Revolusi Industri Ancaman Bagi Industri Padat Karya

82

BISNIS BANDUNG – Ketua Umum Industri All Indonesia Councill,  H Iwan Kusmawan SH mengemukakan,  Revolusi Industri 4.0 atau Digitalisasi Industri yang saat ini tengah digaung-gaungkan oleh rezim penguasa , bisa berdampak negatief pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Berdasar hasil kajian Industri All Indonesia Councill, ujar Iwan, kalau kita uraikan , pertama terkait dengan sejarah. Kedua berkaitan dengan arti, ketiga dampaknya,  ke empat tantangan dan kelima terkait rekomendasi.

Revolusi Industri 4.0 kalau kita jabarkan, sejarahnya mengacu pada Revolusi Industri 1.0 terkait dengan mesin uap menggantikan manusia. Kemudian Revolusi Industri 2.0 terkait dengan daya listrik produksi massal abad ke 19 dan awal abad ke 20.

Tahap ketiga, revolusi Industri 3.0 terkait dengan komputer dan internet pada era tahun 1990-an, dan tahap ke empat adalah Revolusi Industri 4.0 yang sekarang gencar dan heboh,  yakni komputer dan internet yang amat canggih dan terkoneksi kecerdasannya,  serta pembuatan robotik internet.

“Revolusi Industri ini akan mengubah cara hidup, cara kerja berhubungan satu sama lain.  Artinya meningkatkan arus informasi, efesiensi organisasi produksi, penggunaan tenaga kerja dan tempat kerja, orang dan biaya yang harus dihilangkan serta pergeseran permintaan tenaga kerja,”tutur Iwan , baru-baru ini.

Di samping ada pergeseran tenaga kerja, juga terjadi penerapan penyerapan keahlian tinggi dan penggusuran keterampilan rendah. Itu menjadi substansi dan konsekuensi dari penerapan Revolusi Industri 4.0.

Dampaknya ketika bicara tekhnologi, akan berkaitan dengan tenaga kerja, bersinggungan dengan organisasi yang berhubungan dengan ketenagakerjaan, serikat pekerja serta managemen SDM. Iwan juga memaparkan , tentang digitalisasi industri yang ada manfaat dan dampaknya.

Manfaatnya yakni adanya kemudahan, kenyamanan dan kemurahan, kecepatan serta kepraktisan. Artinya, ada sisi praktis dalam peningkatan keterampilan, perubahan robotik. Dampak negatiefnya adalah bisa terjadi meningkatnya angka pengangguran, kesenjangan produsen dan konsumen.

“Berdasarkan analisis, sektor terdampak dari pemberlakuan Digitalisasi Industri adalah sektor industri padat karya, diantaranya garment, textile, sepatu, elektronik,  makanan, otomotif dan kimia,”ungkap Iwan Harus ikut berperan

Digulirkannya Revolusi Industri 4.0 atau Digitalisasi Industri menjadi tantangan tersendiri bagi Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Tantanganya, bagaimana keterlibatan Serikat Pekerja atau buruh dalam perubahan tekhnologi di perusahaan.

Serikat Pekerja/Serikat Buruh harus ikut andil ketika terjadi restrukrisasi mesin dalam suatu perusahaan, harus ada keterlibatan serikat pekerja, karena didalamnya ada keanggotaan, keberlangsungan tenaga kerja, kesejahteraan tenaga kerja.

Serikat Pekerja/Buruh harus mampu mengantisipasi dampak,  strategi pengorganisasian dan perundingan, terutama perundingan kolektif yang tertuang dalam  Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Pasalnya,  secara hakiki PKB mutlak, ketika disepakati jadi undang undang bersama antara pekerja dengan pengusaha.

Relevansi antisipasi dan adaptasi strategi ketika menghadapi era Digitaliasi Industri atau Revolusi Industri 4.0 memungkinkan akan dilakukan ketika memiliki data dan informasi rencana tekhnologi perusahaan, membaca dan memahami arah perubahan strategi produksi perusahaan.

Serikat Pekerja/Buruh termasuk pekerja harus bersikap proaktif daripada reaktif, mencari inovasi baru cara berorganisasi atau dengan kata lain melakukan revitalisasi organisasi.

Terkait dengan pemberlakuan Digitalisasi Industri, menurut Iwan , pihak  Industri All Indonesia Councill (IAIC)  mengajukan beberapa rekomendasi. Di antaranya, bangun basis data profil perusahaan dan anggota,  inventarisasi perusahaan mana yang sudah melakukan digitalisasi,  rekontekstualisasi/evaluasi serikat pekerja, memasukan perubahan tekhnologi di dalam PKB secara obyektif, memanfaatkan teknologi informasi untuk memperkuat organisasi, ikuti dinamika jangan phobia. Setiap kebijakan pasti akan ada dampak positif negatif dan positif.

“Efek negatiefnya akan terjadi PHK/pengangguran/rasionalisasi harus dihindari, dialog terlebih dahulu, perhatikan hak – hak pekerja,  jika tidak bisa dihindari kompensasi harus sesuai undang undang, ” ungkapnya.

Ditambahkan Iwan Kusamawan yang juga Ketua Umum DPP SPN , terkait dengan pemberlakuan Revolusi Industri 4.0 atau Digitalisasi Industri,  pemerintah harus siapkan ruang bagi tenaga kerja yang memiliki potensi tinggi.

Tetapi terkena dampak Digitalisasi Industri.  Menjawab pertanyaan apakah Indonesia siap atau belum terkait diberlakukannya Revolusi Industri 4.0.

“Tergantung darimana cara memandangnya, menurut pandangan Serikat Pekerja/Buruh belum siap, tapi dari sisi bisnis memastikan siap, karena menguntungkan bagi pemodal alias kapitalis,” pungkas Iwan.  (E-018)***