Kekerdilan dan Pendidikan

54

DAHULU bangsa kita mennyebut “wong kate” atau orang pendek kepada tentara Jepang yang menaklukkan pasukan Belanda di Indonesia. Disebutkan dalam ramalan, wong kate itu akan berkuasa di sini hanya seumur jagung.

Orang-orang kate yang kemudian dikenal dengan pasukan Dainipon itu terkemal suka membentak-bentak dan tidak segan-segan menempeleng lawan bicaranya.

Karena itu tentara Jepang dikebal sebagai tentara kejam dan menangkapi penduduk untuk dikirimkan sebagai romusha atau kerja paksa di negara lain.

Itu dulu, sekira 75  tahun silam. Sekarang orang Jepang itu tidak bisa disebut wong kate lagi. Tubuh orang Jepang dari generasi ke generasi terus berubah ke arah yang lebih tinggi, kekar, dan sehat, serta cerdas.

Tidak ada kagi orang Jepang masa kini yang bertubuh kerdil dan tak berpendidikan. Perubahan fisik manusia Jepang itu berkaitan erat dengan pendidikan.

Mereka, berkat pendidikan,tahu persis bagaimana pola makan, jenis makanan, dan kandungan gizi serta nutrisi pada semua makanan, termasuk ukuran kalori yang dibutuhkan tubuh.

Akibat tingkat kesejahteraan dan pendidikan yang masih kurang, rakyat di berbagai negara di luar Jepang dan negara maju lainnya, banyak yang menderita gizi buruk. Balita yang mengalami lapar gizi, rata-rata mengalami pertumbuhan badan dan kecerdasan yang tidak optimal.

Di Indonesia anak-anak yang mengalami pertumbuhann yang tidak optimal atau yang disebut stunting atau kekerdilan itu sampai tahun 2017 berjumlah sekira sembilan juta orang.

Angka itu pasti mengejutkan berbagai pihak. Indonesia belum mampu menurunkan angka kekerdilan. Kita yang hidup di kota-kota besar lebih terkejut lagi ketika diketahui, anak-anak balita Suku Asmat di Paua, sangat banyak yang menderita stunting yang diawali dengan lapar gizi.

Anak-anak penderita stunting juga masih terdapat di daerah lain, baik di perdesaan maupun perkotaan.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada seribu hari pertama kehidupan, dari janin hingga usia dua tahun,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Ketua Bappenas,  Bambang S..Brodjonegoro yang disiarkan media massa. Ia juiga mengatakan, dalam jangka panjang, kekurangan gizi akan menimbulkan gangguan kecerdasan.

Menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual yang akan berpengaruh terhadap produktivitas saat derwasa. Penderita kekerdilan juga mudah terserang penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus, hipertensi, jantung koroner, dan stroke.

Lalu apa kaitannya, kekerdilan dengan perencanaan pembangunan sehingga Menteri PPN meminta semua pemangku kepentingan aktif menangani masalah kekerdilabn itu.

Kita tidak ingin Indonesia kelak dihuni manusia-manusia penyandang kekedilan. Kita juga khawatir balita penderita lapar gizi terus bertambah sehingga kelak menghasilkan generasi stunting yang minim kecerdasan.Menteri PPN, sebagai perencana pembangunan, melihat biaya penanmggulangan stunting terus bertambah.

”Pada tahun 2017 potensi kerugian akibat stunting mencapai Rp 300 triliun pertahun atau 3% dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu akan sangat bermanfaat apabila digunakan untuk pembangunan.

Pertanyaannya, mengapa di Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara yang punya potensi kaya itu masih banyak balita penderita kekerdilan. Amat jelas, penyebab utamanya ialah lapar gizi.

Diperkirakan, pengetahuan masyarakat Indonesia terghadap kandungan gizi pada makanan, masih sangat rendah. Sumber makanan yang punya potensi besar akan nilai gizi dan nutrisi yang meilmpah di sekitarnya tidak termanfaatkan dengan baik akibat ketidak-tahuan tersebut.

Untuk menanggulangi lapar gizi harus diawali dengan peningkatan pendidikan masyarakat. Sekarang pendidikan nasyarakat semakin ditinggalkan karena kita terlalu terfokus pada pendidikan formal. Kita semua, dengan semangat gotong royong, harus segera bersama-sama melakukan gerakan pemberantasan lapar gizi.***

.