Sampah Bumi dan Sampah Antariksa

13

RATUSAN warga Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupatren Banyumas berunjuk rasa.

Orang tua, baik laki-laki maupun petrempuan, dan anak-anak  membengtangkan poster menuntut Pemkab Banyumas menutup tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di desanya.

Menurut  warga, sudah tiga tahun mereka terpapar pencemaran air limbah yang mengalir dan meresap ke perairan warga.

Demo berkaitan dengan persampahan, buka hanya terjkadi di Kaliori, tetapi terjadi di mana-mana. Baik tempat pembuangan sampah sementara (TPS) maupun TPA selalu menimbulkan masalah.

Sampah di mana pun selalu menjadi pencemar lingkungan. Begitu pula limbah yang bukan sampah. Limbah beracun baik yang berasal dari industri maupun medis atau bahan beracun berbahaya (B3) merupakan ancaman serius bagi lingkungan hidup.

Ada 167 kasus yang masuk sebagai pengaduan masyarakat kepada Kementerian Lingkungan Hidup berkaitan dengan limbah B3. Dari kasus-kasus itu, 65 di antaranya tergolong kasus penegakan hukum dan 25 kasus lainnya tengah ditangani dengan pengumpulan data di lapangan.

Hal itu menandakan, masyarakat sekarang sudah makin peduli terhadap lingkungan hidup dan kesehatan jiwanya. Mereka menginginkan lingkungan hidupnya terbebas dari paparan limbah.

Kesaradan warga seperti itu dapat mendesak pemerintah melakukan sesuatu yang bersifat solutif. Pengolahan sampah berbasis teknologi merupakan solusi menghilangkan sampah dari permukaan bumi.

Teknologi mampu mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik tenaga sistrik maupun benda lain yang berupa pengalihan wujud. Benda itu haruslah benda yang punya nilai manfaat.

Sampah ternyata bukan hanya masalah yang dihadapi manusia di Bumi. Sekarang  para ilmuwan tengah sibuk, mencari solusi atas masalah sampah antariksa. Senin kemarin, rongsokan stasiun ruang angkasa milik China jatuh di Samudra Pasifik.

Jatuhnya  stasiun luar angkasa yang diberi nama Tiangong-I  itu merupakan peringatan bagi penghuni Bumi bahwasanya di atas kita bertebaran sampah antariksa.

Selain berupa meteor, partikel sisa bintang-mati, kini  ditambah dengan rongsokan satelit dan pesawat ruang angkasa buatan manusia. Limbah  yang mengancam kehidupan lingkungan dan kehidupan manusia.itu berupa limbah padat.

Beratnya bervariasi, dari partikel berupa butiran-butiran sisa pergesekan pesawat dan roket dengan atmosfer Bumi, sampai stasiun ruang angkasa seberat 8,5 ton seperti Tiangong-I itu.

Tidak dapat kita bayangkan, betapa dahsyatnya hantaman benda angkasa itu bila jatuh seutuhnya ke atas Bumi. Apalagi bila jatuh di wilayah berpenghuni.

Namun menurut para ahli ruang angkasa, jatuhnya benda-benda angkasa atau sampah antaraiksa itu hampir selalu jatuh di wilayah tak berpenghuni.

Bumi berukuran tidak terlalu luas dibanding planet lain.Akan tetapi masih memiliki wilayah tak berpenghuni jauh lebih luas dibanding wilayah yang berpenghuni.

Bagaimanapun, jatuhnya Tiangong-I merupakan peringatan bagi manusia penghuni Bumi. Manusia tidak luput dari ancaman yang nyata-nyata dibuat manusia juga.

Manusia  secara ambisius berlomba memenuhi tuntutan teknologi memanfaatkan antariksa untuk kepentingan bangsa dan negaranya masing-masing. Bahkan ”penaklukan” ruang angkasa merupakan pembuktian, negara itu memilki kemampuan teknologi luar biasa.

Hal itu menjadi komoditas politik kedigjayaan atau keadidayaan di mata dunia. Dunia menjadi sangat terbuka tetapi antariksa penuh sampah berbahaya, belum lagi bahaya radiasi dari sisa-sisa nuklir sebagai tenaga penggerak pesawat ruang angkasa.

Tampaknya, makin menumpuknya sampah antariksa merupakan tantangan besar bagi  para teknolog menciptakan mesin penyapu dan pemusnah sampah antariksa. Peluang usaha yang sangat prospektif bagi para startup membuka usaha cleanning service di antariksa. ***

    .