Cireundeu pun Tergusur? Dewi Tapa yang Terusik

21

KEHIDUPAN  yang tenteram dan damai di perkampungan Cireundeu, Cimahi, sejak April 2018 ini, mulai terusik.

Warga yang dikenal sebagai penghuni kampung adat degan segala kearifan lokalnya, harus menghadapi kenyataan, menjadi korban pembangunan. Lahan perbukitan yang ada di atas kampung “penunggu lingkungan” itu , mulai diterabas buldoser.

Segala macam tumbuhan yang menyuburkan kawasan Cimahi sebelah selatan itu, mulai dibabat. Lahan hijau berubah menjadi tanah cokelat.

Menurut kabar, yang ternyata belum sampai ke telinga Walikota dan para pejabat di  Pemkot Cimahi, lahan itu akan dijadikan kompleks perumahan. Agak aneh, sekali gus mengagetkan.

Di wilayah pemetrintahan kota sekecil Cimahi saja terjadi alih fungsi lahan dari kawasan terbuka hijau menjadi kompleks perumahan, luput dari perhatian pemerintah. Di tepi kota  sebelah selatan itu ada sebuah kampung adapt bernama Cireundeu.

Di sekitar kampung itu ada lahan yang merupakan lahan terbuka hijau yang ditumbuhi berbagai macam tumbuhan. Lahan tersebut pernah tergusur longsor sampah TPA Leuwigajah. Korban jiwanya cukup banyak. Karena itu kawasan tersebut ditetakan sebagai lahan terbuka hijau.

Alam yang kembali hijau dan rimbun setelah tergerus longsor, menjadi penunjang keberadaan Kampung Adat Cireundeu. Kampung itu satu-satunya di Indonesia yang berada di wilayah perkotaan.

Alam dan kehidupan warganya bersinggungan sangat rapat dengan manusia dan lingkungan kota.

Namun warga Cireundeu sama sekali tidak terusik dengan ingar bingar modernis.Warga Cireundeu merupakan warga kota yang tetap memegang kearifan lokal warisan leluhurnya.

Kearifan lokal yang paling menonjol dan menjadi ciri utama kampung adat itu ialah kebiasaan konsumsinya. Mereka tidak pernah mengonsumsi nasi beras.

Warga Cireundeu tetap sehat dan memiliki semangat kerja yang tidak kalah dari warga sekitarnya, padahal sehari-hari mereka mengonsusmi nasi singkong.

Kebiasaan itu menjadi sangat eksklusif di tengah-tengah bangsa Indonesia yang tidak pernah berpisah dengan beras.

Sekarang setelah beras mejadi masalah ekonomi, pemerintah mulai mengajak rakyat tidak tergantung pada beras. Gubernur Jabar membuat hari Rabu menjadi hari tanpa beras.

Seperti yang dilakjukan warga Cireundeu, di Gedung Sate atau Pakuan, tamu yang datang pada hari itu tidak akan disuguhi makanan yang terbuat dari beras.

Semuanya serba singkong, ubi, atau jagung. Harus kita akui, perubahan pola konsumsi itu terisnpirasi warga Cireundeu. Dari mana lagi kalau bukan dari Cireundeu?

Masalahnya warga kampung di Indonesia yang tadinya biasa makan nasi jagung, tiwul, dan sagu, sudah lama berubah menjadi konsumen beras.Baru sekarang, pemerintah berupaya mengembalikan pola konsumsi masyarakat itu ke asalnya.

Sekali lagi itu merupakan tindakan alih konsumsi yang terisnpirasi pola makan warga Cireundeu. Berkaitan dengan itu warga Cireundeu menjadi percontohan yang memiliki keunggulan diversifikasi dan intensivikasi pangan.

Bahkan Kampung Adat Cireundeu secara nasional ditetapkan sebagai Desa Wisata Ketahanan Pangan atau yang dikenal dengan sebutan Dewi Tapa. Ketetapan  itu dikeluarkan Pemkot Cimahi yang didukung Pemprov Jabar dan pemerintah pusat.

Amat disayangkan apabila atas nama pembangunan dan modernisasi, Kampung Adat Cireundeu harus menjadi korban.

Kampung itu merupakan milik kita yang unik dan menginspirasi bangsa ini dalam hal pemeliharaan lingkungan, budaya, dan kearifan lokal. Kearifan lojkalitu merupakan salah satu tolok ukur tegaknya jatidiri bangsa ini.

Entah kalau ada skenario besar, mengubah semua tatanan kehidupan bangsa Indonesia menjadi warga supermodern.

Kehidupan supermodern bercirikan, antara lain, menjadi budak teknologi,  penggusuran budaya, kearifan lokal, sopan santun, pemeliharaan lingkungan hidup, bahkan menafikan ajaran agama. Kita berharap menjadi masyarakat maju yang serba modern tetapi tidak kehilangan jatidiri. ***