Agung Sudjatmoko, Membangun Bangsa dengan Adil dan Merata

97

Menapaki perjalanan hidup seseorang yang menarik untuk diceritakan atau ditulis dalam sebuah biografi, dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Tokoh kita ini merupakan seorang aktivis kampus pada era tahun 80-an sampai pertengahan tahun 90-an. Dia adalah sosok yang memiliki sikap optimistis, santun dan sopan, serta mempunyai banyak pengalaman dalam bidang perkoperasian di tanah air.

Saat ini Agung Sudjatmoko memiliki tanggungjawab sebagai Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia. Banyak pemikiran dan konsepnya yang telah dikembangkan untuk membangun koperasi yang modern.

Bersama dengan Pimpinan Dekopin lainnya, ia menggagas koperasi menjadi pilar negara pada tahun 2045, saat bangsa Indonesia mencapai 100 tahun Kemerdekaan.

Koperasi sebagai suatu perusahaan yang dimiliki oleh anggota, mempunyai tujuan untuk mensejahterakan anggotanya.

Anggota koperasi menurut Agung, mempunyai peran ganda sebagai pemilik, yang diwujudkan dalam tanggung jawab untuk membayar simpanan pokok dan wajib, sebagai modal  untuk menggerakkan usaha koperasi, dan harus seiring dengan fungsi anggota sebagai pengguna atau pelanggan usaha koperasi.

Anggota koperasi mempunyai kewajiban membeli atau meminjam di koperasinya, sebab jika anggota menggunakan usaha koperasi, maka hal ini akan memupuk keuntungan bagi koperasi dalam bentuk SHU (Sisa Hasil Usaha), yang kemudian akan dibagikan kepada anggota.

 “Koperasi sebagai suatu perusahaan, harus menjadi pelaku usaha yang besar, kuat, mandiri dan profesional,” ujar Agung .

Dikemukakan pula oleh Agung bahwa,  perekonomian bangsa saat ini didominasi oleh pemilik modal atau ekonomi kapitalis, walaupun berdasarkan konstitusi harus menganut azas kesejahteraan sosial, sesuai pasal 33 atau ekonomi Pancasila. Keadilan ekonomi atas penguasaan asset belum terjadi.  UKMK mendominasi jumlah, tetapi belum memberikan kontribusi optimal pada PDB nasional.

Kondisi ini akan menyebabkan ketimpangan ekonomi, pendapatan dan ekselerasi pembangunan ekonomi atas wilayah / kawasan, seperti di desa dan kota, maupun wilayah bagian timur, tengah dan barat di pulau Jawa dan luar Jawa.  Untuk itu, peran negara untuk mengatur keadilan dan keseimbangan ekonomi harus dikembalikan dan diwujudkan.

Sistem kartel / monopoli oleh pemodal juga harus dihilangkan, distribusi penguasaan asset harus dilakukan, dan kemudahan akses ekonomi bagi UKMK harus ditingkatkan, karena model pembangunan seperti ini akan bisa mempercepat pemenuhan kesejahteraan rakyat.

Menurut Agung , Koperasi sebagai pelaku ekonomi telah menunjukkan perkembangan yang baik. Kontribusi koperasi ke PDM naik, dari 1,7% pada tahun 2014 menjadi 3,99% pada tahun 2017.  Jumlah koperasi yang aktif juga telah mencapai   70%, atau sebesar 150.000 dari 208.000 unit koperasi.

Volume usahanya  mencapai Rp 266 triliun, dengan perolehan SHU sebesar Rp 7,7 triliun. Jumlah anggota perorangan koperasi mencapai angka 26 juta . Jumlah yang cukup besar,  dan ini perlu ditingkatkan peran serta aktiftas usahanya.

Koperasi sebagai pelaku usaha menghadapi era perubahan yang sangat cepat, sehingga harus melakukan pula beberapa langkah cepat, antara lain, harus lebih fokus mengembangkan usaha untuk memenuhi kebutuhan anggota, bahkan harus diarahkan melalui sistem korporasi besar. Kemudian, memodernisasi manajemen, supaya bisa menarik para profesional untuk mau mengembangkan usaha dan organisasi koperasi

. Juga memanfaatkan IT dan sistem aplikasi dalam mengelola koperasi, melakukan kerjasama usaha, serta harus tetap menjalankan prinsip dan nilai koperasi secara konsisten, karena inilah yang merupakan dasar kehidupan folosifis koperasi.

Kesenjangan dan pengangguran

Lebih lanjut Agung mengungkapkan bahwa, di negara kita masih banyak masalah kebangsaan, kemiskinan, kesenjangan social dan pengangguran.  Ketiga masalah mendasar tersebut, menyebabkan ketimpangan penguasaan aset serta sumber ekonomi antar kelompok masyarakat.

Pada sisi ini, negara harus hadir dengan program yang lebih masif dan kongkrit, seperti meningkatkan investasi untuk membuka pabrik yang bisa memberi lapangan kerja, mempermudah akses pembiayaan dan teknologi bagi usaha kecil serta koperasi.

Menata tata niaga dengan mengurangi sistem monopoli / kartel perdagangan, mengembangkan inovasi serta kreatifitas produk berbahan baku lokal, dan membangun pusat-pusat pengembangan keterampilan dan usaha untuk meningkatkan keterampilan pemuda.

Agung Sudjatmoko yang lahir dari keluarga sederhana  di wilayah Kabupaten Pacitan – Jawa Timur, adalah anak dari pasangan Soerahmin dan  Ponatin.

 Ia menghabiskan waktu kecilnya di kampung halaman.  Setelah selesai pendidikan menengah di Pacitan, Agung Sudjatmoko melanjutkan pendidikan di Fakultas Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan lulus tahun 1995.

Tahun 2008, ia sempat menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana Magister Manajamen (MM) di FE Universitas Krisnadwipayana Jakarta dengan hasil sangat memuaskan.

“Saat ini, saya sedang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Manajemen pada Universitas Pasundan Bandung. Alhamdulillah, disertasi saya tinggal menunggu sidang terbuka untuk meraih gelar Doktor ilmu manajemen,”  tuturnya kepada BB, Sabtu ( 21/04/18) di Bandung.

Semasa kuliah di Kota Solo,  Agung aktif di berbagai organisasi kampus di antaranya, Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UNS, dan Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMA-PBS).

Pergulatan di bidang kemahasiswaan dan usaha di KOPMA inilah yang telah membawanya  terus mengembangkan kemampuan orgnaisasinya sampai ke tingkat nasional. Semenjak kuliah,  Agung berusaha untuk mandiri.  Berawal dari idenya bersama teman-teman di Solo.

Maka pada tahun 1992 ia mendirikan Bimbingan Belajar KMA UNS, dan terus berkembang menjadi kursus komputer, Institut Pengembangan Kewirausahaan dan Kejuruan Indonesia (IPKKI), sampai akhirnya di tahun 2000 Agung mendirikan Politeknik Surakarta yang mempunyai 3 jurusan, yakni,  Mesin Industri, Otomotif, dan Elektro.

Tahun 2008, Agung Sudjatmoko bersama teman-teman di Yayasan IPKKI mendirikan SMK Teknosa, yang membuka jurusan Teknik Informatika. Tahun  2005-2007,  Agung  menjadi konsultan di Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, khususnya bidang pemberdayaan masyarakat, melalui pendidikan nonformal.

Kiprah sebagai konsultan di Kemendikbud RI berlangsung sampai tahun 2014, dan terakhir ia menjadi konsultan program Paket B di Direktorat Pembinaan SMP Kemdiknas. Mulai tahun 2015 sampai sekarang, Agung Sudjatmoko menjadi Founder Forbis Indonesia, Pimpinan Dekopin Pusat dan wirausaha.

Untuk kiprahnya di tingkat nasional, Agung Sudjatmoko  terpilih menjadi Anggota Pengawas Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO) pada tahun 1996. Kegiatannya di Kopindo terus dijalani hingga menjadi anggota Pengawas, Ketua Bidang PSDM, Sekretaris Umum, dan terakhir menjadi Ketua Umum.

Selain itu, Agung juga aktif menjadi Pengurus Paripurna DEKOPIN (1999 – 2014), dan juga sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi (2009-2014), sekaligus menjadi  Ketua Harian.

Selain di gerakan koperasi, Agung  juga aktif di Pengurus Pusat KMA PBS sebagai Wakil Sekjen, juga sebagai anggota Dewan Pakar, dan sekarang sebagai Direktur Pengembangan Kewirausahaan di organisasi tersebut.

Agung Sudjatmoko pernah menjadi Direktur LPM IPKKI Jakarta, yakni lembaga yang menyediakan pelatihan manajamen, kewirausahaan, pengembangan motivasi serta informasi dan teknologi. LPM IPKKI Jakarta  menjalin kerjasama dengan beberapa BUMN untuk melaksanakan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL).

Saat ini Agung Sudjatmoko tinggal di Jakasampurna – Bekasi, bersama istrinya (Laksmi Wulandari) yang merupakan seorang pegawai  Bank Pemerintah, dan 2 orang anaknya.

Yakni Hanifa Rizkya Ortavian mahasiswi S1 manajemen di FEB UNS Solo, dan M. Rafif Nugrahadi Guritno yang masih duduk di kelas IX SMP Islam Al Azhar 6 Jakapermai – Bekasi.

Agung Sudjatmoko mempunyai prinsip hidup “mengalir, tetapi tidak hanyut dan memberikan banyak manfaat untuk memberdayakan sesama”.

Moto hidupnya ini diilhami oleh perjalanan hidup dan makna kehidupannya sejak kecil hingga sekarang. Sesuai dengan agama Islam yang dianutnya, bahwa hidup itu mengalir, tetapi harus jujur, yakin dan optimis, serta mempunyai banyak teman sebagai relasi.

Ia juga mengidolakan Nabi Muhammad, sebagai nabi yang segala macam ucapan dan tindakannya dijaga oleh Allah SWT. Nabi yang sangat memperhatikan umatnya, untuk terus dan tetap menjaga keimanannya pada Allah. Seorang nabi yang paling akhir, yang syafaatnya akan diterima oleh umat sampai akhir zaman.

Selain itu, Agung juga mengidolakan Bung Hatta, salah satu Bapak Proklamator yang hidup sangat sederhana, walaupun ia adalah tokoh yang memerdekakan bangsa Indonesia.

“Selain Bapak Koperasi, Bung Hatta  juga merupakan Bapak Kedaulatan Rakyat, yang ide dan gagasannya dicurahkan untuk membangun bangsa ini secara adil dan merata. Ia adalah tokoh bangsa yang santun, halus budi dan sangat menghormati orang lain.  Hampir seluruh hidupnya digunakan untuk memikirkan bangsa Indonesia agar maju, adil, dan makmur,” pungkas Agung.   (E-018)***