Ekspor Jabar Didominasi Nonmigas

39

PRESIDEN  Joko Widodo pernah bicara agak keras ketika diketahui, angka ekspor Indonesia jauh di bawah negara tetangga. Indonesia berada di peringkat keempat setelah Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan terkejar oleh Vietnam. Negara-negara itu berpenduduk sedikit tapi nilai ekspornya tinggi. Sedangkan Indonesia berpenduduk sangat banyak, ekspornya sedikit, kkata Presiden.

Nada tinggi yang disuarakan Presiden Jokowi itu wajar apabila dilihat dari sudut potensi. Indonesia memiliki potensi sangat besar dilihat dari segi apa pun dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

Namun sebenarnya, menurunnya nilai ekspor Indonesia tidak perlu terlalu diratapi. Kalau kita lihat, kini tengah terjadi perubahan jenis barang ekpor Indonesia.

Barang ekspor yang semula didominasi komoditas, sekarang bergeser ke barang manufaktur.Perubahan itu patut disyukuri karena ekspor produk manufaktur jauh lebih bernilai darpada komoditas. Nilai itu bukan hanya dilihat dari harga tetapi juga dari ”gengsi dan harga diri”.

Masuknya produk manufaktur Indonesia ke pasar global dapat menjadi tolok ukur, Indonesia sudah tergolong sebagai negara industri. Kita tahu, ukuran sebuah negara disebut maju atau tertinggal itu terutama dari sisi industri.

Ekspor komoditas dinilai orang sebagai hasil pertanian dan negara yang masih mengandalkan pertanian, sering disebut sebagai negara agraris, belum maju, atau tertinggal. Pendapat itu tidak 100 persen benar, tetapi secara teks book, paradigma itu masih menjadi cap bagi negara nonindustri.

Nilai ekspor stagnan juga mungkin karena dunia usaha kita justru mulai melirik pasar domestik.Produksi nasional kita dipompa agar dapat memenuhi tuntutan pasar domestik. Bagaimana pun, Indonesia merupakan pasar sangat potensial bagi semua negara pengekspor.

Pada era pasar ASEAN, semua negara ASEAN berlomba menguasai pasar Indonesia. Mengapa produk kita selalu didorong untuk ekspor padahal negara lain justru amat tertarik dengan pasar Indonesia.

Asal produk kita benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kita tidak usah terlalu terfokus pada ekspor. Kuasailah pasar kita terlebih dahulu, baru kemudian bergelut di pasar global.

Ada yang sedikit melegakan. Nilai ekspor Jawa Barat tahun 2017 justru naik dibanding tahun sebelumnya. Menurut BPS, nilai ekspor Jabar mencapai 29,179 miliar dolar AS naik dari 25,726 miliar dolar AS pada tahun 2016.

Pertumbuhan ekspor Jabar itu ditopang ekspor nonmigas. Kontribusi tertinggi dari 10 jenis barang ekspor Jabar ialah ekspor mesin atau peralatan listrik. Artinya ekspor Jabar sudah memasuki era industri, bukan komoditas.

Tumbuhnya ekspor Jabar justru berbanding terbalik dengan nilai impor. Tahun 2017 nilai impor Jabar turun meskipun hanya sendikit. Tahun 2016 impor Jabar mencapai 11,9 miliar dolar AS, tahun 2017 turun menjadi 11,81 miliar dolar AS.

Jabar masih harus mengimpor bahan baku industri terutama dari Tiongkok sebagai dampak masuknya investasi dari negeri tirai bambu itu. Tumbuhnya ekspor Jabar mudah-mudahan menjadi penawar dahaga pemerintah dan masyarakat  Indonesia. ***