Waspada Bahaya Bencana Banjir dan Tanah Longsor

73

BISNIS BANDUNG- Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana  diimbau selalu waspada akan bahaya  yang  mengintai sewaktu-waktu. “Kami berharap  supaya tetap waspada akan bahaya dari bencana alam yang bisa setiap saat mengancam keselamatan,” kata Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Yomanius Untung, pekan ini di Bandung.

Warga  sekitar daerah rawan bencana diminta untuk waspada tersebut ketika  kunjungan Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat  ke lokasi terdampak bencana longsor di Kampung Bonjot, Desa Buninagara, Kecamatan Sundangkerta, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat memantau secara langsung kondisi posko-posko pengungsian bencana, dan situasi terakhir pasca musibah tanah longsor tersebut serta memberikan bantuan logistik kepada para korban terdampak musibah tersebut.

Yomanius mengaku prihatin dan turut berduka cita atas bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Bonjot, Kabupaten Bandung Barat.

Oleh karena itu berharap proses evakuasi para korban berjalan lancar dan korban dapat segera ditemukan.

“Kita prihatin atas bencana yang menimpa warga di sini dan turut berduka cita bagi para korban yang tertimpa musibah ini, serta mudah-mudahan korban yang belum ditemukan bisa secepatnya ditemukan,” kata Yomanius.

Menurut Yomanius,  sikap  kewaspadaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah memahami tentang zonasi lingkungan.

“Kita memang harus melihat pemetaan zona mitigasi bencana, dan zona yang masih diperbolehkan untuk dihuni untuk dijadikan tempat tinggal, dan ternyata tempat ini sudah tidak boleh dihuni lagi. Sehingga perlu dilakukan relokasi” katanya.

Yomanius berharap pemerintah setempat atau dalam hal ini stakeholder terkait dapat melakukan perancanaan yang matang terkait langkah relokasi bagi masyarakat terdampak bencana langsor tersebut.

Dia menambahkan, rencana untuk penyediaan tempat relokasi harus memperhatikan ketersediaan fasilitas-fasilitas penunjang bagi para korban.

“Ada sarana pendidikan, peribadahan, kemudian untuk mata pencaharian dapat diakses dengan mudah sehingga mereka tidak Iagi kembali ke tempat semula,” ucapnya.

“Kita memang harus melihat pemetaan zona mitigasi bencana, dan zona yang masih bisa diperbolehkan untuk dihuni. Dan, ternyata tempat ini sudah tidak boleh dihuni lagi, sehingga perlu direlokasi,” ujar Yomanius.

Ia berharap  pemerintah setempat  melakukan perencanaan yang matang terkait langkah relokasi bagi masyarakat terdampak bencana longsor tersebut. “Tempat relokasinya  harus matang. Jangan sampai mereka kembali ke tempat semula,” katanya.

Rencana penyediaan tempat relokasi juga harus memperhatikan ketersediaan fasilitas-fasilitas penunjang bagi korban. Seperti sarana pendidikan, peribadahan, juga sarana mata pencaharian yang mudah diakses.

Dia  melihat permasalahan yang muncul di masyarakat saat ini adalah kurangnya kesadaran terkait permasalahan zonasi lingkungan.  “Pemerintah sudah mengingatkan bahwa daerah ini berbahaya, tapi karena kultur, masyarakat di sini menganggap jika tempat ini merupakan turun temurun,” katanya.(B-002)***