Benih Bawang Putih Impor Mengandung Bibit Penyakit

111

KEMENTRIAN Perdagangan menyita 254 karung atau sekira 5 ton bawang putih dari kios-kios pedagang di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.Tindakan itu dilakukan karena diketahui bawang putih impor dari China itu mengandung bibit penyakit tanaman yang berbahaya.

Indonesia, melalui PT TSR, mengimpor bibit bawang putih dari China 232 ton yang dikemas di dalam 13.050 karung. Seperti dimuat KOMPAS 14/3, bibit bawang putih impor itu dibongkar di Tanjungpriuk, Jakarta, 25 Februaru.

Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian mengambil sampel kemudian bawang tersebut masuk karantina. Sebelum hasil penelitian keluar, bawang impor itu disimpan di gudang importir.

Menurut Kepala Badan Karantina, 7 Maret lalu,petugas karantina datang ke gudang PT TSR menyampaikan hasil penelitian laboratorium.

Ternyata semua  bibit bawang putih impor itu sudah raib dari gudang. Disebutkan pihak PT TSR, bibit itu dikirim ke Sumatera Utara untuk ditanam di areal pertanian bawang putih

Di  wilayah Karo. Namun Kementerian Perdagangan yang memantau peredaran bawang putih itu menemukan sekira 5 ton beredar di Pasar Induk Kramatjati. Padahal, Kemendag dan Kementan belum mengeluarkan rekomendasi bagi pengeluaran dan pengedaran bawang impor itu.

Hasil uji sampel dan penelitian laboratorium Badan Karantina, ternyata bibit bawang putih asal China itu mengandung hama penyakit nematode ditylenchus dipsaci. Hama penyakit itu membahayakan tanaman bawang lokal termasuk tanaman lain terutama tanaman hias.

Apabila bibit bawang putih impor itu sempat ditanam petani, diduga, para petani akan rugi. Bawang putih yang ditanamannya akan terkena hama penyakit yang mematikan.

Kita khawatir, tanaman bawang lokal dan tanaman lain akan terpapar hama tersebut. Indonesia akan mengalami  krisis bawang dan tanaman hias.

Selama ini Indonesia masih harus mengimpor bawang putih. Konsumen Indonesia butuh 48.000 ton bawang putih satu tahun. Kita hanya mampu mengahsilkan 10 persennya saja.

Pemerintah berniat meningkatkan produktivitas tanaman bawang putih dan memperluas areal tanaman di beberapa tempat, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Karena itulah, tahun 2017 Indonesia mencoba mendatangkan bibit unggul bawang putih dari China. Yang didapatkan bukan  bibit unggul tetapi bibit yang mengandung hama penyakit.

Kita tidak boleh suuzon atau curiga, masuknya bibit bawang putih yang mengandung hama penyakit itu disertrai unsur kesengajaan. Tanaman bawang putih kita akan hancur sehingga Indonesia akan tetap menjadi pengimpor utama bawang putih.

Wajar saja apabila pemerintah segera melakukan reekspor bawang putih tersebut dengan bukti-bukti laboratorium akurat.

Pemerintah juga harus bertindak tegas dengan menarik semua bawang putih impor itu dari pasar, kalau-kalau ada yang sudah beredar dan dipasarkan secara luas.

Tepat pula apa yang dilakukan Menteri Pertanian, ia meminta Badan Karntina bersama yang berwajib, mengusut kasus itu. Ia juga meminta importir tersebut dicoret dari daftar karena dianggap menyalahgunakan izin impor.

Para petani diharapkan lebih berhati-hati menerima bibit tanaman, terutama bibit impor. Mintalah jaminan dari Dinas Pertanian setempat bahwa segala macam bibit impor yang akan ditanam, bebas hama penyakit.

Persaingan yang semakin ketat dalam era perdagangan bebas, bisa saja mendorong pedagang melakukan tindakan-tindakan curang. Indonesia memiliki lahan sangat luas yang bisa ditanami bawang putih.

Dengan intensivikasi dan ekstensivikasi tanaman bawang putih, Indonesia justru  berpotensi menjadi penghasil bawang putih terkemuka dan bersaing di pasar global. ***