jawab, wakil mempelai pria disebut Surantani atau Juru tani.

Sedang wakil dari pihak mempelai wanita disebut Surandenta. Konon sebutan nama Sura diambil dari pelaku seni Begalan yang dulu sangat terkenal yang berasal dari Desa Suro, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas.

Mereka mempunyai tugas yang berbeda. Surantani mengantar peralatan dapur dengan sebuah pikulan yang disebut Bronong Kepang menuju mempelai wanita. Sedang Surandenta menjaga mempelai wanita, menyambut datangnya mempelai pria yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Sesuai tugasnya, alat yang dipegang Surandeta adalah pemukul yang disebut sebagai pedang Wlira yang berfungsi sebagai pemukul periuk. Periuk terbuat dari tanah liat yang berasal dari tanah desa Ganbarsari, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalinnga yang berisi nasi kuning.

Ketika periuk pecah dan penonton yang sebagian besar anak-anak  berebutan memungutnya sebagai pertanda berakhirnya pementasan tradisi Begalan.

Menurut adat dan kepercayaan, beras dan isinya berupa makanan diberikan sebagai sesaji kepada Iwen supaya Wredi. Artinya supaya beranak, sehat lahir batin, selamat dunia akhirat. Pertunjukan seni begalan biasa diselenggarakan dirumah mempelai wanita.

Perlengkapan yang digunakan pada saat pentas seni Begalan :

  1. Pikulan atau mbatan

Adalah alat pengangkat brenong kepang bagi peraga yang bernama Gunareka. Begal ini dari pihak pengantin pria atau kakung. Alat ini terbuat dari bambu yang melambangkan seorang pria yang akan berumah tangga harus dipertimbangkan terlebih dahulu, jangan sampai merasa kecewa setelah pernikahan, sehingga ketika seorang pria mencari seorang calon isteri  harus dipertimbangkan bibit, bobot, dan bebetnya.

  1. Pedang Wlira

Alat yang digunakan sebagai pemukul dengan ukuran panjang 1 meter, tebal 2cm, dan lebar 4 cm. Terbuat dari kayu pohon pinang. Pedang Wlira dibawa oleh Rekaguna dari pihak pengantin wanita yang menggambarkan seorang pria yang bertanggungjawab, berani menghadapi segala sesuatu yang menyangkut keselamatan keluarga dari ancaman bahaya.

  1. Brenong Kepang

Barang – barang yang dibawa oleh Gunareka utusan dari keluarga mempelai pria berupa alat – alat dapur , antara lain :

Ian , alat untuk nasi terbuat dari anyaman bambu yang menggambarkan bumi tempat kita berpijak.

Ilir berupa kipas yang terbuat dari anyaman bambu , melambangkan seseorang yang sudah berkeluarga agar dapat membedakan perbuatan baik dan buruk, sehingga dapat mengambil keputusan yang bijak saat sudah berumah tangga.

Cething, alat yang digunakan untuk tempat nasi terbuat dari bambu. Melambangkan bahwa manusia hidup di masyarakat tidak boleh semaunya sendiri tanpa mempedulikan orang lain dan lingkungannya.Manusia adalah mahluk sosial yang butuh orang lain

Kukusan, alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut yang mempunyai arti kiasan, bahwa seseorang yang sudah berumah tangga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup semaksimal mungkin.

Centhong , alat untuk mengambil nasi terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Maksudnya seorang yang sudah berumah tangga mampu mengoreksi diri sendiri atau introspeksi, sehingga ketika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak (suami dan istri) dapat terselesaikan dengan baik. Selalu bermusyawarah dan mufakat,  sehingga terwujud keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan batin.

Irus, adalah alat untuk mengambil dan mengaduk sayur yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Melambangkan jika sesorang yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan pria atau wanita lain yang  mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga.

Siwur, adalah alat untuk mengambil air terbuat dari tempurung kelapa yang masih utuh dengan melubangi di bagian atas dan diberi tangkai. Siwur merupakan kirata basa yaitu, asihe aja diawur – awur. Artinya, orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengendalikan hawa nafsu, jangan suka menabur benih kasih saying kepada orang lain.

Saringan ampas atau kalo adalah alat untuk menyaring ampas terbuat dari anyaman

Bambu yang memiliki arti, bahwa setiap ada berita yang datang harus disaring atau harus hati – hati

Wangkring adalah pikulan dari bambu. Filsafatnya di dalam menjalani hidup ini berat ringan, senang susah hendaklah dipikul bersama antara suami dan istri . (E-001) ***