Kepergian Calon Haji 2018 Dari Kertajati Masih Transit

18

BISNIS BANDUNG- Uji coba keberangkatan atau kepergian calon haji dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati  yang pertama kalinya tahun ini  masih harus transit terlebih dahulu.

Artinya bukan langsung mendarat di Bandara Riyadh atau Jeddah, Mekah. Pasalnya, dengan landasan pacu (Runway) yang ada sepanjang 2.500 meter hanya bisa dipergunakan pesawat kecil.

Pesawat kecil itu harus transit terlebih dahulu di Medan, Sumatera Utara, baru kemudian bertolak ke Mekah. Sebab kapasitas bahan bakar yang tidak memadai untuk penerbangan langsung. Tentunya hal ini  belum sebanding dengan BIJB yang disebut sebagai Bandara Internasional.

“Sekarang yang existing Runway 2.500 meter, pesawat kecil seperti (Boeing) 737 bisa take off atau landing. Tapi rutenya Kertajati, transit dulu di Medan. Yang kita inginkan itu Bandara Internasional langsung, nggak transit,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jabar, Daddy Rohanady di Gedung DPRD Jabar, Selasa pekan ini.

Sedangkan untuk pesawat besar seperti Boeing 777 membutuhkan Runway minimal 3.000 meter. Saat ini sisa 500 meter Runway masih tahap lelang, sehingga dinilainya baru tahun depan penerbangan calon haji langsung tanpa transit bisa terwujud,

“Tapi dewan juga tanya kesiapan karena bandara pertama kok ujicoba ke haji ? Padahal untuk pergi haji itu  rukun Islam ke-5, pergi haji jika mampu, mampu bayar, mampu sehat badan, dan bandaranya juga harus mampu, kalau bandaranya nggak mampu kan sama saja bohong,” tegasnya.

Ia  juga mempertanyakan  soal keberangkatan calon haji hanya untuk masyarakat Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) dan Embarkasi haji yang masih harus berasal dari Bekasi.  Hal ini akan menambah waktu keberangkatan karena misalnya, calon haji yang dari Cirebon harus menuju Embarkasi di Bekasi, kemudian kembali lagi ke BIJB Kertajati di Majalengka.

“Disepakati akan berangkat, tapi dari Bekasi. Bayangkan orang Cirebon harus balik lagi, bagaimana kalau macet di jalan,” tambahnya.

Oleh karena itu penyelesaiannya menurut Daddy, BIJB dengan Angkasa Pura II sebagai mitra perusahaan harus segera menyelesaikan masalah kekurangan Runway dan pembebasan lahan untuk jalur tambahan Overrun sepanjang 1.000 meter.

Alasannya karena berdasarkan MoU, APBN tidak bisa mendanai proyek BIJB lagi. Sehingga hanya BIJB dan Angkasa Pura II saja yang berwenang melakukan pembiayaan proyek.

“Komisi IV kejar betul soal kewajiban AP II dan BIJB selesaikan Runway. Katanya sudah lelang, itu bagus, dan tinggal bagaimana bebaskan lahan sisa 1.000 meter untuk Overrun,” ucapnya.

Jamaah haji selain dari Ciayumajakuning tetap berangkat dari Bandara Soekarno Hatta sebab runway BIJB Kertajati belum memungkinkan untuk melakukan pendaratan pesawat berbadan besar seperti jenis pesawat triple seven   atau pesawat berbadan besar jenis Boing 777.

“Runway BIJB baru 2.500 meter, masih ada kekurangan runway 500 meter, jadi belum memungkinkan untuk mendaratkan pesawat berbadan besar jenis triple seven, untuk ukuran boint 737 sih masih memungkinkan,” katanya.

Dengan belum cukupnya panjang runway BIJB Kertajati, mau tidak mau jamaah asal Ciayumajakuning yang berangkat dari BIJB Kertajati nantinya akan transit di Medan.

“Bisa dikatakan, `Banci` lah. Karena tidak sekali jalan, harus transit dahulu,” ungkapnya.

“Ini bandar pertama, kok ujicobanya ke haji, padahal kita tahu, pergi haji kita butuh mampu. Saya selalu berseloroh, kita pergi haji jika mampu, rukun islam ke lima menyatakan, pergi haji, jika mampu, mampu dalam artian apa, mampu bayar, mampu sehat badan, bandaranya juga kudu mampu dilewati, kalau bandaranya nggak mampu,” seloroh Daddy.

Terganjalnya runway 500 meter, akibatnya runway baru mencapai 2.500 meter kurang dari persyaratan terjadi karena terbentur peraturan pemerintah (PP) Nomor 40 tahun 2012 tentang pembangunan dan pelestarian hidup bandara udara.(B-002)***