“Lahang” Minuman Suplemen Tradisional Asli Indonesia

29

Generasi sekarang mungkin kurang banyak mengenal “lahang”, minuman  era tahun 70-an hingga 90-an yang populer dikalangan masyarakat. Umumnya para penjual “lahang” menjajakan dagangannya pada pagi  atau sore hari.

Minuman yang berasal dari hasil sadapan pada tangkai pohon  aren , juga dijadikan sebagai bahan baku  gula aren.Sensasi yang dirasakan bila kita meminum lahang adalah rasanya yang segar dan manis.

Minuman bisa dikatakan sebagai minuman isotonik khas Indonesia karena bisa ditemui di seluruh Indonesia,namun sangat identik dengan minuman khas tanah Pasundan.

Hal ini bisa dimaklumi karena pada masa awal tahun 2000an kita bisa dengan mudah menemukan para penjual “lahang” wara wiri di sejumlah wilayah Jawa Barat.

Merunut keterangan, untuk mendapatkan air lahang siap minum harus melalui proses yang lumayan panjang.Para petani penyadap pohon aren biasanya melakukan kegiatannya pada pagi  dan sore hari.

  Penyadapan yang dilakukan pada pagi hari, hasilnya diambil sore harinya sambil memasang lodong baru untuk diambil keesokan harinya. Apabila bunga jantan terlihat mekar, tandan bunga jantannya dipotong  tepat pada ruas paling ujung.

Jika pada tandan bunga jantan yang telah dipagas, niranya akan terus menetes sampai keesokan harinya, berarti nira sudah siap untuk disadap. Selanjutnya tandan bunga jantan dibersihkan dari buih dan disayat 1-2 mm setiap hari untuk memperlancar keluarnya nira.

Konon pada kondisi tertentu air dari bunga jantan pohon aren ini bila terlambat disadap akan berubah menjadi cuka atau tuak. Pohon dari bunga yang akan disadap akan sangat baik bila sudah berusia 5 tahun.

Kemudian ujung tandan bekas pemotongan dibungkus dengan daun waluh gedè (Cucurbita pepo) atau ijuk (Arenga pinnata (Wurmb.)  Jika nira yang keluar keesokan harinya semakin banyak, maka pembungkusnya sudah bisa dilepas dan diganti dengan lodong yang diikatkan pada tandan daun.

Sebelum mengganti dengan lodong, buih-buih yang terdapat disekitar tandan yang telah dipotong dibersihkan kembali.

Agar diperoleh nira yang baik, lodong yang akan dipakai  dicuci terlebih dahulu dengan air yang mengalir, kemudian diasapi  menggunakan bara api kayu bakar sampai lodong terasa panas dan kering. Proses tersebut dikenal dengan istilah digorok.

Selanjutnya dimasukkan raru, biasanya berasal dari daun-daunan, seperti daun togog (famili Moraceae), daun jambu air (Syzigium aquea Burn.f.), daun manggis (Garcinia mangostana L.) dan pucuk awi tali (Gigantochloa apus (J.A & J.H. Schultes) Kurz.).

Raru  berasal dari bahan sintetis , serupa sabun batangan. Raru diartikan sebagai obat atau bahan pengawet untuk mencegah agar nira tidak menjadi asam.

Untuk mencegah masuknya kotoran seperti debu dan semut, biasanya celah di antara tangkai bunga aren dan mulut lodong disumbat dengan ijuk. Sedangkan utuk mencegah masuknya air hujan, di atas mulut lodong diberi atap dari kakaban ijuk atau karung.

Pada masa lalu, “lahang” dijajakan pedagangnya keliling kampung  dengan berjalan kaki dengan  cara dipikul, diletakkan dalam sebuah bambu besar disebut lodong, dan disajikan dengan menggunakan gelas yang juga terbuat dari bambu .

Pada masa sekarang sangat sulit menjumpai pedagang “lahang”,namun dibeberapa daerah pedesaan di Jawa Barat kita bisa menjumpainya,meskipun tidak banyak.Tidak hanya segar, wanginya yang khas juga kian membuat penikmatnya terlena dengan kenikmatan “lahang”.

Selain menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat kelelahan, kandungan gula dan kalori pada lahang bisa menambah tenaga penikmatnya dan mengembalikan kesegaran tubuh yang sudah kelelahan. Air lahang memiliki khasiat dan bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Seperti diabet dan penyakit lain.Minuman ini bisa menjadi obat berbagai penyakit, mulai dari penyakit ginjal, jika seseorang habis operasi minum ini sangat bagus, karena  sari pohon aren ini berhasiat cepat menyembuhkan luka. (E-001) ***