Legenda Terowongan Lampegan, Jasa “Si Gombar” yang Banyak Dikenang

142

Pada era tahun 60-an , bagi masyarakat yang biasa menggunakan transportasi kereta Bandung – Bogor (waktu itu-red). Waktu itu , jenis lomomotif yang menghela gerbong penumpang , masih menggunakan Si Gombar .

Si Hitam, kereta uap yang banyak dirindukan keberadaannya  Terowongan Lampegan sangat dikenal, sampai sekarang namanya sangat populer dan melegenda.

Dibangun pada 1879 sampai dengan 1882 oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatspoorwegen (SS). Terowongan ini dibangun untuk mendukung jalur kereta api rute Bogor-Sukabumi-Bandung dan sebaliknya dan menjadi salah satu terowongan kereta api tertua di Indonesia yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur dani merupakan terowongan kereta api pertama yang dibangun di Jawa Barat.

Pembangunan jalur kereta api oleh pemerintah Kolonial Belanda , digunakan untuk mempermudah distribusi barang maupun mobilitas penduduk.

Untuk wilayah Jawa Barat pembangunan jalur kereta api pada abad 19 tersebut, tersebar di wilayah utara maupun selatan. Jalur kereta yang dibangun pada jaman “Walanda” ini  banyak di antaranya yang masih digunakan hingga saat ini.

Jalur kereta api Bogor Sukabumi Bandung, menyokong transportasi dan perdagangan menjadi lebih cepat , khususnya dalam pengangkutan berbagai hasil pertanian/perkebunan dari tanah Priangan, seperti teh dan kopi

.Dekat terowongan Lampegan terdapat stasiun Lampegan yang  digunakan untuk memantau lalu lintas kereta api yang melintas terowongan.

Saat ini stasiun Lampegan masih berfungsi baik untuk menaikan dan menurunkan penumpang , Bandung- Cianjur dan sebaliknya.

Ada cerita unik dibalik pernamaan terowongan Lampegan. Ada yang mengatakan berasal dari ucapan Van Beckman, seorang mandor dalam proyek pengejaan terowongan tersebut.

Ketika dia memantau para pekerjanya yang sedang membobol bagian dalam terowongan yang gelap gulita, selalu berteriak “lamp pegang, lamp pegang…” (pegang lampunya..) , yakni obor (lampu minyak) untuk mengecek apakah di dalam terowongan aman untuk dilakukan penggalian.

Sebab, kondisi dalam terowongan yang lembap dikhawatirkan kandungan oksigen tipis dan membahayakan para pekerja.

Ada juga yang mengatakan nama itu berasal dari ucapan masinis kereta api  yang selalu meneriakkan “Lampen aan! Lampen aan!” saat kereta melewati terowongan itu.

Maksudnya, masinis memerintahkan agar para pegawainya menyalakan lampu agar kondisi dalam kereta tidak gelap saat melintas gelapnya dalam terowongan.

Lain halnya dengan cerita dari mulut kemulut masyarakat sekitar,Kamp Lampegan, Desa Cibokor Kec. Cibeber, Cianjur. Cerita ini telah menjadi mitos kemistisan terowongan Lampegan.

Dahulu saat peresmian Lampegan diundanglah Nyi Ronggeng Sadea untuk menghibur Meneer-Meneer Belanda.Setelah selesai menghibur, saat pulang Nyi Sadea melintas di dalam terowongan dan tidak pernah terlihat lagi .

Ada dua cerita berkembang, pertama Nyi Sadea karena kecantikannya diperistri oleh “penunggu” terowongan Lampegan dan yang kedua adalah Nyi Sadea dijadikan tumbal saat peresmian Lampegan dan konon jasadnya di tanam di dalam tembok terowongan.

Stasiun Lampegan dan terowongan Lampegan yang dibangun tahun 1879 hingga 1882 , kini masuk kawasan Cagar Budaya.

Kawasan tersebut menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan karena nilai historis serta suasana masa lalu yang masih terasa.

Bangunan stasiun, rumah kepala stasiun serta terowongan Lampegan masih seperti saat pertamakali dibangun.

Terowongan Lampegan sepanjang 686 meter merupakan salah satu terowongan jalan kereta api tertua yang pernah dibangun pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. (E-001) ***