Museum Bale Panyawangan Diorama Nusantara Rangkuman Perjalanan Peradaban Sejarah Purwakarta

48

Bila ingin melihat rekam jejak peradaban suatu daerah berkunjunglah ke museum . Ungkapan itu sering sekali kita dengar.Peradaban Jawa Barat sangat penuh dengan warna,mulai dari peradaban masa prasejarah hingga masa sejarah.

Namun tahukah anda ,  di Kabupaten Purwakarta terdapat juga sebuah museum yang merangkum perjalanan peradaban daerah Purwakarta. Museum ini bernama Museum Bale Panyawangan Diorama Nusantara.Sebelum melihat langsung museum , sebaiknya mengetahui pengertian museum.

Secara etimologis museum berasal dari bahasa Yunani klasik. Dalam bahasa Yunani Klasik museum berasal dari kata “Muze”. Muze merupakan kumpulan 9 dewi sebagai lambang dari ilmu dan kesenian.

Berdasarkan arti dari kata tersebut , maka museum dapat dijelaskan sebagai tempat yang digunakan untuk menyimpan benda-benda kuno (bersajarah) tujuannya agar dapat dilihat dan pelajari  untuk menambah wawasan dan menjadi tempat berekreasi.

Pengertian museum  secara terminologis menurut A.C. Parker , salah seorang ahli permuseuman Amerika , bahwa museum dalam pengertian modern adalah sebuah lembaga yang secara aktif menjelaskan dunia, manusia dan alam.

Sedangkan menurut Douglas A. Allan, museum merupakan sebuah gedung yang di dalamnya menyimpan kumpulan benda-benda untuk penelitian studi dan kesenangan.

Pengertian museum dalam advanced dictionary adalah sebuah gedung yang di dalamnya di pamerkan benda-benda yang memiliki nilai seni, sejarah, ilmu pengetahuan dan sebagainya

.Berdasarkan beberapa pengertian museum , maka dapat dijelaskan museum adalah suatu tempat atau lembaga yang mengumpulkan, menyimpan dan memamerkan benda-benda yang dapat menjadi sumber pengetahuan  sejarah, kesenian, ilmu alam dan lain-lain.

Saat memasuki Museum  di Gedung Kembar pusat Kota Purwakarta,ucapan selamat datang dalam bahasa Sunda diucapkan oleh para petugas dengan ramah.Kenyaman merupakan hal yang ditekankan oleh pengelola Museum agar para pengunjung nyaman menikmati berbagai koleksi yang ada.

Bale Panyawangan adalah sebuah museum yang awalnya dibuat hanya untuk menjelaskan sejarah Purwakarta dan diresmikan pada 21 februari  2015.

Bale sendiri artinya tempat, dan Panyawangan artinya kembali ke masa lalu. Kemudian, dibuatkan Diorama Nusantara dengan isi sejarah di Indonesia secara umum.

Diorama Nusantara  diresmikan oleh Menteri Kemenko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan pada Maret 2017.Museum yang memuat informasi seputar sejarah dan budaya Indonesia.

Soal sejarah, disini disajikan cerita dari jaman prasejarah, penjajahan hingga masa kini. Soal budayanya, ada beragam informasi yang disampaikan, mulai dari rumah adat, tarian, bahasa, alat musik hingga kuliner khas dari 34 propinsi yang ada di Indonesia.

Museum ini menyimpan sembilan kisah besar pada sembilan ruangan museum. Di sana terdapat koleksi wayang golek, sejarah kerajaan Sunda, Indonesia, hingga Purwakarta dibuat interaktif.

Di samping koleksi wayang golek juga terdapat  permainan interaktif pakaian khas Sunda serta foto interaktif bersama Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Yang unik tempat ini dilengkapi dengan sensor. Ketika Anda berdiri di depan layar besar dengan jarak tertentu, sensor akan membacanya.Bale Panyawangan Diorama buka setiap hari, Senin – Jumat dari pukul 09.00-15.00 WIB.

Sedangkan saat weeknd Sabtu-Minggu Buka dari pukul 09.00-13.00 WIB.Museum ini terlihat seperti rumah sederhana didominasi warna putih dan terdapat nama Bale Panyawangan Diorama Nusantara.

Ciri unik dari museum ini adalah penamaan setiap ruangannya yang mengambil nama pulau di negeri nusantara, sebut saja Bale Jawa, Bale Sumatera, Bale Bali dan lainnya.

Lobi gedung ini termasuk dalam Bale Jawa yang dilengkapi dengan video layar lebar berupa ucapan selamat datang dari Kang Dedi, Bupati Purwakarta, serta backsound ucapan selamat datang dalam berbagai bahasa daerah.

Museum yang terletak di jantung Purwakarta itu menawarkan pengalaman baru bagi pengunjungnya, mulai teknologinya higga pengetahuan, dari zaman kerajaan Sunda hingga sekarang.

Menariknya, museum ini sangat ramah anak, bahkan bagi anak yang belum bisa membaca. Di sini seluruh naskah dibuat digital sehingga anak-anak cukup untuk mendengarkan saja.

Kecanggihan Museum ini terlihat dari pertama pengunjung masuk. Pengunjung akan disuguhi interactif book yang menyajikan sejarah tatar Sunda. Siapapun bisa membaca dari jarak jauh, atau cukup dengan mendengarkan saja.

Saat buku dibuka, sensor secara otomatis membuat audio membacakan isi halaman tersebut disertai dengan gambar animasi yang menarik dan hidup. Hal tersebut membuat anak-anak yang belum bisa membaca akan lebih mudah memahami sejarah. Gedung ini dibagi menjadi sembilan ruangan :

  • Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, menyajikan Sejarah Tatar Sunda.
  • Bale Prabu Niskala Wastukancana, merupakan hall of fame yang menampilkan sosok para pemimpin Purwakarta
  • Bale Prabu Dewaniskala, menggambarkan Purwakarta pada masa pengaruh Mataram, VOC dan Hindia Belanda dalam rentang waktu tahun 1620-1799
  • Bale Prabu Ningratwangi, menyajikan Purwakarta pada masa Hindia Belanda tahun 1800-1942
  • Bale Prabu Jayaningrat, menampilkan gambaran Purwakarta pada masa pergerakan nasional dan  pendudukan Jepang
  • Bale Prabu Ratudewata, menyajikan keadaan Purwakarta pada masa kemerdekaan 1945-1950, dimulai dengan Peristiwa Rengasdengklok, dan pada jaman Demokrasi Liberal tahun 1950-1959
  • Bale Prabu Nilakendra, menampilkan Purwakarta pada masa Demokrasi Terpimpin 1959-1967
  • Bale Prabu Surawisesa, menyajikan Purwakarta pada masa pemerintahan 1968-1998, serta Era Reformasi 1998 hingga sekarang.
  • Bale Ki Pamanah Rasa, memberikan gambaran “Digjaya Purwakarta Istimewa” tahun 2008-2018.

Di antara beberapa ruangan, terdapat ruangan yang paling disukai anak-anak. Lokasinya di belakang Museum atau dekat pintu keluar. (E-001) ***