Sewaktu Mengemudi Dilarang Merokok, Mendengarkan Musik & HP

80

Pengendara mobil maupun sepeda motor saat berkendara dilarang  merokok, mendengarkan musik, menggunakan ponsel (HP). Pasalnya kebiasaan tersebut akan mengganggu konsentrasi saat mengemudi yang bisa menimbulkan kecelakaan. Hal itu disosialisasikan dalam Operasi Keselamatan Lodaya 2018 yang berlangsung sejak 5-25 Maret 2018.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jabar, AKBP Matrius mengatakan dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 Pasal 106 ayat 1 dinyatakan pengemudi wajib mengemudikan kendaraannya secara wajar dan penuh konsentrasi.

Kendati demikian, ujar Matrius larangan mengemudi sambil merokok atau sambil mendengarkan musik sebetulnya tidak ada dalam Undang-undang.

“Namun yang harus dihindari adalah jangan mendengarkan musik sambil berkendara secara berlebihan, sehingga konsentrasi jadi terganggu,” ujar Matrius.

Ia mencontohkan prilaku yang dilarang ketika pengemudi merokok saat melaju di jalan tol.

“Misalnya mengemudi di jalan tol dengan kecepatan tinggi, lalu membuka jendela dan merokok, sehingga hanya satu tangannya yang memegang setir, dikhawatirkan ini mengganggu konsentrasi,” ungkapnya.

Mendengarkan musik yang tidak boleh sewaktu berkendara , membunyikan musik  berlebihan yang dapat mengganggu konsentrasi.

“Dalam mendengarkan musik dalam artian mendengarkan musik berlebihan keras, kencang sehingga telinga tidak dapat mendengarkan suara klakson kendaraan lain, ini yang perlu dihindari,” tambahnya.

Menurutnya, banyak kasus kecelakaan  akibat tidak konsentrasi sewaktu mengemudi.

“Beberapa kasus kecelakaan salah satunya diawali dengan hilangnya konsentrasi, karena hal yang tidak wajar dalam mengemudi,” katanya.

Dikatakannya , pengemudi yang tidak mengemudikan kendaraannya secara tidak wajar akan dikenai ancaman hukuman tiga bulan penjara.

“Sangsinya sudah ada diatur dalam UU Nomor 22 tahun 2009 Pasal 283, dengan ancaman kurungan tiga bulan atau denda 750 ribu bagi pengemudi yang mengemudikan kendaraannya tidak wajar,”ungkapnya.

Menurut Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mendengarkan musik saat mengemudi bisa mengganggu konsentrasi. Indikasi konsentrasi terganggu yakni ketika pengemudi mulai bersenandung atau mulai mengetuk seperti pemain drum.

Saat konsentrasi terganggu, misalnya terbuai oleh musik, jelas Jusri, sanggup membuat gaya mengemudi berbeda. Masalahnya, kemampuan pengemudi untuk bereaksi atau mengambil keputusan pada kondisi itu bisa melambat. Hal itu membahayakan saat berada di jalan.

Undang-undang itu sebenarnya sama seperti di negara-negara lain, tetapi harus dibaca dengan seksama yang mengganggu konsentrasi. Saya khawatir salah persepsi . Yang saya maksudkan, mendengar musik sah-sah saja, tetapi tidak kehilangan konsentrasi,” kata Jusri.

Bila maksudnya melarang mendengarkan musik saat mengemudi seharusnya para produsen yang menjual mobil di Indonesia sudah diberi peraturan dilarang menyediakan sistem audio. Jusri mengatakan, upaya melarang pengemudi mendengarkan musik harus diimplementasikan dengan persepsi yang bijak. (E-002)***