Karya Baru Homogenic, Terseret ke Meja Hijau Pengadilan Musik

113

Berasal dari Kota Bandung yang sudah banyak melahirkan pemusik di tanah air, salah satunya grup band musik  bernama Homogenic dengan formasi, Dina Dellyana (synthesizer/programming) Grahadea Kusuf (synthesizer /programming), dan Amandia Syachridar ( vokalis baru) menggantikan Risa Saraswati yang undur diri setelah mengeluarkan  album Epic Symphony (2004) di bawah naungan FFWD Records dan Echoes of The Universe pada tahun 2006.

Berbeda dengan grup musik Bandung lainnya yang lebih mendominasi genre pop  dan metalcore. Grup musik yang memulai karirnya pada tahun 2002 , bergenre musik elektronik pop.

Setiap lagu yang  mereka ciptakan selalu ditunggu-tunggu oleh penggemarnya yang disapa dengan sebutan savior, HMGNC melakukan re-branding nama band dari Homogenic jadi HMGNC sebagai identitas baru, termasuk pada single lagu terbarunya yang mengambil konsep cinta seseorang yang tak kenal batas, lagu yang berjudul today and forever ini juga sempat di remix oleh beberapa musisi lainnya, seperti misalnya Andezzz, Avonturir, Android18, dtx, Mardial, Mustang, sampai Noel G asal Amerika, selain itu juga terdapat lagu berjudul “ Buka hati buka kembali”.

Menurut Josep Ruru perwakilan DCDC Bandung Kota, kita memilih Homogenic atau HMGNC sekarang di pengadilan musik karena memang semata-mata ingin mengangkat Homogenic ini di kancah music yang lebih tinggi karena mereka berasal dari music indie dan  berjuang  dengan album-album terdahulu.

Mereka  akhirnya bisa ada di pengadilan musik hari ini .  Kita melihat bahwa mereka yang mengusung Indie pop yang jarang sekali di genre.

Membawakan itu ( DCDC) berharap siapa pun itu dengan band Indie yang hadir, kita bisa ikut membantu mereka dalam mengangkat karya-karya mereka yang asli hadir di ranah musik tanah air.

Akan tetapi, dibalik kesuksesan Homogenic , mereka dipanggil untuk menghadiri pengadilan musik ( pengadilan intern pemusik-red) DCDC jilid 21 di meja hijau dan masuk ke ruang persidangan.

Karena adanya salah satu karya musik terbaru yang dirasa sangat di wajibkan untuk menjelaskannya di hadapan panitia persidangan  yang dipimpin Man Jassad sebagai Hakim, Budi Dalton dan Pidi Baiq sebagai Jaksa Penuntut,  Yoga PHB dan Gebeg Taring sebagai pembela, dan Eddi Brokoli sebagai panitera.

Sementara itu perwakilan ATAP Promotions Soni Bebek menyebutkan, terdakwa yang masuk ke ATAP sangat banyak dan yang pasti band-band yang akan didakwa di pengadilan musik itu memang bener-bener mentalnya harus siap, kemudian di 2018 ini akan sangat padat sekali.

Konsep besaran dari pengadilan musik, Alhamdulillah publik sudah sangat menerimanya,  karena memang yang dicari adalah unieqnessnya yang ada di pengadilan musik itu sebetulnya.

“Karena menghadirkan sebuah acara dengan mengadili band, kemudian dengan angle juga absurptnya tapi muatannya justru mengangkat kapasitas si band itu mempetanggungjawabkan karyanya tentu dengan cara yang lain dan reaksinya sangat positif, bahkan ada yang lagi dong..dengan karya yang baru ini, ada ketagihan gitu deh,” ujar Soni.

Acara yang   sukses terselenggara, pada tanggal 16 Maret 2018 di sebuah kantin ,  Homogenic  memberi judul di album terbarunya yaitu self tittled dengan sentuhan unsur electropop.

Dalam event ini juga membahas banyak mengenai konsep album, sampai pengenalan, dan sedikit sejarah alat musik synthesizer.

Band yang cukup populer di Kota Bandung ini,   pernah memenangkan penghargaan sebagai best electronic dance song, dan best electro dance act dalam ajang voice independent music awards (vima). (E-009)***