Teknologi 4.0 Dalam Industri Mamin Oleh: YAYAT HENDAYANA

61

BAGIAN terbesar dari pengusaha makanan-minuman (mamin) belum menggunakan teknologi generasi keempat atau teknologi 4.0. Sebagian besar dari mereka masih memanfaatkan teknologi generasi ketiga atau teknologi 3.0.

Kenyataan itu didasarkan pada keterangan dari Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman (“Kompas”, 6/4).

Ketua Gapmmi itu menuturkan bahwa penggunaan industri 4.0 baru dilakukan langkah awalnya oleh 20% pegusaha mamin. Mayoritas industri mamin, terutama industri yang berskala menengah ke atas, baru menerapkan industri generasi ketiga.

Teknologi robotik dan otomatisasi proses industri, belum terlalu lama mereka gunakan. Tentu saja penggunaan teknologi keempat masih cukup jauh untuk bisa diterapkan.

Para pengusaha industri makanan-minuman itu, khususnya pengusaha menengah ke atas, tentu bukan tak ingin menerapkan teknologi generasi keempat itu dalam proses industri mereka.

Teknologi generasi keempat  adalah teknologi yang hampir seluruh roses industrinya berlangsung secara otomatis. Namun untuk penerapannya para pengusaha itu dihadapkan pada berbagai tantangan. Menurut Ketua Gapmmi, setidaknya terdapat beberapa jenis tantangan yang dihadapi oleh para pengusaha mamin untuk dapat menerapkan teknologi generai keempat itu.

Penerapan teknologi 4.0 membutuhkan sumber daya yang ketrampilannya dapat memenuhi tuntunan yang dibutuhkan oleh teknologi 4.0 yang kian canggih itu. Sekarang sumber daya manusia yang dapat mengoperasikan teknologi 4.0 itu merupakan tantangan yang tidak mudah untuk diatasi.

Belum lagi tuntutan permodalan yang harus dihadapi. Teknologi berkembang sedemikian rupa cepatnya, dan dibarengi pula dengan harga peralatan teknologinya yang melambung tinggi.

Penggunaan teknologi baru menuntut tambahan permodalan yang tidak kecil. Padahal penambahan modal itu bagi sebagian pengusaha makanan-minuman bukanlah perkara gambang.

Perbankan masih cukup sulit untuk memberkan pinjaman modal, apalagi kepada pengusaha menengah ke bawah. Kesulitan pun masih ditambah lagi dengan kurangnya pemasok untuk teknologi yang termasuk generasi keempat itu.

Tantangan yang tak kurang pula pentingnya bagi para pengusaha industri makanan dan minuman sekarang ini adalah regulasi serta koordinasi di antara para pemangku kepentingan.

Ternyata, penerapan teknologi gnerasi keempat itu, menurut Ketua Gapmmi, tidak menyebabkan berkurangnya tenaga kerja.

Artinya, pengusaha industri makanan-minuman yang menggunakan teknologi 4.0 tidak harus mengurangi jumlah tenaga kerjanya. Malah justru menambah tenaga kerja yang harus mengoperasikan teknologi baru itu.

Bagi para pengusasaha industri makanan-minuman berskala kecil yang sebagian proses industrinya masih dilakukan secara manual, ternyata tidak merasa tersaingi oleh pengusaha industri makanan-minuman berskala besar yang sudah menggunakan teknologi maju dalam proses industrinya.

Malah penggunaan teknologi 4.0 oleh para pengusaha industri makanan-minuman kelas menengah ke atas, justru akan membuat para pengusaha industri makanaan-minuman yang berskala kecil akan turut berkembang.

Hal itu disebabkan karena masih banyaknya proses industri yang harus dilakukan secara manual yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi secanggih apapun.

Dalam mengolah rasa misalnya, teknologi maju belum mampu mengimbangi kepekaan nanusia dalam menentukan rasa makanan atau minuman.

Hal itu berarti, penerapan teknologi generasi keempat dalam industri makanan-minuman bukanlah ancaman bagi para pengusaha industri makanan-minuman berskala kecil.

Spesifikasi makanan atau minuman yang disebabkan oleh penggunaan teknologi 4.0 akan menyebabkan dibutuhkannya spesifikasi lain yang dapat dilakukan oleh para pengusaha industri makanan-minuman berskala kecil.

Namun penerapan teknologi 4.0 dalam industri makanan-minuman dihadapkan kepada persoalan penambahan modal yang tak mudah dilakukan.

Investasi usaha dalam upaya penerapan teknologi generasi keempat atau teknologi 4.0 itu haruslah besar karena harga teknologinya yang tidak kecil.

Itulah tantangan utama yang dihadapi, yang bagaimanapun harus tetap diusahakan untuk diatasi karena penerapan teknologi baru dalam proses industri adalah suatu keniscayaan yang tak mungkin bisa dihindari.***

Dr. Yayat Hendayana

adalah dosen program

sarjana dan pascasarjana Unpas.