Penambangan Pasir Besi Mendatangkan Berkah dan

68

Seperti koin yang bermuka dua, tambang pasir besi mendatangkan berkah bagi pendapatan pemerintah daerah, tetapi sekaligus sebagai malapetaka bagi lingkungan dan sosial.

Selain degradasi pesisir pantai, hilangnya gumuk pasir penahan gelombang laut , juga tercemarnya lingkungan akibat limbah industri yang bersifat asam.

Bukti ketergantungan  terhadap kekayaan alamnya adalah eksploitasi sumber daya bumi secara besar-besaran. Penambangan  membuka peluang eksploitasi oleh korporasi dengan kapital besar, tidak berpihak pada rakyat.

Padahal  kekayaan alam  untuk kesejahteraan rakyat. Penolakan tambang pasir besi terjadi di Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur terhadap pengelola tambang pasir besi.

Beberapa waktu lalu , akumulasi keluhan warga menjadi amuk massa anarkis karena tuntutan penolakan dialog berujung rusuh. Melalui Komunitas Masyarakat Pakidulan (Kompak) menuntut penutupan tambang besi yang dilakukan sebuah perusahaan.

Korporasi yang menempati luas tambang 15.000 hektar dianggap bertentangan dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22/2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Perda No. 28/2010 tentang Pengembangan Wilayah Jawa Barat Selatan 2010-2019.

Termasuk melanggar kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tentang moratorium penambangan pasir besi. Keresahan warga dipicu karena mulai terjadi dampak kerusakan lingkungan, penurunan kualitas air, berkurangnya lahan pertanian rakyat dan beralihnya profesi nelayan menjadi pekerja kasar tambang, sehingga menimbulkan konflik sosial.

Hal serupa terjadi di Kabupaten Cilacap, penambangan pasir besi terbentang di sepanjang pantai Cilacap bagian timur, dari pantai Bunton hingga Welahan Wetan, Kecamatan Adipala, berdampak kerusakan kawasan pantai, terutama kawasan hutan pantai yang dibangun sebagai pelindung dari bahaya tsunami, angin dan bencana lainya.

Hutan menjadi rusak karena tanah pasir di sekelilingnya dikeruk. Akibat lain dari kegiatan penambangan itu, permukaan tanah di wilayah itu menjadi lebih rendah di banding permukaan air laut, karena galian penambangan pasir itu dibiarkan mengganga. Kubangann terbuka ini menjadi sumber penyakit bagi warga.

Pasir besi adalah biji laterit dengan kandungan pokok berupa mineral oksida besi. Pasir besi biasanya mengandung beberap mineral oksida logam lain, seperti vanandum, titanium, dan krominum dalam jumlah kecil.

Pasir yang mengandung biji besi adalah bahan galian yang mengandung mineral besi, biasanya digunakan untuk bahan baku pembuatan besi logam atau baja, dengan syarat utama kandungan Fe lebih dari 51.5%.

Cara penambangannya cukup panjang, mulai dari proses pemurnian untuk mendapatkan konsentrasi biji besi yang lebih tinggi kandungan Fe-nya. Metode yang dilakukan dengan crushing, grinding, screening, washing dan roasting. Proses inilah di antarnya yang menyumbang pencemaran lingkungan.

Dampak tambang sebenarnya bisa direduksi dengan upaya pencegahan dan penanggulangan dampak yang ditimbulkan, misalnya dengan pendekatan teknologi yang berorientasi pada teknologi preventif.

Mengembangkan sarana dan jalur khusus pengangkutan material untuk meminimalisir udara kotor dan transportasi yang besinggungan dengan kepentingan umum.

Penataan lingkungan dalam bentuk upaya reklamasi dan penghijauan kembali. Berikutnya adalah pendekatan administratif, dalam upaya mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku, sekaligus pengawasan dan penegakan hukum.

Terakhir adalah pendekatan edukatif kepada masyarakat, melalu pembinaan dan penyuluhan untuk memotivasi perubahan perilaku yang lebih baik dan kesadaran ikut memelihara kelestarian lingkungan.

Tambang pasir adalah gula manis yang dibungkus dilema, namun bukanlah kutukan semata. Bila pemerintah daerah hanya mengandalkan Sumber Daya Alam sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). (B-003/BBS) ***