Investasi Pada Tahun Politik Mengapa Tidak?, Oleh May Abduh

87

PELAKU usaha dan kaum investor dapat berniaga dan berinvestasi dengan aman di Jabar meskipun berlangsung pilkada serentak tahun 2018 ini. Mereka tidak harus merasa terganggu apalagi terancam. Hal itu disampaikan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Bandung. Berkaca pada pilkada 2008 dan 2013, ternyata di Jabar tidak  tercatat adanya konflik di sejumlah daerah.

”Apalagi sudah ada komitmen Polri, TNI, ulama, serta tokoh lintas agama, menciptakan pilkada yang aman,” kata Aher. Mudah-mudahan.!

Tensi politik jelang Tahun Politik 2018 – 2019 terus naik. Pengundian nomor parpol pada Pemilu 2019 yang diselenggarakan KPU, Minggu kemarin, merupakan garis star bagi parpol peserta pemilu.

Sedangkan penomoran calon gubernur dan calon bupati/walikota dilakukan terlebih dahulu. Wajar apabila cuaca kontestasi makin memuncak. Suasana panas pada masa cuaca yang cenderung memanas pula, merupakan indikator demokrasi di Indonesia berjalan normal.

Namun masyarakat tetap merasa khawatir suasana panas seperti itu  akan diwarnai dengan terjadinya kheos. Biasanya justru suasana yang cenderung  mendidih itu membuat para pelaku usaha merasa khawatir.

Banyak para pelaku usaha termasuk kaum investor sedikit mengekang laju aliran investasi. Mereka khawatir suasana kampanye yang ingar bingar akan mengganggu produktivitas tenaga kerja.

Dikhawatirkan pula banyak buruh yang justru terlibat langsung pada kampanye calon dan parpol. Alur distribusi juga dikhawatirkan akan terkendala kampanye apalagi tahun ini pilkada dilaksanakan secara serempak. Kemudian diikuti dengan pemilu 2019.

Seperti disampaikan Gubernur Ahmad Heryawan, para pengusaha dan investor, khusunya di Jabar, jangan terlalu khawatir. Dunia usaha akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Suasana tahun politik tidak secara signifikan berpengaruh buruk terhadap dunia usaha. Justru menjelang tahun politik, industri besar di Jabar terus tumbuh.

”Sepanjang tahun 2017 kinerja industri manufaktur besar dan sedang (IBS) di Jawa Barat menunjukkan pertumbuhan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Dody Herlando.Kenaikan itu mencapai 7,43% year to year (yoy). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada industri logam dasar.

Pertumbuhan IBS pada triwulan IV 2017 lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Sedikitnya terdapat lima industri mengalami pertumbuhan tertinggi, meliputi industri logam dasar naik 8,23%, industri kendaraan bermotor, termasuk trailer dan semi-trailer meningkat 8,15%. Industri angkutan lainnya naik 7%, industri percetakan dan reproduksi media rekaman naik 6.80%, industri pengolahan lainnya naik 6,59%.

Kenaikan kinerjka IBS itu, benar, tidak diikuti dengan kenaikan kinerja industri kecil dan menengah. Bahkan pada triwulan IV 2017 terjadi penurunan pada industri kulit dan barang dari kulit. Penurunan juga terjadi pada industri kimia, farmasi, peralatan listrik, serta industri makanan. Sedangkan industri muniman justru naik cukup tinggi.

Kinerja industri besar dan sedang  di Jabar jaih lebih tinggi dibanding IBS nasional. Pada triwulan IV tahun 2017, IBS nasional justru tumbuh melambat 0,59%.  Itu berarti, Jabar masih tetap aman bagi kaum investor menanamkan modalnya di provinsi berpenduduk terbesar di Indonesia ini.

Tahun politik di Jabar tidak secara signifikan berpengaruh buruk tehadap dunia usaha. Tahun politik justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, baik IBS maupun industri mikro dan kecil (IMK). ***.