35 Program Studi Dibutuhkan Industri

60

Pemerintah telah melakukan penyelarasan sebanyak 35 program studi yang dibutuhkan industri saat ini untuk diterapkan pada kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Ini merupakan hasil dari pelaksanaan program pendidikan vokasi yang diluncurkan Kemenperin dengan mengusung konsep Link and Match antara SMK dengan industri.

“Program studi yang belum ada,  di antaranya,  teknik ototronik dan teknik audio video. Ini yang tengah dibutuhkan oleh sektor industri otomotif, ada juga teknik robotik,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai peluncuran acara vokasi di Cilegon, Senin (5/3).

Kompetensi keahlian lainnya, yakni teknik permesinan, instalasi pemanfaatan listrik, elektronika, kimia industri, pengelasan, perbaikan bodi otomotif, pemeliharaan mekanik industri, konstruksi kapal baja, mekatronika, alat berat, dan pengecoran logam.

Selanjutnya, teknik pembuatan benang, produksi pakaian jadi, furnitur, kontrol mekanik, manajemen pergudangan, dan pelayanan produksi.

“Kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri harus terus dibangun guna mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing sektor manufaktur nasional,” papar Airlangga.

Apalagi, lanjut Airlangga, sektor manufaktur selama ini menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kontribusi dari pajak, cukai maupun ekspor yang nilainya cukup besar.

“Investasi bisa kita dapat dari mana saja, teknologi bisa kita beli, sedangkan SDM harus kita bangun. Tiga faktor penting ini yang dapat mengakselerasi pertumbuhan industri dan menggerakkan perekonomian nasional,” ujarnya.

Saat ini, Kemenperin memiliki sembilan SMK kejuruan, sembilan politeknik dan satu akademi komunitas yang menjadi rujukan bagi pengembangan pendidikan vokasi dengan sistem yang berbasis kompetensi serta link and match dengan dunia industri. (E-002)***