Padat Karya Tunai Kembalinya Era Gotong Royong

59

BERSARUNG dan berjas, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri meninjau proyek pembuatan saluran air tersier di Desa Kempek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat,  Minggu kemarin.

Masih berkain sarung, setelah mengikuti pernikahan putri Mustafa Akil, adik kandung Ketua Umum NU, KH Said Akil Siroj, di desa itu, Prsiden Jokowi menijau pula pebangunan jalan  dan irigasi.

Yang mernarik bagi Presiden, proyek itu dilaklukan secara gotong royong. Ada sekira 100 orang lebih terlibat dalam pengerjaan jalan dan irigasi itu. Ternyata pengerjaan proyek desa itu bukan gotong royong murni akan tetapi secara padat karya.

Semua orang yang terlibat dalam pekerjaan itu mendapat bayaran sesuai dengan ”jabatan” atau keahlian masing-masing. Orang-orang yang tergolong tukang, mendapat upah Rp 100.000 perhari. Sedangkan kenek (laden) dan pekerja lainnya dibayar Rp 80.000 sehari.

Bangsa kita sejak lama mengenal sistem kerja ”keroyokan”. Zaman Belanda ada kerja paksa/rodi, zaman Jepang ada romusha, yakni para pekerja melaklukan pekerjaan dengan dipaksa, di bawah ancaman kaum penjajah.

Pada zaman kemerdekaan ada kerja bakti yakni warga sebuah kampung secara serentak pada satu waktu,  bekerja membersihan selokan, parit, membersihan halaman rumah, dan sebagainya. Ada pula sistem gotong royong yakni menggarap suatu pekerjaan untuk kepentingan umum.

Warga secara sukarela, tanpa mendapatkan upah, membangun mesjid, membuat jalan, membuat saluran air, membangun rumah adat atau rumah bagi orang yang tidak mampu, dan sebagainya.

Kemudian, setelah kemerdekaan, kita juga mengenal padat karya. Para pekerja yang menggarap suatu proyek untuk kepentingan umum diambil dari kampung di tempat pekerjaan itu berlangsung.

Biasanya ditentukan 5 sampai 10 orang dari satu RT/RW/desa. Warga tersebut menggarap pekerjaan sesuai dengan kesanggupannya.

Ada yang sanggup menjadi tukang kayu, tukang tembok, pemecah batu, pengangkut, tukang cangkul, dan sebagainya. Mereka mendapat upah, meskipun tidak sebesar upah yang biasa mereka terima ketika bekerja di proyek pribadi atau komersial.

Di Kota Bandung, sistem itu sering dilakukan tahun 50-an sampai tahun 60-an. Sebagai contoh, pelurusan Sungai Cidurian, sebelah timur Cicadas, dilakukan secara padat karya.

Para pekerjanya bukan hanya dari daerah sekitar proyek itu bahkan ada yang dikirim dari Cihaurgeulis, Sukajadi, dan sebagainya. Mereka mendapat giliran  dua sampai tiga hari. Meskipun upahnya hanya cukup untuk ongkos, mereka senang melakukan pekerjaan itu karena dilandasi semangat gotong royong.

Era gotong royong dan padat karya itu makin lama makin surut. Era itu sudah lama ditinggalkan bangsa Indonesia.

Masalahnya, kemajuan teknologi dengan munculnya berbagai piranti yang lebih praktis dan canggih, pemegang proyek, tidak harus mendatangkan orang banyak. Operator alat berat, traktor, pompa air, dan sebagainya cukup satu atau dua orang.

Proyek dapat selesai dalam waktu sangat cepat meskipun ongkosnya berpuluh kali lipat dibanding dengan dikerjakan secara manual, gotong royong, atau padat karya. Teknologi akan menghasilkan  pekerjaan yang jauh lebih berkualitas, cepat,  efektif dan efisien.

Selepas melihat langsung, betapa semangat warga Desa Kempek menggarap saluran air dengan sstem padat karya, Prsiden Jokowi memerintah beberapa menteri melaksanakan proyek dengan sistem padat karya tunai.

”Padat karya tunai itu bagus,” ujar Jokowi. ”Selain jalan untuk mengangkut produksi pertanian, air bisa mengalir sampai ke sawah. Para petani mendapat upah sambil menunggu hasil panen.”

Perintah Prersiden itu dapat dimaknai sebagai pertanda, kita akan kembali ke era gotong royong. Padat karya dapat dihidupkan kembali. Mengapa pengerukan Citarum sampai harus menghabiskan uang triliunan rupiah sedangkan hasilnya belum dapat dinikmati masyarakat.

Mengapa tidak dilakukan secara padat karya. Ketika musim kemarau, rakyat di sekitar Citarum ditawari ikut padat karya, membersihkan Citarum, dari sedimen dan tumpukan sampah. Pemerintah tidak harus mendatangkan kapal keruk yang sewanya sangat mahal.

Padat karya pengurusan Citarum dan semua anak sungainya, diprediksi akan mendapat sambutan positif warga. Harapan mereka terbebas dari terjangan banjir, semangat gotong royong akan tumbuh kembali. Kita akan mendapatkan kembali budaya  rempug jukung sabilulungan yang sudah lama hilang. ***