Gelar Musik Warnai Aksi “May Day”

17

BISNIS BANDUNG- Pemerintah  diminta berani  guna  berikhtiar menyejahterakan buruh yang  kerap menjadi persoalan tahunan, terutama terkait  UMK/UMR  atau pemberian upah yang selalu dikaitkan pada patokan minimalis.

Selama ini  buruh mendapat tambahan pendapatan dari upah minimum kabupaten/kota (UMK)  yang disesuaikan berdasarkan pertumbuhan ekonomi.

  Akan tetapi , kenyataannya tidak bisa menjadi acuan lantaran dinilai rentan. Sebab pertumbuhan ekonomi selalu mengalami perubahan  yang dapat mengganggu stabilitas upah buruh manakala menjadi acuan.

“Ini menjadi persoalan, formula di PP terkait dengan perhitungan upah yang mesti direvisi. Mengapa kita pelit untuk buruh. Jangan-jangan pakai pola pola standar minimal, naikkan saja ke angka yang lebih layah,”  ujar Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar, Yomanius Untung kepada wartawan, pekan ini.

Ia  menyinggung sistem percobaan dan standar kemampuan yang dilakukan beberapa perusahaan.

Di sini  adanya perusahaan yang menetapkan status tetap dan tidak tetap pada karyawan-karyawan tertentu karena perusahaan mendapatkan proyek yang tidak stabil, tetapi hal tersebut bukanlah alasan karena selama ini perusahaan masih mampu terus berjalan.

Menurutnya, adanya status karyawan tetap dan tidak tetap berdampak pada masa depan buruh.

Sebab, setiap tahun buruh harus dihadapkan pada perpanjangan kontrak kerja yang selalu dilakukan perusahaan tiap enam bulan atau satu tahun sekali. Tentunya, hal tersebut juga berdampak terhadap kesejahteraan dan kenyamanan karyawan dalam melakukan pekerjaan.

“Ini yang kemudian perlu ada ketegasan pemerintah kita, bahwa kalau sekarang susah begitu ya segera dorong, jangan kemudian buruh tidak memiliki kepastian masa depan,” kata dia.

Gelar  musik

Aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Bandung dimeriahkan oleh penampilan grup musik yang berasal dari anggota Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Barat

Setelah melakukan aksi konvoi dari Cikapayang, Kantor DPRD Jabar, dan berakhir di Gedung Sate. mereka kemudian menggelar orasi di depan Gedung Sate menuntut hak-hak pekerja.

Di tengah-tengah aksi, grup band yang dinamai Baromil (Barisan Orkes Militan) kemudian memulai penampilan musiknya dengan menyanyikan enam lagu perjuangan di atas mobil komando yang terparkir di depan halaman Gedung Sate.

Salah satu anggota KASBI sekaligus vokalis Baromil, Sutrisna mengatakan, seluruh anggota grup band tersebut seluruhnya merupakan anggota serikat pekerja KASBI.

“Band ini memang dibikin untuk anggota kita untuk menghibur, murni dari anggota KASBI, juga dari kesadaran dari para personil buat internal menghibur anggota yang sudah kelelahan,” ujar Sutrisna pada acara may day.

Menurut dia, dalam peringatan may day kali ini Baromil membawa lengkap seperangkat alat musik mulai dari gitar, drum, bas, serta alat perkusi. Saat musik mulai menggema, anggota KASBI yang sebelumnya terlihat kelelahan dan hanya duduk di trotoar jalan Diponegoro langsung berdiri dan bernyanyi bersama.

Di samping penampilan musik, kata dia, KASBI tetap menuntut hak-hak pekerja seperti pencabutan PP 78/2015 Tentang Pengupahan yang dianggap pro upah murah dan mengeksploitasi tenaga buruh, dan penghapusan outsourcing.

“Tolonglah cabut PP 78 karena isinya menyengsarakan kaum buruh, outsourcing, karena itu tuntuan yang tidak bosan-bosannya yang kami suarakan sejak 2003. Sangat menyengsarakan buruh juga petani,” katanya.

Koordinator KASBI Jawa Barat, Sudaryanto mengatakan, beberapa poin yang menjadi tuntutan para buruh dalam May Day kali ini menuntut perusahaan berlaku adil dengan memenuhi setiap haknya.

“Tuntutan kami masih sama, soal upah buruh yang masih sangat rendah, tidak ada kepastian kerja dengan penerapan sistem kontrak saat ini sehingga rentan PHK,” katanya seraya menambahkan para buruh menuntut penghentian kriminalisasi. (B-002)***