Lisnawati, Merugi Menjadi Modal Sukses Usaha

86

Lisnawati, kelahiran Garut 14 April 1976, dan lulusan D3 Pendidikan Ahli Teknik PINDAD ini, adalah seorang pengusaha kuliner tradisional. 

Produknya berupa ranginang, yang tidak hanya beredar di pasar lokal, namun juga pasar nasional. Lisnawati juga aktif di Paguyuban Pengusaha Kecil Menengah (PPKM) Kabupaten Bandung.

Istri dari Danny Syarif Hidayat, SE. (49) ini, mulai menggeluti usaha kuliner sejak mengikuti pelatihan WUB (Wira Usaha Baru) Jawa Barat pada bulan Mei 2016. Ketika mengikuti pelatihan, Lisnawati belum mempunyai produk yang dihasilkan.

Namun setelah mengikuti pelatihan, dirinya termotivasi oleh peserta pelatihan lainnya yang sudah mempunyai produk, dengan varian yang unik dan kemasan yang bagus-bagus.

“Akhirnya saya coba menjual ranginang/rengginang bikinan ibu saya (yang sudah 8 tahun merintis usaha rangginang mentah), dan saya goréng serta dikemas memakai toples, Waktu itu dibuat khusus untuk edisi Lebaran, dan saya jual juga secara online, yakni melalui Facebook maupun Instagram.

Alhamdulillah responnya bagus, akan tetapi untuk pengiriman ke luar kota pernah ada yang complain, karena saat tiba di tujuan ranginangnya sudah remuk. Dari situ saya berfikir, bahwa saya harus membuat kemasan alternatif yang lebih kuat, lebih aman, tapi tetap terlihat cantik.

Akhirnya, saya mendapat ide untuk menggunakan kaleng, karena selama ini rengginang sering disimpan dalam kaleng bekas biscuit,” tutur Lisnawati.

Diakuinya pula bahwa, jika melihat latar belakang pendidikannya selama ini, pastinya tidak ada hubungannya dengan dunia kuliner.

“Saya mengikuti pendidikan di PT. Pindad dengan mengambil jurusan Tehnik Mesin.  Usaha saya ini bermodal awal sebesar Rp 400.000. Tapi setelah dihitung-hitung ternyata rugi, karena masih lebih banyak memberi dari pada menjualnya. Kemudian saya mengeluarkan modal lagi sebesar Rp 500.000.

Pengalaman merugi menjadi awal munculnya ide saya untuk berjualan ranginang dalam kemasan kaleng. Seiring dengan perjalanan waktu, produk ranginang saya mulai dikenal banyak konsumen,” ungkap Lisnawati.

Kini, produknya sudah mendapat sertifikat PIRT Dinkes  nomor 5153204012505-21 dan Halal MUI nomor 01101191750717. Untuk merknya, sudah didaftarkan, tinggal menunggu sertifikatnya.

Produk ranginang buatan Lisnawati ini dijual antara Rp 22.000 –  Rp 27.000. Harga jual eceran Rp 27.500, sedangkan harga untuk reseller Rp 22.000. Di toko khusus oleh-oleh dijual seharga Rp 30.000.

Selain dijual melalui sosial media, seperti instagram, line,  dan facebook, ranginang buatan Lisnawati ini juga dititip di beberapa toko, seperti di toko pusat oleh-oleh Bandara Husen Sastranegara. Omsetnya sekitar 400-600 kaleng / bulan, atau kurang lebih Rp 10-14 juta / bulan. 

Ibu dari  Muhammad Yasin Abdillah (16) dan Alinda Yasmin Fadlillah (11) ini mengutarakan bahwa, tidak terasa dirinya sudah hampir 2 tahun menggeluti dunia kuliner. Launching pertama untuk kemasan kaleng diadakan pada tanggal 17 Agustus 2016.

Pengalaman menarik yang diperolehnya adalah, saat pertama belajar untuk memproduksi ranginang, yakni mulai dari bahan baku sampai proses produksi. Karena, membuat ranginang butuh keahlian dan ketekunan.

Tiap bahan baku, yakni beras ketan, memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dalam penanganannya. Memilih beras ketan memerlukan keahlian tersendiri.

Sedangkan dalam proses produksi, jika ada kesalahan sedikit saja, maka ranginang tidak akan jadi (gagal). Ranginang itu akan jadi bantat (tidak mekar), atau bahkan mudah remuk. Oleh karena itu, tenaga kerjanya harus memiliki keahlian khusus.

“Mereka saya latih, mulai dari mengenal bahan, sampai proses produksi dan kemudian proses packing,” ucap Lisnawati.

Ranginang buatan Lisnawati ini, selain dipasarkan di kota-kota di Jabar, juga dipasarkan sampai ke Jepang, Paris, Belanda (dibawa oleh Dinas Pertanian), Perth, Turki (dibawa oleh Konjen Turki), bahkan dijual sampai ke Jeddah-Arab Saudi.

Ia juga mengikuti pameran MIHAS di Kuala Lumpur pada tanggal 3-7 April 2018. Sedangkan dalam ajang Pangan Award 2017, ranginang rasa rendang buatan Lisnawati berhasil menjadi finalis untuk kategori makanan cemilan.

Kendala yang dihadapi adalah, masalah ketersediaan bahan baku, terutama beras dengan kualitas bagus, serta kaleng yang digunakan untuk kemasan.

Persaingan di dunia kuliner, khususnya rengginang / ranginang ini cukup ketat, karena harus bersaing dengan para pelaku usaha yang sudah jauh berpengalaman.

Lisnawati mengaku bahwa, ia akan terus menggeluti bisnis ini, karena bisnis ini merupakan bisnis yang sudah dirintis oleh orang tuanya, selain ingin turut berusaha melestarikan penganan “jadul”, yang mulai jarang ada di negeri sendiri.

 “Untuk meningkatkan kualitas diri, Alhamdulillah saya bisa mengikuti berbagai pelatihan, di antaranya, pelatihan yang diselenggarakan oleh Universitas Parahyangan, PT. Telkom, Telkom University, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung, Dinas Indag Kabupaten Bandung, dan pelatihan dari komunitas Tangan Di Atas, serta masih ada berbagai pelatihan lainnya. Saya berharap, usaha ini bisa diteruskan oleh anak-anak saya, atau keluarga saya yang lain,” ungkap Lisnawati.

Ditambahkannya pula bahwa,  saat ini persaingan bisnis khususnya di dunia kuliner, walaupun ketat tetapi peluangnya cukup besar.  Karena bisnis kuliner mempunyai segmen pasar yang sangat luas, dan repeat ordernya cepat.

Dukungan dari pemerintah maupun BUMN untuk industri kuliner sangat baik. Pemerintah daerah melalui dinas-dinas, membuka peluang yang seluas-luasnya dalam membantu para pelaku bisnis kuliner agar bisa berkembang.

Dari sisi permodalan, pemerintah juga membuka akses bagi pelaku bisnis kuliner untuk mendapat bantuan permodalan dari pemerintah, yakni melalui CSR BUMN .

“Seperti yang saya alami pada awal tahun 2018, ketika saat itu saya mendapat bantuan pinjaman tanpa bunga dari PT. Telkom. Selain modal, saya juga mendapatkan berbagai pendampingan, seperti seminar-seminar kewirausahaan. Menurut informasi, hampir semua BUMN mengeluarkan dana CSR untuk UMKN,” tutur Lisnawati.

Faktor yang mempengaruhi tumbuh-kembangnya industri kuliner adalah akses informasi. Lisnawati melihat bahwa, masih banyak pelaku bisnis kuliner dalam hal ini UMKM, yang malas untuk mencari informasi.

Informasi yang dimaksud adalah seperti, informasi tentang pelatihan, kewirausahaan, permodalan dan lainnya. Menurutnya, selain mencari informasi, pengusaha juga harus terus meng-update informasi agar usahanya tetap bisa bertahan.

Sedangkan, agar supaya produknya tetap kekinian dan sesuai dengan perkembangan zaman, maka, ivonasi produk juga menjadi hal yang tidak kalah penting dan harus dilakukan.

“Harapan saya selaku pengusaha di bidang kuliner adalah, pemerintah bisa menyediakan bahan baku dengan harga yang stabil, termasuk membantu pemasaran dan promosi produk usaha. Karena banyak produk UMKM yang bagus, tetapi tidak dikenal khalayak umum. Hal ini mungkin lebih disebabkan faktor marketing. Selain itu, diharapkan pula agar pemerintah bisa membantu akses pemasaran produk kuliner UMKM, agar bisa masuk ke toko swalayan besar,” pungkas Lisnawati kepada BB.       (E-018)***