Seni Tutunggulan atau Gondang Kini Tinggal Kenangan

67

Dulu di wilayah Jawa Barat, terutama di pedesaan ada semacam kepercayaan bila terjadi gerhana bulan (samagaha-Sunda.red) ibu-ibu di kampung  rame- rame memukul lisung (tutunggulan–Sunda.red ) menggunakan halu, semacam tongkat penumbuk padi tradisional. “Tutunggulan” dilakukan dengan maksud agar gerhana bulan segera berakhir. Sementara wanita yang sedang hamil saat gerhana bulan berlangung, sibuk harus dimandikan. Konon katanya, agar bayi terlahir kulitnya bule (albino).

Kemungkinan seni gondang merupakan kesenian tradisional (seni buhun) yang asal muasalnya dari “tutungulan” warga masyarakat di pedesaan saat terjadi gerhana  bulan.

Kemudian berkembang menjadi kesenian gondang (tutunggulan) sebagai seni yang diselenggarakan sehabis panen, sebagai bagian ungkapan rasa syukur  karena hasil panen yang melimpah.

Di samping rasa syukur kepada Allah SWT. Bukan hanya sebatas penduduk atau petani saja yang bergembira , tetapi acara ini sekaligus menjadi sebuah kesempatan bagi kaum muda untuk mendapatkan pasangan atau mencari “ jodoh”.

Pada penampilan kesenian gondang, para remaja, termasuk “kembang desa” mejeng mencari yang kasep dan geulis. Waditra yang digunakan kesenian gondang dilengkapi, selain  lisung dan halu,ditambah  kecapi, kendang, goong, kohkol dan angklung buncis.

Konon, awalnya kesenian gondang tampil, merupakan sebuah penghormatan terhadap Dewi Sri yang dalam mitologi Sunda dipercaya sebagai Dewi Padi. Pelaku tetabuhan kesenian gondang adalah wanita yang dianggap suci yang tida sedang menstruasi (menopause).

Cerita yang diceritakan dalam pagelaran kesenian gondang  hampir tidak ada ada bedanya dari pentas satu ke lainnya atau mungkin memang itulah cerita dalam seni gondang.

Ceritanya, ada sekelompok putri remaja sedang ber-gondang ria, tiba tiba datang sekelompok remaja putra merayu para remaja putri dengan mengalunkan nyanyian ; ”Neng geulis pujaan engkang. Neng geulis engkang hoyong tepang, upami tea aya pameungan, langkung sae urang tundangan“.

Sepenggal lagu dalam bahasa Sunda tersebut, merupakan nyayian remaja putra yang mengajak gadis idamannya untuk bertemu. Para remaja putri  menolak dengan tegas rayuan si remaja putra.

Dirayu sampai beberapa kali, ditambah embel-embel dan janji,  tetap ditolak . Setelah beberapa kali di rayu, sang remaja putri luluh juga hatinya,  tak bisa menolak cinta remaja putra.

Namun walau cinta remaja putra diterima, tapi  para remaja putri memberi syarat tertentu. Itulah kesenian gondang, seni yang pernah hidup di tengah masyarakat perdesaan.

Ada sebuah esensi yang terkandung dari kesenian ini, yakni setiap tujuan yang ingin dicapai harus ditekuni  dengan kesabaran, niat dan usaha yang baik, InsyaAllah akan dikabul oleh Allah swt. (B-003/bbs) ***