Prof.Dr. H. Memen Kustiawan, SE.Ak.CA. M.Si.M.H., Doa Sang Ayah, Inginkan Dirinya Jadi Guru

98

Prof.Dr. H. Memen Kustiawan, SE.Ak.CA. M.Si.M.H., lahir di Sumedang 21 Mei 1970, berprofesi sebagai Guru Besar Ilmu Akuntansi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Suami dari Hj. Siti Hadijah (45) ini, menyelesaikan pendidikan S1 Akuntansi STIE YPKP (1994), S2 dan S3 Ilmu Akuntansi UNPAD (1999 dan 2005), Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk) Universitas Widyatama (2007), serta S2 Ilmu Hukum STHB (2017).

Pengalaman bekerja dimulainya pada tahun 1994, yakni pada Kantor Akuntan Publik di Bandung. Prof. M. Kustiawan bekerja sebagai dosen sejak 1 Agustus 1995, yakni sebagai Dosen Tetap STIE YPKP sampai tahun 2003.

Jabatan fungsional dipegangnya sejak tahun 1996, yakni sebagai Asisten Ahli Madya, kemudian sebagai Asisten Ahli pada tahun 1998, Asisten Ahli (Infasing) pada tahun 1998, dan menjabat sebagai Lektor di tahun 2002.

Pada tanggal 1 Desember 2003, Prof. M. Kustiawan pindah ke UPI sebagai CPNS pada Program Studi Ilmu Akuntansi FPIPS UPI, dengan jabatan fungsional sebagai Lektor (2005).

Kemudian sebagai Lektor Kepala (2009), dan jabatan Guru Besar pada Program Studi Ilmu Akuntansi FPEB UPI yang diraihnya 20 tahun kemudian, sejak ia ditetapkan sebagai Asisten Ahli Madya pada 1 November 1996.

Tahun 2005-2008, Prof. M. Kustiawan mendapat kepercayaan dari Rektor UPI (Prof.Dr. H.M. Fakry Gaffar, MEd.) sebagai Koordinator Bidang Audit Keuangan SAI UPI. Pada tahun 2008 ia juga mendapat amanah dari Rektor UPI (Prof.Dr. H. Sunaryo Kartadinata, MPd.) untuk menjabat sebagai Direktur Direktorat Keuangan UPI tahun 2008-2012 dan tahun 2012-2016.

Prof. H. M. Kustiawan mengaku bahwa, inspirasi untuk menggeluti profesi sebagai akademisi disebabkan karena, ia mempunyai hasrat dan keinginan yang kuat untuk dapat menuntut ilmu sampai jenjang tertinggi.

Dan untuk mencapai itu semua, hanya posisi sebagai akademisi yang paling memungkinkan, walaupun awalnya, ketika melamar sebagai dosen, ia merasa kurang percaya diri, karena merasa kurang berbakat untuk bisa mentransfer knowledge kepada anak didik.

“Alasan kurang percaya diri itulah, yang menyebabkan saya menolak saran ayah saya untuk sekolah PGA atau SPG, setelah lulus MTsN Ujungjaya Sumedang.

Kemudian, untuk kedua kalinya ayah meminta saya agar menjadi seorang guru, dengan mendaftar UMPTN untuk masuk IKIP. Tetapi saya malah mendaftar ke STAN Jakarta namun gagal. Mungkin karena tidak direstui oleh orang tua. Akhirnya saya kuliah di STIE YPKP.

Ketika saya masih ragu-ragu untuk melamar posisi dosen, saya mendapat motivasi dan arahan dari dosen saya, yakni Dr. H. Deddy Supardi, Ak. (Alm.), yang saat itu menjadi rekan (partner) saya semasa  di Kantor Akuntan Publik, yang juga sebagai Ketua STIE YPKP.

Berkat dorongannyalah, akhirnya saya bertekad bulat untuk melamar menjadi dosen. Dan tanpa disadari, posisi yang dilamar itu merupakan wujud do’a ayah agar saya menjadi seorang guru,” tutur Prof. M. Kustiawan akhir pekan lalu kepada BB.

Hingga saat ini, Prof. H. Memen Kustiawan  sudah 22 tahun menggeluti profesi sebagai akademisi. Spesialisasinya adalah bidang akuntansi. Bidang seni mencatat, yang perlu kreatifitas tinggi dalam mendesain akuntansi, mulai dari disain sistem, merancang kebijakan akuntansi, membuat pelaporan sampai kepada seni audit.

Field Project Study dan Pengalaman Internasional yang pernah dijalaninya adalah, The National University of Singapore (NUS) 2007, Universiti Kebangsaan Malaysia 2007, National Library of Bangkok, dan SEAMEO Bangkok Thailand 2007, Osaka University, Tenri University, Nara University of Education, dan Center for National University Finance and Management of Japanese National 2010, Technische Universitat Dresden Jerman 2012, One Asia Covention Jeju 2014 di Korea Selatan, serta masih banyak yang lainnya, selain sederet penelitian yang pernah dilakukannya.

Sang Guru Besar Ilmu Akuntansi ini mengaku bahwa, di antara hasil karya ilmiah/buku yang paling berkesan bagi dirinya adalah, buku yang berjudul “Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)”, karena buku tersebut merupakan karya ilmiah yang dipresentasikan dalam Simposium Nasional Akuntansi, yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (2001) di Bandung.

Tidak pernah miliki laporan

Bagi Prof. Memen, yang paling menarik selama menggeluti profesi akuntansi adalah, ketika semua instansi pemerintah diwajibkan menyajikan laporan keuangan terkait UU Keuangan Negara No 17/2003.

“Ternyata semua instansi pemerintah (di luar BUMN/BUMD) tidak pernah memiliki laporan keuangan. Kondisi seperti itu merupakan tantangan bagi dirinya untuk berperan serta dalam membenahi tata kelola keuangan, mulai dari melakukan inventarisasi aset (stock taking), appraisal, mendisain sistem akuntansi (chart of account), kebijakan akuntansi, sampai kepada membuat laporan keuangan yang diakhiri dengan proses audit,” tuturnya.

Tapi disisi lain, ia juga pernah mempunyai pengalaman negatif, yakni ketika ia melakukan inventarisasi asset, namun ternyata hasilnya berbeda signifikan (material). Disinilah mulai terjadi sumber konflik, yang pada akhirnya terbukti bahwa, hasil perhitungan akuntan memang tepat, karena sesuai dengan prosedur audit.

Ayah dari Neneng Komalasari (22) dan Muhammad Badru Tamam (13) ini mengatakan bahwa, ia akan terus menggeluti profesi akademisi sampai akhir hayat, karena menggeluti ilmu akuntansi merupakan perintah Allah SWT (QS Al Baqarah 282-283).

Selain menggeluti profesi sebagai akademisi, Prof. H. Memen Kustiawan juga aktif sebagai Dosen Luar Biasa dan Dosen Tamu sejak tahun 1996 . Ia juga menjabat sebagai Instruktur Brevet Pajak P5 DPC Bandung – Manajemen Perpajakan (Tax Planning) 1999-2011.

Selain itu juga sebagai Tim Pelatih TOT (Training of Trainers) Akuntansi Tenaga Administrasi Sekolah Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas (Ditjen PMPTK), anggota tim Ahli Penilai Buku Perpajakan dan Akuntansi Industri pada BSNP.

Sebagai anggota IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), Pergubi (Persatuan Guru Besar Indonesia), Dewan Pakar Pusat Data dan Dinamika Umat Bidang Dakwah dan Pemberdayaan Umat Yayasan Darul Hikam Bandung Masa (2017-2020), dan masih banyak jabatan lainnya.

Pada tahun 2005-2008, ia juga sempat mendapat  tugas tambahan sebagai Koordinator Bidang Audit Keuangan Satuan Audit Internal (SAI), tahun 2008-2012, 2012-2016, serta sebagai Direktur Keuangan UPI.

Menurut analisisnya, perkembangan ilmu akuntansi berkembang terus, mulai dari  single entry ke double entry, dari menggunakan GAAP (General Accepted Accouting Principle) yang berkiblat ke Amerika ke IFRS (International Financial Reporting Standard).

Perkembangan Indonesia dari sudut pandang akuntansi sejak lahirnya UU Keuangan Negara (UU 17/2003, UU 1/2004, dan UU 15/2004) menurut Prof. M. Kustiawan, menjadi lebih transparan dan akuntabel, sehingga masyarakat dapat melihat dan menganalisis kondisi kekayaan negara, termasuk hutang / piutang negara.      (E-018)***